"Oi, lama gak ketemu, Bro."
Ardi sedikit terkejut di kala ia mendengar suara teriakan dari arah belakangnya. Tanpa pikir panjqng lagi, ia pun langsung memutar kepalanya 180 derajat hingga ia pun dapat melihat dengan jelas siapa sosok yang berada di belakangnya itu.
"Lah, lagi-lagi kalian. Lama gak ketemu pala lo tu. Tiap hari juga ketemu. Bosen gue lihat lo semua," ucap Ardi kejam.
"Jangan begitu, Kawan. Kami semua sangat merindukan kamu. Udah ribuan detik lebih kami tidak melihatmu. Karena itulah biarkan kami melepas kerinduan ini," ucap Awan dramatis.
"Nih lagi pakai ikut-ikutan. Berangkat ke sini aja bareng, pakai bilang rindu," balas Ardi.
Entah kenapa hal pertama yang mereka ciptakan setiap kali bertemu adalah sebuah kebodohan dan kegilaan. Lagi-lagi tentang tradisi. Mungkin itulah tradisi mereka selama mereka terikat di satu ikatan yang disebut dengan persahabatan.
Ardi menguap kencang. Ia sangat malas meladeni wajah-wajah menyebalkan ke empat sahabatnya itu. Tanpa pamit, ia langsung beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju kelasnya.
Namun langkahnya terhenti di kala bola matanya menangkap sesuatu yang menurutnya cukup menarik. Di depan kelas 12 sana nampak 2 orang yang Ardi kenali. Satu laki-laki dan satu perempuan. Dari gerak-gerik kedua orang itu, Ardi dapat melihat dengan jelas apa arti semua itu.
Tanpa ia sadari, tiba-tiba otak laknatnya memberikan sebuah ide yang sangat laknat pula untuknya. Langkah kakinya ia urungkan dan kembali ke tempat di mana ke empat sahabatnya itu berada.
"Woi," panggil Ardi.
"Apa?" tanya Bara tak santai.
"Lo semua kan lagi gak ada kerjaan," ucap Ardi.
"Gue ingin ngasih kalian pekerjaan. Tuh lihat sesuatu yang ada di sana," lanjut Ardi sambil menunjuk.
Otomatis pandangan ke empat lelaki itupun mengikuti ke arah tangan Ardi menunjuk. Rupanya pemikiran ke empat lelaki itupun tak jauh beda dari Ardi. Hanya melihat sebentar saja, sudah terbersit sesuatu yang sangat istimewa. Mungkin kelompok lima lelaki itu lebih pantas disebut dengan geng para otak laknat.
"Hehehe, gue tahu apa yang lo pikirin," ucap Awan cepat tanggap.
"Heeee... kalau yang gini aja otak lo bisa normal," sahut Vino.
Suara tawa Awan langsung terdengar sangat menggelegar. Suara itu pula telah berhasil memekikkan telinga para pendengar. Kalau dibanding dengan tawa kuntilanak, rasanya lebih menyeramkan suara tawa dari Awan.
***
Seperti apa yang sudah menjadi kebiasaan mereka selama ini, kini mereka berencana untuk mengganggu 2 orang yang berada di depan sana. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak bisa dihilangkan dalam diri mereka, yaitu selalu mengganggu orang-orang yang sedang berpacaran. Kebiasaan yang sering berakhir dengan kekesalan para korbannya, bahkan kemarahan. Namun untuk hal yang satu ini lebih menarik lagi. Bukan karena gaya pacaran dua orang itu, tapi tentang siapa yang berpacaran.
"Cieee...."
Tanpa dikomando, tiba-tiba mereka secara bersamaan mengucap kata yang sama. Hal itu tentu saja membuat dua orang itu terkejut dengan kehadiran mereka berlima.
"Cieee... yang satu duo panas, satunya lagi duo kesel," ucap Ardi.
"Kok kesel sih, Di?" tanya Nando.
"Kan Keko, Sella," jawab Ardi.
"Kiko, Di, bukan Keko," ucap Nando.
"Apa-apaan ya, Kak. Nakal banget nih temen gue, pakai ganti-ganti nama Kak Kiko segala," ucap Awan.
"Tapi sebutan duo kesel bagus juga sih. Hahaha," sambung Awan.
Kiko merasa cukup terganggu dengan kedatangan kelima lelaki gila itu. Sedangkan Sella hanya senyum-senyum tak jelas sambil tertunduk.
"Ngomong-ngomong nih, kalian beneran pacaran?" tanya Bara.
"Nggak usah kepo," balas Kiko.
"Maaf kakak Kiko yang terhormat. Pertanyaan saya bukan untuk anda, melainkan untuk Dik Sella yang cantik," ucap Bara dramatis.
"Dik Sella. Apakah kamu berpacaran sama orang yang kini berada di sampingmu itu?" tanya Bara.
Sella tersenyum kecil. Ia seperti tak mampu untuk menjawab. Mungkin karena ia sungkan dengan Ardi, lelaki yang pernah ia cintai dulu atau mungkin ada hal lain yang menyebabkan dia seperti itu. Namun meski begitu, ia masih mau menjawab pertanyaan Bara meski hanya dengan anggukan kecil.
"Cieee... nambah lagi nih. Duo panas, duo kesel dan nanti juga akan ada duo awal," ucap Awan.
"Duo awal apaan, Slet?" tanya Vino.
"Awan Alya, lah," jawab Awan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Heee... ngarep lo," ucap Vino.
"Bodoh amat. Ngomong-ngomong, lo tadi panggil gue 'Slet' itu maksudnya apa, ya?" tanya Awan.
"Konslet lah. Otak lo kan konslet," jawab Vino kejam.
Jawaban Vino langsung disambut dengan tawa orang-orang yang berada di situ, termasuk Sella dan Kiko. Meski sebenarnya mereka berdualah yang akan menjadi topik pembicaraan, tapi ujung-ujungnya tetap saja Awan juga ikut dijadikan topik pembicaraan.
"Sudahlah! Hentikan dulu segala cacian dan hinaan kalian pada si rambut kribo ini. Sekarang, harusnya kita tu mewawancarai dua manusia ini," ucap Ardi sambil menunjuk Kiko dan Sella.
"Wawancara apaan?" tanya Kiko.
"Wawancara tentang bagaimana sejarah terbentuknya duo kesel," jawab Ardi.
"Nggak ada," jawab Kiko cepat.
"Wah, wah. Nih orang pasti habis beli bensin nih, ngegas terus," kata Awan.
"Hahaha, mungkin aja sih, Wan," ucap Ardi.
Kiko benar-benar tak mampu lagi menahan kekesalannya. Padahal, sebenarnya kelima lelaki itu bukanlah sahabatnya. Mereka itu hanyalah teman biasanya saja yang bahkan dulu pernah bermusuhan. Namun entah kenapa orang-orang itu memperlakukan dia layaknya sahabat yang selalu ikut campur dalam urusannya.
Kiko menggertakkan gigi-giginya. Ia ingin sekali melemparkan sesuatu ke mereka. Namun yang ada di sampingnya hanyalah kursi, tong sampah dan rak sepatu, ditambah lagi dengan sepatu-sepatu yang ada di rak itu. Secara logika, satu-satunya benda yang bisa ia lempar dengan mudah adalah sepatu.
Benar saja, Kiko tiba-tiba berdiri dan menatap rak sepatu itu dengan tatapan tajam. Sudah bisa dipastikan bahwa dia akan melemparkan salah satu atau bahkan semua sepatu itu ke arah lima lelaki gila itu.
"Pergi atau benda ini akan menghancurkan tubuh kalian!" ancam Kiko.
Tak pernah diduga, ternyata Kiko bukan bermaksud untuk melemparkan sepatu ke arah mereka berlima, melainkan sepatu beserta raknya juga. Tentu saja hal itu membuat nyali Ardi dan kawan-kawan menciut. Hingga pada akhirnya mereka pun melarikan diri dari tempat itu.
***
"Untukmu yang dulu pernah mencintaiku. Pada akhirnya kamu menemukan seseorang yang tepat menjadi pasanganmu. Seseorang itu bukanlah aku. Dulu aku mungkin tak begitu peduli dengan rasamu. Namun semenjak peristiwa kala itu aku sadar bahwa kamu juga patut untuk bahagia. Tapi aku tak tahu caranya untuk membuatmu bahagia, yang ada malah membuatmu merasakan rasa sakit. Hingga saat ini, akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum tulus tanda kebahagiaan. Meski itu bukan karena aku. Hanya 2 kata yang ingin kuucapkan kepadamu. Terima kasih, dan juga maaf. Terima kasih karena kamu telah mencintaiku dan memperjuangkan cinta itu dalam waktu yang cukup lama, dan maaf karena aku tidak bisa membalas itu semua."
Ardi dan keempat temannya berlari pelan menjauhi amukan dari si Kiko. Mereka lebih memilih kabur daripada tubuh mereka harus diterpa oleh sepatu beserta raknya. Kalau hal itu sampai terjadi, bisa-bisa mereka tumbang sebelum berjuang.
"Hah, lo semua ngapain kabur?" tanya Awan.
"Menurut lo?" tanya Bara balik.
"Hahaha, lo semua takut sama si Kiko enak tahu?" tanya Awan seenak jidat.
"Wah, gue bilangin Kiko nih kalau lo ngledekin dia," ancam Ardi.
"Eh, jangan-jangan!" ucap Awan.
"Udah, Di. Bilangin aja ke Kiko!" sahut Vino.
"Woi, jangan woi! Bisa mati gue, entar," balas Awan.
"Hahaha... dikit-dikit mati. Lo pikir mati semudah itu?" ucap Nando.
"Untuk manusia yang satu ini mungkin iya, Ndo. Dia kesandung semut aja bisa mati," ucap Ardi.
Suara tawa langsung terdengar menggelegar di sepanjang area halaman sekolah. Bahkan mungkin Kiko dan Sella yang masih berada di tempat tadi pun bisa mendengarkan tawa kelima lelaki bodoh itu.
***
Tak terasa waktu sekolah di hari ini sudah memasuki masa-masa akhir, yaitu sudah memasuki istirahat yang kedua. Saat itu nampak seorang gadis yang cantiknya tak bisa digambarkan sedang berjalan dengan santainya. Tak perlu disebutkan namanya, cukup disebutkan inisial namanya saja. Inisial gadis itu adalah S-Y-I-L-A. Sengaja hanya disebutkan inisialnya saja biar menjadi misteri yang sulit untuk dipecahkan.
Gadis itu terus berjalan. Seolah-olah setiap langkahnya mengandung pesona yang sangat luar biasa. Wajahnya yang cantik, dengan rambut poninya yang berkibar layaknya bendera karena diterpa angin membuat paras si gadis menjadi jauh lebih menarik.
Satu tempat yang ia tuju. Itu tidak lain adalah kelasnya si Ardi. Tak tahu apa tujuan ia pergi ke sana. Memang tak biasa-biasanya gadis itu berkunjung ke kelas yang penuh dengan orang-orang berotak setengah itu. Namun kali ini, entah mendapatkan hidayah dari mana, ia tiba-tiba mempunyai pemikiran untuk masuk ke kelas itu.
Tepat ketika ia berada di ambang pintu kelas, raut wajah cerianya itu tiba-tiba berubah menjadi penuh amarah. Hal itu dikarenakan ia sedang melihat sesuatu yang sangat membuatnya kesal. Ya, lelaki tampan yang menjadi tujuan awal kenapa ia mau pergi ke kelas itu ternyata sedang melakukan hal yang buruk di matanya.
Ekspresi ketidak sukaan terlihat jelas di wajah gadis itu. Ia kemudian berjalan pelan untuk mendekati lelaki tampan itu. Setiap kali ia melewati para lelaki, ia sudah bisa membuat mereka terhipnotis. Jangankan lelaki, perempuanpun juga begitu. Namun ia tidak peduli. Yang ia pikirkan cuma kelakuan si lelaki tampan itu.
"Ardiiii!" teriaknya.