Bab 64

2048 Kata
"Penghayal? Woi, gue seriusan, woi!" teriak Awan sambil mengejar Ardi. "Bodoh amat," ucap Ardi. "Hah, jangan gitu dong, Di!" protes Awan. "Dasar penghayal!" ejek Ardi. "Emang kenapa? Bahkan seorang penghayal pun bisa meraih semua mimpi dan cita-citanya. Meski meraihnya juga lewat khayalan juga sih," kata Awan. "Apa gue peduli?" tanya Ardi dengan menunjukkan wajah malasnya. Di dalam perdebatan yang tidak penting itu, tiba-tiba lewatlah segerombolan anak perempuan yang Ardi dan Awan tahu mereka adalah adik-adik kelas mereka. Seperti para anak perempuan lainnya, yang mereka tanyakan adalah tentang keadaan Ardi. Kali ini Awan yang memasang wajah malas karena bosan mendengar pertanyaan itu. Namun apa boleh buat, hidup menjadi sahabat sang aktor utama memang butuh mental yang kuat. *** Terhitung sudah 10 kali lebih Ardi mendapat pertanyaan menyebalkan itu dari guru ataupun teman-temannya. Bahkan dari ia sampai di sekolahan tadi, ia belum sempat masuk kelas. Lalu bagaimana dengan Awan? Awan sudah masuk kelas terlebih dahulu sesaat setelah kejadian perdebatan yang tak penting itu. Kini akhirnya Ardi bisa mencapai ambang pintu kelasnya tanpa harus menjawab pertanyaan lagi. Terlihat di dalam kelas sana sudah nampak banyak orang. Namun apa yang diharapkan Ardi ternyata salah. Bahkan teman sekelasnya pun masih berbondong-bondong menanyakan pertanyaan yang sama, kecuali 4 lelaki yang kini sedang duduk di bangku pojok paling belakang. Mereka menanyakan sesuatu yang jauh berbeda dari pertanyaan yang lain kepada Ardi. "Loh, Ardi. Masih hidup?" tanya Bara. "Berarti siaran kematian tadi malam itu bukan lo, ya?" tanya Nando. "Gue kira lo, Di," sambungnya. "Iya, Ndo. Padahal gue udah siap-siap ngelayat," lanjut Vino. "Gue malah udah gali kuburannya, Bro," ucap Awan. Ardi menghembuskan napas pelan. Di mana-mana, ternyata mereka sama saja. Hanya membuat tekanan darah Ardi naik drastis. Di hari setelah sehari ia tidak masuk sekolah ini, ia malah mendapat sambutan yang sangat mengesalkan. Di sisi lain, meski sambutan ke empat sahabatnya itu cukup membuat Ardi kesal, tapi ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sulit mengikhlaskannya jika seandainya ia benar-benar mati. "Dasar bodoh!" gumam Ardi. Ardi berjalan pelan menuju tempat di mana tempat duduknya berada. Di samping si manusia kribo berotak konslet, lebih tepatnya di bangku paling pojok belakang. "Loh, Ardi. Kapan datang, Di?" tanya Awan. Padahal sudah cukup lama Ardi duduk di sampingnya. *** Sungguh Ardi merasa jabatan Awan sebagai manusia yang paling sering diledek telah ia rebut. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini dialah yang menjadi bahan tertawaan sahabat-sahabatnya itu. Kesal? Jangan ditanya lagi. Marah? Berarti Ardi tidak menganggap keempat orang itu sebagai sahabatnya. Tak ada yang namanya marahan, permusuhan ataupun perkelahian di dalam ikatan itu. Tak lama kemudian Bu Mita masuk ke kelas Ardi. Lagi-lagi hal pertama yang ia tanyakan adalah tentang keadaan Ardi. Tak lupa juga ia memberikan sebuah nasihat agar kejadian semacam itu tidak terulang lagi. "Iya Bu," ucap Ardi setelah menerima nasihat dari Bu Mita. "Iya apa?" tanya Bu Mita. "Saya tidak akan lagi berantem di jalanan, tapi sebagai gantinya saya akan berantem di tempat lain, misalnya di hutan ataupun di mana aja, yang penting bukan jalanan," jawab Ardi yang disambut dengan tawa kecil teman-temannya. "Eh, bukan gitu Ardi. Maksud jangan berantem di jalanan itu ya, emmm... pokoknya jangan berantem lagi, gitu aja," ucap Bu Mita. Ia sepertinya juga bingung ketika memberikan penjelasan. "Tapi saya bangga dengan kamu, Ardi. Rasa solidaritas kamu cukup tinggi dan patut diacungi jempol," lanjut Bu Mita. "Nah, anak murid saya tu, Bu," sahut Awan. "Huuuuu...!" Sontak seluruh isi kelas pun langsung menjadi sangat ramai. Bahkan Bu Mita pun sampai kesulitan untuk menenangkannya. Lagi-lagi itu karena siapa? Ya Awan. Setelah keadaan mulai tenang, Bu Mita melanjutkan perkataan yang tadi belum sempat ia katakan. Ia menyatakan bahwa hari ini akan ada murid baru yang baru pindah dari sekolah lamanya. Perempuan katanya. Jelas hal itu membuat para lelaki bersorak heboh sambil berharap bahwa murid baru itu akan secantik ekspektasi mereka, terutama si Awan. Bu Mita keluar kelas, mungkin ia mau menjemput si murid baru itu. Suasana kelas menjadi heboh lagi dengan perdebatan-perdebatan yang tidak penting. Hanya Ardi, Bara dan beberapa teman laki-laki lain yang tidak ikut heboh. Wajar saja, mereka itu adalah orang-orang yang sudah punya pacar. Namun bagi Ardi, meskipun seandainya ia tidak berpacaran dengan Syila, ataupun ia tidak pernah mengenal Syila, ia tetap tidak akan ikut-ikutan dalam perdebatan tidak penting itu. Perlu diingat lagi bahwa Ardi adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta. "Lo gak mau selingkuh, Bar?" bisik Ardi pada Bara yang berada di depannya. Bisa dibilang bangku Ardi berada di belakang bangku Bara. "Mau sih sebenarnya, tapi lo nggak lihat tuh?" ucap Bara sambil memberi isyarat lewat mata. Ardi mengikuti arah yang ditunjuk Bara lewat isyarat mata itu. Ternyata yang Bara maksud adalah si Mentari yang meliriknya tajam. Ardi langsung tersenyum kecil, seolah-olah merasa lucu dengan ketakutan Bara terhadap si Mentari. "Lo jangan selingkuh!" ucap Ardi. "Kalau lo selingkuh, hilanglah sudah si duo panas," lanjut Ardi. Keriuhan pun mendadak hilang di kala Bu Mita kembali masuk ke kelas. Di belakangnya nampak seorang gadis berambut panjang yang cantiknya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Mulut Awan terlihat menganga, mungkin takjub dengan kecantikan gadis itu. Bukan Awan saja, tapi para murid lainnya juga, terutama yang anak laki-laki. Bahkan mata Bara juga terlihat terpaku memandangi si gadis itu. Ia lupa bahwa ia punya Mentari. Padahal Memtari juga gadis yang cantik. Hanya saja mungkin dari mata si Bara, gadis yang merupakan murid baru itu lebih cantik dari Mentari. Berbagai pujian muncul dari mulut para anak laki-laki kepada gadis itu. Tak hanya anak laki-laki saja, bahkan yang perempuan pun juga mengakui bahwa ia benar-benar sangatlah cantik. Mungkin kalau dibandingkan dengan Syila, hasilnya adalah seimbang. "Luar biasa." "Perfect." Berbagai ucapan demi ucapan pun terdengar. Bisa dibilang bahwa gadis itu benar-benar telah menghipnotis para kaum lelaki dengan kecantikannya. Rambutnya yang terurai dengan terpaan angin dari kipas angin kelas itu membuat aura cantiknya semakin ketara saja. Ardi terpaku menatap gadis itu. Bukan karena ia jatuh cinta pada pandangan pertama atau apalah, tapi karena ia seperti mengenal si gadis cantik itu. Dari wajahnya, perawakannya dan gaya rambutnya. Tak salah lagi, gadis itu adalah.... "Alya Putri Senjani," gumam Ardi. Ardi terkejut ketika mengetahui bahwa teman barunya itu adalah gadis yang beberapa hari yang lalu pernah ia temui. Alya Putri Senjani. Seorang gadis cantik yang ia temui di jembatan tepat di waktu senja. "Perkenalkan nama saya Alya Putri Senjani, biasa dipanggil Alya," ucap Alya. Alya mulai memperkenalkan diri. Mulai dari nama, alamat dan lain-lain. Saat itu pula para anak laki-laki saling berbisik entah apa yang mereka bisikkan. Berbeda dengan Awan yang sedari awal hanya melongo dan tak berkata sedikitpun. Awan seperti terhipnotis karena kecantikan gadis itu. Alya selesai memperkenalkan diri. Ia pun dipersilahkan duduk oleh Bu Mita di samping seorang perempuan pendiam yang bernama Eni. Banyak lelaki yang meliriknya, tapi ia malah membalas melirik ke arah orang yang bahkan sama sekali tidak menampakkan ketertarikannya kepadanya. Orang itu adalah Jonathan Ardilan. *** "Kamu pindah ke sini?" tanya Ardi kepada Alya ketika jam istirahat. Alya menengok ke arah Ardi. Ia melihat lelaki itu sedang berdiri sambil menatapnya tajam. "Iya," jawabnya singkat. "Kamu... Ardi, Jonathan Ardilan, kan?" tanyanya. "Masih ingat, ya? Kukira sudah nggak ingat," ucap Ardi. "Mana mungkin aku bisa melupakan kamu," balasnya. "Hah?" tanya Ardi bingung. "Maksudnya, aku tidak pernah melupakan seseorang, biarpun cuma bertemu sekali," ucap Alya. "Oh." "Tu wajah kamu kenapa?" tanya Alya. "Masih kelihatan, ya? Gak apa-apa, cuma luka kecil yang tak bisa kujelaskan penyebabnya," jawab Ardi. "Hmmm... baiklah." "Cowok-cowok di sini tu, memang kayak gitu, ya?" tanya Alya. "Gitu gimana?" tanya Ardi balik. "Hufffttt... sudah 10 cowok lebih yang datang kepadaku dan memintaku buat jadi pacarnya," jawab Alya. "Hahaha, terus kamu gimana?" tanya Ardi. "Ya aku tolak, lah," sahut Alya. "Kenapa?" tanya Ardi lagi. "Ya karena aku tidak tertarik sama mereka," jawab Alya. "Lalu siapa yang membuatmu tertarik?" tanya Ardi. Alya terdiam, tak mampu untuk menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke bawah. Entah apa alasannya. Mungkin ia malu kalau harus menjawab pertanyaan dari Ardi. "Itu rahasia," ucap Alya pelan. "Hmmm... okelah. Oh ya, di antara 10 cowok itu, apa ada yang berciri-ciri berambut kribo?" tanya Ardi. "Rambut kribo? Maksudnya orang yang sebangku dengan kamu, yang katanya bernama Arawan Sinaga, orang kaya yang punya segalanya dan punya ribuan cewek yang pernah ia tolak?" tanya Alya balik. "Nah, itu," kata Ardi. "Dia itu orang pertama yang datang kepadaku dan menyatakan cintanya kepadaku," ucap Alya. "Sudah kuduga," gumam Ardi pelan. "Lalu kamu terima?" tanya Ardi. "Entahlah, gak aku jawab," jawab Alya cepat. "Dia itu aslinya baik, sangat baik malahan. Dia juga tampan nan kaya. Tapi terkadang otak dan kelakuannya itulah yang sangat membuat kesal orang lain," jelas Ardi. "Gitu ya?" Alya seperti mempertimbangkan sesuatu setelah ia mendengar pernyataan dari Ardi. Suasana sepi di kelas membuat pembicaraan kedua insan itu menjadi lebih tenang. Selain itu, biarpun cuma berdua di kelas, Ardi tak akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada gadis cantik itu. Ada banyak alasan kenapa ia tak akan pernah melakukannya, salah satunya adalah menjaga hati yang telah Syila berikan kepadanya. "Kalau gitu, aku ke luar dulu, ya," ucap Ardi. "Satu hal lagi. Jangan pernah sombong dengan sesuatu yang kau punya. Ingatlah kalau semua yang kau punya tidak ada apa-apanya di mata sang pencipta. Bahkan secantik apapun kamu, tetap saja ada yang lebih cantik dari kamu. Begitupun dengan kekayaan ataupun kepandaian. Pasti di luar sana masih banyak yang lebih kaya dan lebih pandai daripada kamu," ucap Ardi panjang lebar. "Heh, ternyata kamu itu memang orang yang puitis, ya?" ucap Alya. Ardi hanya tertawa kecil. Ardi melangkahkan kakinya untuk ke luar kelas. Namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba di depannya sudah berdiri 4 orang yang wajahnya cukup membosankan untuk ia lihat. Tak perlu dijelaskan lagi siapa nama-nama orang itu. Semuanya pun pasti sudah mengetahuinya. "Wah, lo ngapain berduaan di kelas?" tanya Bara. "Jangan-jangan...." Vino menggantung ucapannya. "Nggak usah mikir macem-macem, oon!" ejek Ardi. Di dalam keributan kecil itu, tiba-tiba si manusia berambut kribo itu maju dan berjalan melewati Ardi. Dengan senyumannya yang manis, Awan mulai mendekati tempat di mana gadis bernama Alya itu berada. "Hai," sapa Awan. "H-hai," jawab Alya. "Kamu gak diapa-apain kan sama orang itu?" tanya Awan. "Enggak kok," jawab Alya. "Kalau dia berani macem-macem sama kamu, bilang aja ke aku! Atau kamu bisa bilang langsung ke pacar tu orang, Syila namanya," kata Awan. Ardi berpikir bahwa Awan memang benar-benar menyukai gadis cantik yang bernama Alya itu. Ia tahu bahwa selama ini Awan tak pernah mengungkap identitas pacar Ardi kepada siapapun, termasuk para cewek yang ia sukai, tapi cewek itu menyukai Ardi. Cara yang digunakan Awan itu, sebuah cara yang cukup bisa membuat Alya langsung menyerah untuk mendekati Ardi. Dengan memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Alya, maka gadis itu pasti akan berpikir dua kali, meskipun belum ada yang tahu tentang perasaan Alya kepada Ardi. Apakah ia juga mencintai Ardi, ataupun menganggap Ardi hanya sebatas teman yang punya nasib yang hampir sama. "Alya kok gak ikut ke luar sama yang lain?" tanya Awan. "Ya terserah dia lah, Wan. Emang lo siapa, ngatur-ngatur," sahut Vino. "Berisik lo!" balas Awan. Ia menghadap ke arah Vino, lalu kembali lagi menghadap ke arah Alya dengan menampakkan senyumannya. "Udah jadi kebiasaanku, dari dulu memang kayak gini," jawab Alya sambil menampakkan sedikit senyumnya. "Lah, kenapa gak bilang dari tadi? Tahu gitu aku temenin kamu di sini," ucap Awan. "Hahahaha, bisa-bisa dia takut kalau lo temenin. Dikiranya ada genderuwo," sahut Nando. Awan kehilangan senyumannya. Ia sangat kesal dengan keberadaan para sahabatnya itu. Rasanya ia ingin menendang satu persatu dari mereka agar mau pergi meninggalkan dia berdua dengan Alya. "Cerewet, bisa diam, nggak?" ucap Awan sedikit emosi. Bukannya takut, malahan keempat lelaki itu mempersembahkan tawa yang sangat mengesalkan ketika terdengar di telinga Awan. Ia pun menjadi semakin geram. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengangkat sebuah kursi dan nampak berniat untuk melemparkannya ke arah di mana Ardi dan yang lainnya berada. "Eits, oke, santai Bro," ucap Bara. "Ke luar atau kalian mau kursi ini melayang dan menerpa wajah kalian. Nggak sakit kok, palingan nanti cuma masuk rumah sakit," ancam Awan. Akhirnya, mendengar ancaman Awan yang seperti itu, mereka berempatpun langsung berjalan cepat untuk meninggalkan Awan dan Alya. Sementara itu, si Alya hanya senyum-senyum ketika melihat tingkah kekanak-kanakan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN