Bab 65

2037 Kata
Selepas lolos dari kemarahan si otak konslet, Ardi pun memisahkan diri dari ketiga temannya yang lain. Ia bebas mau ke mana saja. Namanya juga manusia, bukan burung dalam sangkar. Hanya satu yang menjadi tempat terlarang untuk dia saat ini, yaitu pergi ke sebuah tempat yang gelap, dengan baju putih dan diapit oleh tanah-tanah basah. Ia tak boleh dulu berada di tempat itu, sebelum kisahnya berakhir dengan bahagia. Namun semuanya tetaplah tergantung takdir. Tak ada lagi si wanita yang selalu memanggil-manggil namanya serta membuntutinya sekarang. Terkadang Ardi juga merindukan hal itu, tapi ketika hal itu terjadi, ia malah kesal. Sella telah menyerah, tapi bukan berarti ia tak bisa dekat dengan Ardi. Semenjak ia menyatakan untuk menyerah mendapatkan cinta Ardi tempo hari, Sella malah bisa semakin dekat dengan Ardi. Namun dalam arti dekat sebagai seorang teman, bukan dua insan berbeda jenis yang saling terikat dengan kata yang bernama cinta. "Ternyata selera dari sosok bidadari itu rendah, ya?" Ardi mengucap sepenggal kalimat yang ia tujukan pada seseorang yang nampak di depan matanya. Seorang perempuan yang sedang duduk di sebuah anak tangga sambil memainkan handphonenya. Perempuan berwajah bidadari, yang tak lain adalah Syila. "A-Ardi," ucapnya tergagap sambil menyembunyikan benda kotak itu. Ardi mulai melangkah maju mendekati Syila. Dalam hati ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Syila barusan. Kenapa ia menyembunyikan handphonenya ketika melihat Ardi? "Aku bukan Ardi," ucap Ardi dengan mengeluarkan suara yang menyeramkan. Ia juga telah duduk di anak tangga yang sama tepat di samping Syila. "Di, jangan bercanda, ah!" protes Syila. "Sudah kubilang aku bukan Ardi," kata Ardi lagi. Ia menatap Syila tajam sambil memelototkan matanya. Tak ada yang tahu tentang apa yang terjadi sama Ardi. Entah dia kesurupan ataupun apa. Ia benar-benar menjadi sosok yang menyeramkan sekarang. Meskipun wajahnya masih terlihat tampan, tapi tingkah lakunya itulah yang sangat berbeda dari Ardi yang biasanya. Sangat menyeramkan, itulah yang Syila rasakan ketika berada di depan Ardi. Ada apakah dengan Ardi? Apa ia benar-benar kerasukan jin penunggu sekolahan? "Jangan membuatku takut, Di!" ucap Syila. Ia berangsut mundur menjauhi Ardi. "Aku bukan Ardi," ucap Ardi lagi. Syila semakin takut. Memang dari tatapan Ardi, ia merasa lelaki tampan yang sedang berada di depannya itu memang bukan Ardi. Ia tahu betul sifat Ardi kepadanya. Selama ini tak pernah sekalipun orang yang bernama Jonathan Ardilan itu bersikap seperti saat ini kepadanya. "Hahahaha, payah, penakut!" Di dalam suasana tegang itu, tiba-tiba hal yang tak pernah diduga-duga datang begitu saja. Hal itu pula yang membuat ketakutan Syila mendadak mereda. Namun ketakutan itu berganti dengan rasa kesal yang teramat sangat kepada sosok manusia tampan yang berada di depannya itu. Bisa-bisanya manusia itu membuat dia berada dalam kondisi takut separah itu. Saking kesalnya dia pun tak berpikir dua kali lagi untuk menyerang Ardi dengan cubitan menyakitkannya. "Aduh, aduh. Ampun, La!" pinta Ardi. "Aku minta maaf, La!" lanjutnya. Tak menghiraukan kata-kata Ardi, Syila terus melakukan serangan hebatnya itu. Mungkin balasannya ini masih belum sebanding dengan ketakutannya pada sosok Ardi beberapa saat yang lalu. Bagaimana tidak takut? Berada sendirian di tempat yang cukup sepi tanpa adanya satu orangpun yang lalu lalang di sana, dan malah ditakut-takuti seperti itu. "Udah, La. Ampun!" pinta Ardi lagi. Syila menghentikan cubitannya. Ia berganti menatap wajah Ardi dengan tatapan yang tajam nan sinis. Ia terlihat masih sangat kesal dengan manusia yang satu itu. "Makanya jangan nakut-nakutin!" ucap Syila. "Ah, payah. Penakut!" ejek Ardi. "Lagian, kamu ngapain di tempat kayak gini?" lanjut Ardi. "Ini kan tempat favorit aku," ucap Syila. Memang benar, si gadis cantik pemilik nama Asyila Amanda itu dari dulu memang sangat menyukai tempat di mana kini ia berada. Entah karena apa alasannya? Mungkin karena sepi, dan cocok untuk dibuat menenangkan diri. "Hmmm... boleh pinjam tangan kamu, gak?" tanya Ardi. "Buat apa?" tanya Syila balik. "Pinjam doang, sebentar," jawab Ardi. Tanpa pikir panjang lagi, Syila menengadahkan tangan kanannya ke depan Ardi. Ardi dapat melihat dengan jelas betapa putih dan mulusnya tangan gadis cantik itu. Namun yang menjadi sorotan utamanya bukanlah itu, melainkan benda kotak yang kini berada di telapak tangan kanan Syila. Sesuai dengan niat awalnya, Ardi langsung mengambil handphone Syila. Kini handphone itupun sudah berpindah tangan. "Eh, Ardi... balikin!" ucap Syila sambil berusaha meraih handphonenya kembali. Hanya dihadang dengan satu tangan Ardi saja, Syila sudah tidak bisa berbuat lebih banyak untuk mendapatkan handphonenya kembali. Alhasil, mau tidak mau ia pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Ardi mengecek seluruh isi handphonenya. Syila meletakkan kedua tangannya di lututnya. Tak lupa pula ia juga membenamkan wajahnya di kedua tangannya tersebut. Ia hanya menunggu, menunggu sampai Ardi selesai mengecek seluruh isi handphonenya. Dari tingkah laku Syila, sudah bisa dipastikan bahwa ada sesuatu yang sangat penting dan sangat rahasia di dalam handphonenya itu. "Syila, maukah kamu jadi pacarku?" "Maaf, aku sudah punya pacar." Ardi tiba-tiba bersuara, seolah-olah sedang membacakan sesuatu di handphone Syila. Syila juga nampak malu-malu ketika mendengarkan pacarnya itu berbicara sendiri. "Cieee... siapa nih? Nomernya gak disimpan," ucap Ardi. "Eh, ini ada lagi, dari siapa lagi ini? Aku baca, ya?" tanya Ardi. Syila semakin malu. Malahan kini ia juga terlihat manyun. Nampaknya inilah alasan kenapa ia sebenarnya tak mau Ardi tahu isi handphonenya. Karena banyak sekali cowok yang menyatakan cinta kepadanya. "Hai Syila. Aku ingin kamu tahu bahwa dari dulu aku sangat menyukai kamu. Aku ingin kamu jadi pacarku. Apa kamu mau menjadi pacarku?" "Terima kasih, ya. Tapi maaf, aku sudah punya pacar, dan aku tak akan pernah mau mengkhianatinya." "Pacar? Emang siapa?" "Dia berinisial "A" dan aku mohon jangan ganggu hubunganku dengan dia!" Ardi tersenyum. Ia tahu tentang nama lengkap dari nama inisial yang dimaksud Syila. Itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Ia juga sebenarnya tak menyangka kalau gadis cantik itu ternyata sangat mencintainya. Beruntung sekali nasib manusia tampan yang satu ini, bisa dicintai oleh seorang perempuan yang kecantikannya layaknya sesosok bidadari. "Inisial "A"? Asep? Aming? Amin? Atau Asim?" tanya Ardi menggoda Syila. "Ih ya nggak lah," sangkal Syila. "Ah, bohong. Pasti Asep nih. Ya, pasti Asep," kata Ardi. "Enggak Ardi, bukan Asep," sahut Syila. "Cieee Asep," goda Ardi. "Bukan Asep, tapi inisial "A" itu, ya Ardi," sahut Syila dengan nada bicara cepat. Gadis cantik itu langsung membungkam mulutnya dengan cepat menggunakan kedua tangannya. Kata-kata yang barusan terucap dari mulutnya hanyalah sebatas keceplosan semata, meskipun mengandung arti dari kejujuran yang sebenar-benarnya. "Bisa diulangi lagi?" ucap Ardi sambil menampakkan senyumnya. "Nggak," jawab Syila cepat. "Ayolah!" paksa Ardi. "Enggak," balas Syila. "Hmmm... ya sudahlah," ucap Ardi pasrah. "Oh... apa jangan-jangan inisial "A" itu Ardi, alias aku?" tanya Ardi. Entah otaknya siapa yang Ardi pakai saat ini. Mungkin ia tadi meminjam otaknya Awan atau bertukar otak dengan Awan dan belum sempat ia kembalikan. Sudah jelas-jelas Syila mengungkapkan bahwa inisial "A" yang ia maksud memanglah Ardi, tapi tetap saja manusia tampan itu masih menanyakannya lagi. "Aku kan, La?" tanya Ardi. "Gak tahu," jawab Syila cepat. "Pasti aku tu. Ngaku aja!" paksa Ardi. "Terserah," jawab Syila lagi. Raut wajah gadis cantik itu tiba-tiba berubah manyun. Nampaknya ia sedang merasakan kekesalan yang teramat sangat. Melihat hal itu, bukannya menghibur, Ardi malah tertawa kecil melihat gadisnya bertingkah seperti itu. Baginya, tingkah Syila yang seperti itu sangatlah lucu. "Syila," panggil Ardi. "Apa?" tanya Syila dengan tak santai. "Terima kasih," jawab Ardi. Syila menghadapkan wajahnya ke arah Ardi. Perkataan Ardi barusan benar-benar mengandung arti yang cukup ambigu baginya. Ia pun semakin penasaran di kala melihat raut wajah Ardi yang semakin serius. "Terima kasih buat apa?" tanya Syila. "Entahlah," jawab Ardi. Tak tahu mengapa si lelaki tampan ini sering sekali berbicara ambigu. *** Cinta memang bukan cuma tentang keromantisan saja. Apa yang selalu ada di dalam hati, pikiran dan perasaan serta sangat sulit untuk melupakannya, ya itulah cinta. Dalam hal ini seorang Jonathan Ardilan punya cara tersendiri untuk menunjukkan cintanya pada Syila. Ia bukan berarti tak pernah bertingkah romantis kepada Syila layaknya gaya pacaran orang lain. Ia juga bisa romantis, malahan saat ia sedang dalam mode romantis, ia seperti manusia paling romantis di muka bumi ini. Namun cara berpacarannya berbeda. Ardi benar-benar punya cara tersendiri untuk membuat Syila selalu mengingat masa-masa bersamanya. "Oh, ya. Di kelasku ada murid baru, lho," ucap Ardi membuka pembicaraan setelah sekian lama saling diam. "Siapa?" tanya Syila. "Namanya Alya. Alya Putri Senjani. Dia cantik banget, La," jawab Ardi. "Kamu suka?" tanya Syila. "Suka apa?" tanya Ardi balik. "Kamu suka sama si murid baru itu?" tanya Syila lagi. "Kalau aku sih enggak. Tapi kalau dia kayaknya iya," jawab Ardi. "Maksudnya?" tanya Syila lagi. "Iya, kayaknya dia suka sama aku," jawab Ardi. Syila menundukkan kepalanya. Ia merasa sedikit cemburu dengan pernyataan Ardi barusan. "Dia yang suka atau kamu yang suka?" tanya Syila. "Dia, La," jawab Ardi. "Bohong!" sahut Syila. "Emang sih. Siapa sih yang gak suka sama cewek secantik dia. Aku juga pasti suka, lah. Hahahaha," ungkap Ardi seraya tertawa kencang. "Emang ya, semua cowok itu sama aja," balas Syila. Syila menundukkan kepalanya untuk kesekian kalinya. Kini raut wajahnya berubah menjadi raut wajah penuh kesedihan. Ia tak pernah menyangka bahwa si manusia tampan yang merupakan pacarnya itu mengungkapkan ketertarikan dengan gadis lain tepat di depannya. Meskipun apa yang diucapkan Ardi belum tentu kebenarannya, entah dia serius atau hanya bercanda. Setelah puas tertawa, tatapan Ardi akhirnya terfokus ke Syila. Ia melihat gadis itu sudah dalam keadaan murung. Ia pun merasa bersalah atas keadaan gadisnya yang seperti saat ini. "Syila... aku ini sulit untuk mencintai seseorang, La. Orang-orang yang kucintai berarti adalah orang yang sangat spesial di hidup aku. Saat ini hanya ada 3 wanita yang sangat kucintai. Untuk sekarang dan untuk selamanya aku tak akan pernah menghadirkan cinta yang lain kecuali cinta untuk ketiga wanita itu. Ketiga wanita itu adalah ibuku, yang kedua adalah kakak perempuanku, dan yang ketiga adalah kamu," jelas Ardi panjang lebar. Lagi-lagi Ardi berhasil membolak-balikan perasaan Syila. Kini wajah Syila terlihat bahagia setelah mendengar pernyataan Ardi barusan. Hal itu bisa dilihat dari senyuman manisnya. Namun tak sampai hitungan menit, tiba-tiba senyuman Syila pudar. Biar bagaimanapun juga, Syila tetaplah Syila. Seorang wanita yang selalu jual mahal meskipun sebenarnya ia sangat suka. "Heh, dan yang keempat adalah si Lea Lea itukan?" tanya Syila. "Lea siapa?" tanya Ardi bingung. "Tu teman baru kamu," jawab Syila. "Alya, La. Hadeeehhh," ucap Ardi. "Hafal banget namanya. Pasti ada apa-apa," tebak Syila. Ardi tersenyum simpul. Ia memandang Syila sangat lekat. Entah kenapa saat ini ia merasakan aura yang jauh berbeda dari gadis cantik yang berada di depannya itu. Tak biasa-biasanya Syila bersikap seperti itu. "Bahkan makhluk secantik bidadari pun juga bisa cemburu, ya?" ucap Ardi. "Aku gak cemburu," sahut Syila. "Memangnya siapa yang bahas kamu?" tanya Ardi. "Tu, tadi," jawab Syila. "Emang kamu secantik bidadari?" tanya Ardi lagi. Syila tak bisa menjawab. Ia benar-benar dibuat terdiam seribu bahasa oleh Ardi. Lelaki tampan itu sungguh pandai dalam membolak-balikan perasaan Syila. Dari kesal dibuat bahagia. Dari bahagia dibuat kesal. Pokoknya banyak sekali perasaan Syila yang telah diubah-ubah oleh Ardi dengan mudahnya. "Kamu gak secantik bidadari, La. Kamu itu adalah makhluk yang lebih cantik dari bidadari," ungkap Ardi. Siapa sih yang hatinya tidak berbunga-bunga ketika mendapatkan kata-kata romantis dari mulut manusia setampan Ardi? Tak bisa dipungkiri bahwa hati Syila pun sebenarnya sangat berbunga-bunga. Namun sifat sok jual mahalnya itulah yang menutupi itu semua. "Satu-satunya yang pantas mendampingi makhluk yang lebih cantik dari bidadari hanyalah seorang pangeran, dan pangeran itu adalah aku," ucap Ardi. "Hmmm... rasanya kamu gak pantas deh kalau disebut sebagai pangeran," ucap Syila. "Seorang pangeran hanya mau bertarung di medan perang. Seorang pangeran tidak pernah bertarung di jalanan. Satu-satunya julukan yang cocok buatmu, ya Ardi sang petarung jalanan," kata Syila. "Ah, kan medan perangnya berada di jalanan. Itu artinya aku tetap pantes disebut pangeran," ucap Ardi. Satu keahlian lagi yang Ardi miliki. Ia selalu punya bahan untuk membantah ataupun menyangkal perkataan orang lain. Namun keahliannya yang satu ini bisa menjadi tidak berguna ketika yang ia hadapi adalah para sahabatnya itu. Bahkan Syila pun dubuat terdiam dan tak mampu menjawab perkataan Ardi lagi. Entah lelah ataupun apa, yang pasti tak ada sepatah katapun yang ke luar dari mulutnya setelah Ardi menyangkal pernyataannya. Padahal seharusnya yang selalu menang dalam hal perang mulut adalah perempuan, tapi ini malah sebaliknya. Si laki-laki lah yang memenangkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN