Bab 66

1582 Kata
Hari ini, aku dan Syila telah menambah sejarah panjang tentang kisah cinta kami berdua. Tentang bagaimana caraku untuk menunjukkan rasa cinta ke dia. Aku percaya bahwa kami berdua adalah 2 insan yang saling mencintai setulus hati. Kurasa kisah cinta kami berdua akan berjalan sangat rumit, mengingat dia yang kucinta adalah seorang wanita cantik yang pastinya mempunyai banyak penggemar. Heh, bahkan di lingkungan sekolah saja penggemarnya sangat banyak, nggak tahu di luar sana. Selepas pertemuan singkatnya dengan Syila, Ardi pun berencana untuk pergi ke kantin. Waktu istirahat masih beberapa saat lagi. Meskipun ia sudah punya pacar, tetap saja ia tak boleh mengabaikan keadaan perutnya. Di tengah-tengah perjalanannya menuju kantin, ia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang pernah membuat dia terluka. Seseorang yang sangat ia benci. Namun entah kenapa ia malah menyelamatkan nyawa orang itu, padahal ia membencinya. "Ardi," panggilnya. Ardi hanya menatap orang itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Walau bagaimanapun juga, ia dan orang itu pernah bermusuhan. Bahkan permusuhannya tidak main-main, dan sangat sulit untuk dilupakan. "Terima kasih lo udah nyelametin nyawa gue. Gue ini sudah terlalu banyak nyakitin lo, tapi mengapa lo masih tetep mau berkorban demi gue? Apa setinggi itu arti pertemanan buat lo? Tapi gue selama ini gak pernah nganggap lo teman. Gue selalu menimbulkan luka di kehidupan lo, tapi lo masih menganggap gue teman. Kalaulah waktu bisa diputar, gue ingin semua kesalahan yang pernah gue lakukan ke lo dulu, tidak jadi gue lakukan. Sekarang gue benar-benar menyesal. Gue gak tahu harus berbuat apa lagi buat menebus semua kesalahan itu," ucap lelaki itu panjang lebar. Ardi mencerna setiap kata yang ke luar dari mulut lelaki yang tak lain adalah si Raga itu. Ia mulai paham bahwa lelaki itu benar-benar sangat menyesali semua kesalahan yang pernah dilakukannya. "Gue benar-benar bingung kenapa lo masih mau menolong sampah seperti gue yang jelas-jelas telah banyak membuat penderitaan di hidup lo," ucap Raga lagi. "Harus berapa kali gue katakan. Karena lo adalah temen gue, dan gue gak akan pernah bisa melihat teman-teman gue tersakiti, apalagi tepat di depan mata gue sendiri," sahut Ardi. Raga menunduk. Ekspresi lelaki itu memang tak ada kesan sedih atau terharu sama sekali. Ya mungkin itu sudah menjadi bagian dari sifatnya. Namun ia benar-benar tulus dalam meminta maaf. Kalau tidak tulus, mana mungkin ia sampai segitunya dalam meminta maaf? Harus diketahui bahwa Raga adalah orang yang punya harga diri tinggi. Ia tidak suka dipermalukan, apalagi mempermalukan dirinya sendiri. Tanpa mereka sadari, di sekeliling mereka telah terdapat banyak pasang mata yang menyaksikan drama mereka berdua. Namun hal itu tak menghentikan manusia bernama Raga itu dalam menjalankan niatnya untuk meminta maaf dan menyesali semua perbuatannya. "Gue menyesal, Di," ucap Raga pelan. "Jangan pernah menyesali setiap kesalahan yang lo lakukan di masa lalu, karena setiap kesalahan yang telah lo lakukan itu tidak akan pernah bisa lo ubah. Sekarang yang harus lo lakukan adalah memperbaiki semua kesalahan yang pernah lo lakukan di masa lalu," ucap Ardi. Raga terlihat agak bingung. Jujur ia tak mengerti apa maksud dari perkataan Ardi barusan. Bagaimana ia bisa memperbaiki semua kesalahannya, sedangkan kesalahan itu sudah terlanjur ia lakukan? "Maksudnya?" tanya Raga. "Lo bisa memperbaiki semua kesalahan yang telah lo lakukan dengan cara yang sangat mudah. Jadilah manusia yang lebih baik lagi! Hilangkah keegoisan dalam diri lo! Pokoknya semua sifat buruk lo itu, lo ganti dengan sifat yang berlawanan, itulah satu-satunya cara supaya lo bisa memperbaiki kesalahan lo di masa lalu," jelas Ardi. Raga mengangguk paham. Sekarang ia sudah mengerti tentang perbedaan orang jahat dan orang baik. Ketika orang jahat disakiti, ia pasti akan membalas dendam, tapi berbeda dengan si baik yang akan membalasnya dengan memaafkan orang yang menyakitinya. Akhirnya sebuah permusuhan abadi itu telah berakhir. Mereka telah membuktikan bahwa sebenarnya di dunia ini tak ada yang namanya musuh abadi. Dua tangan yang saling berjabatan itu telah menandakan akan hari perdamaian yang terjadi pada hari ini. Sejarah juga pasti akan mencatat hari sepenting ini, dan nantinya akan dikenal sebagai hari perdamaian antara Ardi dan Raga. Melihat hal itu, orang-orang di sekitar memberi sorakan-sorakan takjub pada keduanya. Untuk Raga yang telah berani meminta maaf, dan untuk Ardi yang dengan mudahnya memaafkan. Seandainya para manusia di seluruh dunia melakukan hal yang sama seperti Ardi dan Raga, mungkin dunia ini pun akan damai. Tidak akan ada lagi perang. Tidak akan ada pagi pertumpahan darah. Yang ada hanyalah para manusia yang hidup berdampingan di dalam perbedaan. Namun Tuhan menciptakan manusia dengan sifat yang berbeda-beda. Tidak semua manusia akan melakukan hal seperti apa yang Ardi dan Raga lakukan. Terkadang rasa gengsi menyurutkan niat seseorang untuk meminta maaf, dan rasa benci menjadikan manusia sulit untuk memaafkan. *** Malam harinya, Ardi dan teman-temannya sedang menjalani aktivitas yang sempat tertunda. Sebuah aktivitas adu gengsi yang mungkin akan berakhir dengan adu mulut di antara mereka. "Hmmm... lo semua lihat aja! Gue dan tim gue, Manchester United akan mengalahkan tim lo semua," ucap Awan dengan sombongnya. "Halah... banyak bicara pula kau ini," sahut Vino. "Raja PS2. Apakah anda mau melawan si otak konslet terlebih dahulu?" tanya Bara sambil menghadap ke arah Ardi. "Jangan dulu! Nanti kalau dia tumbang duluan kan gak keren. Masukin aja dia langsung ke semifinal, biar kalau kalahpun dia masih mendapat gelar sebagai 4 besar," jawab Ardi. "Oh, betul banget, ya. Ya udah, kalau begitu, anda akan melawan saya terlebih dahulu," ucap Bara sambil memainkan stik PS itu. "Woi, tu kenapa tim gue ditaruh di yang paling belakang? Woi, pindah! Gue mau ngalahin si Ardi dulu," ucap Awan. "Diamlah, tukang kalah!" ucap Bara. Awan memang sang pemilik play station itu, tapi rasanya ia bukanlah pemiliknya. Bagaimana tidak, bahkan dari dua stik PS itu, tak ada satupun yang ia pegang. Padahal seharusnya sang pemilik lah yang berhak untuk mengatur semuanya. Mungkin sudah takdir Awan harus menghadapi nasib sial seperti ini. Namun entah kenapa Awan tak pernah mempermasalahkan itu semua. Andaikan ia mempersalahkannya, maka bisa dipastikan dari awal ia sudah mengusir para sahabatnya itu dari rumahnya. Secara dialah sang pemilik play station itu. Jadi tidak ada hak buat Ardi dan yang lain untuk bertindak seolah-olah merekalah yang memiliki play station itu. Malam itu akhirnya Awan benar-benar membuktikan pada semuanya bahwa dia adalah orang yang tidak bisa diremehkan dalam bermain PS. Memang, Awan tidak bisa diremehkan dalam bermain PS2. Hal itu terbukti dengan rekornya yang tak pernah tergantikan oleh siapapun. Rekor kekalahan beruntun tanpa kemenangan ataupun hasil imbang sekalipun ia sudah membawa tim andalannya, apa lagi kalau bukan si setan merah, Manchester United. Benar saja, seusai adu gengsi itu dilaksanakan, terjadilah adu mulut yang hampir tak ada ujungnya. Si tuan rumah benar-benar tak bisa berbuat banyak menghadapi 4 mulut yang sedari tadi berbicara tanpa henti. Namun apa boleh buat. Hal semacam itu memang sudah menjadi tradisi sejak zaman dulu, bahkan sejak mereka masih beranggotakan dua orang. *** Hari-hari berganti, rasanya kehidupan Ardi hanya seperti itu saja. Berlagak serius di depan keluarganya, menggila bersama sahabat-sahabatnya, bertingkah romantis dan menyebalkan di depan pacarnya, serta menjadi manusia paling menyeramkan ketika berada di depan musuh-musuhnya. Tak terasa kini ia sudah mulai masuk kelas 11 semester 2. Itu artinya kurang dari satu setengah tahun lagi ia sudah harus keluar dari bangku SMA. Sebenarnya Ardi agak takut kalau harus menghadapi masa depan, tapi ia pernah bilang bahwa.... "Masa depan itu memang sangat menakutkan. Kita tak pernah tahu apakah masa depan kita itu akan bahagia atau malah menderita. Tapi yang pasti, kita tak akan pernah bisa lari dari masa itu. Dan yang harus kita lakukan hanyalah menghadapinya." Itulah kata-kata yang pernah Ardi ucapkan. Dari kata-katanya itu, nampak bahwa ia memang takut menghadapi sesuatu yang bernama masa depan. Namun ia sadar bahwa ia tak akan pernah bisa menghindarinya. Memang, bagi sebagian orang yang tak mengerti arti hidup, mereka malah ingin sang hari cepat-cepat berlalu untuk menantikan hari yang mereka inginkan. Padahal belum tentu di hari itu semuanya akan berlangsung dengan bahagia. Tapi bagi sebagian orang yang lain, mereka mungkin takut dengan masa depan. Namun lewat ketakutannya itulah mereka bisa mempersiapkan segala yang mereka butuhkan di masa depan nanti. Sungguh satu hal ini adalah hal paling rahasia di muka bumi ini. Karena tak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya. Hari boleh berubah. Wajah juga boleh berubah. Apalagi sifat yang semakin hari akan berubah semakin dewasa. Namun hubungan antar sahabat tak ada yang boleh berubah sampai kapanpun juga. Biarpun sampai hari tua nanti, sahabat tetaplah sahabat yang akan memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah diperlihatkan oleh orang lain, contohnya adalah kegilaannya. Satu setengah tahun lamanya, 5 lelaki tampan yang tingkat ketampanannya berbeda-beda ini telah berhasil menciptakan salah satu ikatan penting di dunia serta menjaganya agar tidak hancur. Ardi, Awan, Bara, Vino dan Nando. Entah karena apa, mereka sangat sulit untuk dipisahkan. Bahkan ketika mereka sudah mengenal cinta pada sang wanita, persahabatan mereka masih terus terjaga. Lalu apa yang mungkin bisa menghancurkan persahabatan mereka? Untuk pertanyaan itu, rasanya tak ada jawabannya. Bahkan cinta saja tak mampu untuk menghancurkannya, dan mungkin kematian pun juga tak mampu menghancurkan ikatan sekuat itu. Hari ini, hari Senin, tepat di tanggal 2 Januari. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama para murid menikmati hari liburnya. Jelas ada rasa malas sedikit di hati para murid ketika pertama kalinya masuk sekolah. Hal itu tanpa terkecuali juga dirasakan oleh Ardi. Ia sebenarnya sangat ingin hari liburnya ditambah. Ia tak ingin masuk sekolah terlebih dahulu. Namun ia ingat tentang betapa mengerikannya sesuatu yang disebut masa depan. Kalau ia terus bermalas-malasan, tentu saja masa depannya tidak sesuai dengan keinginannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN