BRAAKKK!
Seseorang tiba-tiba terjatuh dari kursi hingga tubuhnya membentur 3 benda keras sekaligus, yaitu kursi, meja dan lantai. Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah si Ardi. Ia terjatuh ketika mendengarkan teriakan gadis cantik itu barusan. Parahnya lagi, insiden jatuhnya ia dari kursi malah disambut dengan tawa oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Sekolah itu tempat belajar, bukan tidur," ucap Syila.
"Aku gak tidur, La," sangkal Ardi.
"Lalu?" tanya Syila.
"Cuma nutup mata doang, eh tiba-tiba kehilangan kesadaran," jawab Ardi.
"Hmmm... inilah kenapa aku ingin kamu jangan berteman sama Awan," kata Syila.
"Hahaha, ngomong-ngomong ada apa nih? Kok tumben dateng ke sini," tanya Ardi.
"Emang gak boleh?" tanya Syila balik.
"Ya boleh sih," jawab Ardi.
"Ya udah," ucap Syila.
Syila tiba-tiba menggandeng tangan Ardi dan mengajaknya untuk ke luar kelas. Ia seolah-olah ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa manusia tampan itu adalah pacarnya. Hal itupun disambut dengan sorakan-sorakan kecil dari para teman sekelas Ardi, kecuali satu perempuan yang memberikan ekspresi berbeda. Ia malah menampakkan ekspresi penuh dengan kekecewaan.
***
Kedua anak manusia itu duduk di bangku taman sekolah. Terik matahari tertutup oleh pohon mangga besar yang berada di belakang kursi itu. Mereka berdua pun tak perlu khawatir lagi dengan panasnya si matahari.
"Tiap hari begitu?" tanya Syila tanpa basa-basi.
"Hah?"
"Tiap hari tidur kalau di kelas?" tanya Syila lagi, memperjelas pertanyaan sebelumnya.
"Enggak," jawab Ardi singkat.
"Oh, syukurlah," kata Syila.
"Hari Minggu aku gak tidur di kelas," ucap Ardi.
Tampan tapi mengesalkan. Itulah yang Syila rasakan dari dalam diri seorang Jonathan Ardilan. Dari dulu memang sifat Ardi kepadanya tak pernah berubah. Mungkin benar kata-kata Ardi kala itu. Ia memang pernah berkata....
"Aku cuma berusaha untuk membuat orang lain nyaman bersamaku. Satu-satunya caranya adalah dengan tidak mengubah sifat pertama yang orang lain lihat dari dalam diriku. Itu saja."
Itulah kata-kata puitis Ardi yang selalu diingat oleh Syila. Entah sampai kapan ia akan terus mengingatnya. Mungkin selamanya.
"Jadi gadis itu yang bernama Alya?" tanya Syila mulai serius.
"Iya, cantik kan?" tanya Ardi tanpa merasa berdosa.
"Iya," jawab Syila singkat.
Syila tertunduk lesu. Ia tahu bahwa Ardi mencintainya, tapi manusia adalah makhluk yang mudah untuk berpaling, tak terkecuali Ardi. Ia bisa saja berpindah rasa ke gadis yang bernama Alya itu. Wajar saja, cantik adalah hal utama yang dipandang dari seorang laki-laki dari seorang perempuan.
"Tapi masih cantikan kamu," ucap Ardi.
Lagi-lagi, manusia menyebalkan itu bisa menjelma menjadi manusia yang romantis bagi Syila. Meski hanya dengan kata-kata sederhananya, ia sudah bisa membuat Syila tersenyum.
"Kukira satu-satunya makhluk yang bisa tersenyum itu hanya manusia. Ternyata bidadari juga bisa, ya?" ucap Ardi lagi.
"Apaan sih," sahut Syila malu-malu.
"Syila," panggil Ardi. Dari raut wajahnya ia sudah dalam mode serius.
"Hmmm."
"Jangan pernah meragukan sesuatu yang sudah aku putuskan! Karena bagiku, sekali aku mengucapkan keputusan itu, pantang bagiku untuk menariknya," ucap Ardi.
Memang benar sih, Ardi adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta, meski tidak mustahil bagi dia untuk jatuh cinta pada gadis lain. Ardi juga tipe orang yang sangat menghargai sebuah ikatan. Entah itu keluarga, persahabatan, cinta ataupun yang lain. Selama ini manusia tampan itu telah mendapat banyak godaan dari para perempuan cantik, tapi apa yang terjadi? Sedikitpun tak ada niatan untuk ia mengkhianati cinta yang telah ia berikan kepada Syila. Jadi kesimpulannya, cinta Ardi kepada Syila tak perlu diragukan lagi. Selama takdir tidak berkata lain, maka tak ada seorang gadis pun yang bisa membuat Ardi berpaling dari Syila, sekalipun itu gadis secantik Alya.
Syila hanya bisa menunduk dan merasa bersalah setelah mendengar perkataan Ardi barusan. Tak tahu mengapa baru kali inilah ia merasa sangat takut. Takut kalau Ardi akan berpaling darinya. Padahal dulu juga ada si Sella yang cantiknya juga tak kalah dari dia. Tapi baginya ini rasanya lain. Ia merasa gadis bernama Alya itu punya daya pikat yang teramat tinggi untuk kaum lelaki, dan dia tak ingin Ardi terpikat oleh gadis itu.
"Maaf," ucap Syila pelan.
"Maaf kenapa?" tanya Ardi. Syila hanya terdiam tak bisa menjawab.
"Aku tahu. Kamu takut ya, kalau aku terpikat oleh gadis itu?" tebak Ardi.
"Mana ada. Ya nggak lah," jawab Syila tegas.
"Kamu payah dalam hal berbohong," ungkap Ardi sambil menampakkan senyum manisnya.
Seperti biasanya. Kelemahan Syila adalah ketika Ardi sudah mengucap kata-kata romantis untuknya. Saat hal itu terjadi, maka pikirannya benar-benar tidak bisa jernih.
"Malam ini kamu ada acara, nggak?" tanya Ardi.
"Ada," jawab Syila singkat.
"Yah... padahal aku mau ngajak kamu ke cafe," ucap Ardi penuh dengan kekecewaan.
"Emangnya ada acara apa sih?" lanjut Ardi.
"Banyak lah. Nonton TV, tiduran, main HP dan masih banyak lagi," jawab Syila.
Ardi langsung memberikan sorot mata tajam dengan raut wajah yang datar kepada Syila. Ia tahu gadis itu sedang bercanda, tapi kesalahannya adalah bercanda saat dia benar-benar dalam mode serius.
"Iya, maaf," ucap Syila. Nampaknya dia peka dengan sikap Ardi yang seperti itu.
"Jangan kebanyakan meminta maaf. Kau tak pernah tahu hati seseorang. Sekalipun ia bilang sudah memaafkan kamu, bisa saja di hatinya masih tersimpan amarah yang cukup mendalam," sahut Ardi.
"Hmmm... iya Ardi, maaf," pinta Syila lagi.
"Terusin aja minta maafnya. Kalau bisa sampai Squidward tidak frustasi lagi dengan kehidupan. Atau sampai Upin Ipin punya anak dan cucu," ucap Ardi kesal.
Syila tertawa pelan. Mungkin ia baru pertama kali melihat si Ardi kesal kepadanya. Selama ini justru Ardi lah yang selalu membuatnya kesal, tapi sekarang malah sebaliknya. Syila merasa puas atas kemenangannya itu. Akhirnya ia bisa membuat pacarnya itu merasakan apa yang sering ia rasakan selama ini.
"Heh, Sang Pangeran tidak boleh sedikitpun kesal dengan Si Tuan Putri. Meskipun Tuan Putrinya melakukan hal yang sangat mengesalkan kepadanya," ucap Syila. Sontak Ardi pun langsung memandang Syila dengan takjub.
"Belajar di mana kamu sampai bisa buat kata-kata seperti itu?" tanya Ardi sedikit tersenyum.
"Kan kamu yang ngajarin," jawab Syila.
"Kapan?" tanya Ardi.
"Dulu... saat Spongebob masih hidup di daratan," jawab Syila.
"Emang pernah?" tanya Ardi.
"Ya mana saya tahu, saya kan orang," jawab Syila.
Ardi tersenyum kecil. Nampaknya keadaannya kini berbalik 180 derajat.
"Hahaha... jadi gimana? Apa kamu mau kuajak ke cafe nanti malam?" tanya Ardi.
"Y," jawab Syila sangat singkat.
"Hilih, cueknya," protes Ardi.
"Terus gimana?" tanya Syila.
"Ya gimana gitu," jawab Ardi.
"Y," ucap Syila.
***
Desiran angin malam berhembus, menciptakan suara bising yang memekikkan telinga. Udara dingin yang ia ciptakan telah melengkapi kengerian malam tanpa cahaya. Sang bulan seakan-akan malu untuk ke luar. Ia lebih memilih untuk bersembunyi di balik awan agar wujudnya tak nampak oleh bumi.
TOK TOK TOK
Terdengar suara pintu diketuk sebanyak 3 kali. Syila langsung terperajat ketika mendengar suara ketukan pintu rumahnya itu. Kedua sudut bibirnya terangkat. Ia tahu dan sangat yakin dengan siapa sosok pengetuk pintu itu.
Syila langsung bergegas ke luar kamar. Namun tepat setelah ia ke luar dari kamarnya, ia melihat papanya berjalan menuju ke arah pintu depan. Tentu saja hal itu membuat Syila cemas. Bukannya apa-apa, jika papanya mengetahui siapa sosok pengetuk pintu rumahnya itu, maka hal buruk akan terjadi. Papanya Syila pasti akan mengajak bermain catur semalaman, dan itu akan membuat Syila kehilangan kesempatan emas untuk menciptakan sejarah baru bersama sang pujaan hati.
Terlambat sudah. Akhirnya si lelaki paruh baya itu sudah mengetahui siapa sosok pengetuk pintu rumahnya itu. Ia tidak lain dan tidak bukan adalah sosok manusia bernama Ardi.
"Kalau bertamu ucapin salam dulu!" ucap papanya Syila.
"Oh maaf Om, saya lupa," jawab Ardi sambil cengar cengir.
"Ya udah, ucapin salam, sekarang!" pinta lelaki paruh baya itu.
"Salam," ucap Ardi.
"Bukan begitu, tapi assalamualaikum, gitu," jelasnya.
"Waalaikumsalam," sahut Ardi.
Lelaki paruh baya itu agak sedikit kesal. Hal itu dapat terlihat dari raut wajahnya yang mulai merah padam. Sekali lagi, untuk menghadapi manusia seperti Jonathan Ardilan bukanlah perkara yang mudah.
"Ada urusan apa?" tanya papanya Syila.
"Nggak apa-apa Om. Saya cuma mau nantangin Om buat main catur lagi," jawab Ardi.
"Wah, bagus dong. Ayolah!" sambut lelaki paruh baya itu dengan semangat yang membara.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Syila menepuk jidatnya sendiri ketika mendengar jawaban dari Ardi. Ia sudah tak ingin berharap lagi bahwa malam ini ia bisa jalan-jalan dengan sang pacar. Faktanya, pacarnya itu malah akan bertanding catur dengan papanya. Sungguh hal yang sangat menyebalkan untuk Syila.
"Tapi lain kali aja ya, Om. Soalnya anak Om yang bernama Syila itu mengajak saya untuk jalan-jalan di malam yang indah ini dengan ditemani rembulan dan bintang-bintang yang berkelip-kelip. Karena itu, dengan ini saya, Jonathan Ardilan teringin untuk menyampaikan izin agar Om mau mengizinkan anak Om untuk ke luar bersama saya malam ini," ucap Ardi dramatis.
"Kalau saya nggak ngizinin?" tanya papanya Syila.
"Maka saya tidak akan mendapat izin," jawab Ardi cepat.
"Pinter. Jawaban yang sangat spesifik," puji papanya Syila.
"Jadi gimana, Om?" tanya Ardi.
Lelaki itu terdiam sejenak. Ia berlagak layaknya ia sedang berpikir keras. Entah memang ia sedang berpikir atau hanya sebagai gaya-gayaan saja.
"Pasti boleh lah, Di."
Tiba-tiba terdengar suara. Apa itu suara papanya Syila? Bukan, suara yang satu ini jauh berbeda dari suara lelaki paruh baya itu. Lebih lembut, lebih merdu dan juga lebih halus.
Ardi mengedarkan pandangannya, dan ia pun mendapati dua wanita cantik yang sedang berjalan ke luar rumah. Dua wanita cantik yang terdiri atas ibu dan anak.
"Eh, Tante. Syila juga," ucap Ardi.
Selang beberapa detik ia pun langsung mencium punggung tangan mamanya Syila sembari mengucap salam untuk beliau. Baginya, meski Syila belum pasti akan menjadi pasangannya, orang tua Syila tetap ia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Ya meskipun terkadang suka bertingkah agak tidak sopan.
"Kamu mau ngajak Syila ke mana, Di?" tanya wanita paruh baya itu.
"Nggak jauh-jauh amat kok Tan. Masih berada di wilayah bumi," jawab Ardi asal.
"Heh, kamu ini, pantesan Syila gak bisa melupakan kamu. Ternyata karena tingkahmu yang kayak gini," ucapnya.
"Apa sih, Ma," protes Syila.
"Hahaha... ke cafe, Tan. Tapi bukan cafe remang-remang. Hanya cafe biasa yang 100 persen terjamin halal. Bahkan sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI," sahut Ardi.
Si wanita paruh baya itu benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya. Entah kenapa setiap mendengar kata-kata Ardi, ia seperti merasakan kelucuan tersendiri dari lelaki tampan itu. Bahkan orang yang terkenal dingin seperti papanya Syila pun bisa tersenyum ketika sudah mendengar perkataan dari seorang Jonathan Ardilan.
"Sudahlah, Ma. Gak usah nanya-nanya lagi! Nanti malah tambah ngasal jawaban dari manusia yang satu ini," ucap Syila memperingatkan.
"Hahahahaha... iya sayang," jawab sang mama.
"Ardi! Kamu boleh ajak Syila ke cafe, tapi dengan satu syarat," ucap si pria paruh baya dengan tiba-tiba.
"Apa itu, Om?" tanya Ardi.
"Jaga Syila. Apapun yang terjadi jangan sampai terjadi apa-apa sama Syila!" jawabnya.
Ardi perlahan memperlihatkan senyumannya. Manis sekali, apalagi ketika nampak di mata para kaum Hawa. Sebuah senyuman yang menandakan akan kesiapan tinggi. Bahkan tanpa diminta pun, ia pasti akan melakukan apa yang diperintahkan oleh papanya Syila itu.
"Tenang aja, Om! Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah membiarkan Syila dalam bahaya. Kalaupun sudah terlanjur masuk ke situasi yang berbahaya, saya pasti akan melindunginya meski harus bertaruh nyawa. Dan juga kalau nyawa saya terancam, saya pasti akan melarikan diri meskipun harus meninggalkan Syila di tempat berbahaya itu," kata Ardi.
Apa yang nampak di wajah para manusia yang mendengar perkataan Ardi barusan? Tentu saja wajah mereka berubah drastis. Dari yang awalnya tersenyum, sampai akhirnya berubah menjadi datar dan penuh dengan tanda tanya. Ardi memang sangat menyebalkan. Kata-kata awalnya sangat membuat orang-orang yang mendengarnya tersentuh, tapi di akhir katanya, ia membuat suasana hati para pendengar menjadi tak enak.
"Apa kamu bilang? Kalau begitu saya nggak akan ngizinin kamu untuk mengajak Syila ke luar rumah malam ini," ucap si lelaki paruh baya itu agak emosi.
"Bercanda Om," ucap Ardi. Ia terlihat sedikit takut ketika melihat raut wajah papanya Syila.
"Bercanda kamu bilang? Kamu kira saya serius? Saya juga bercanda," ucap lelaki itu.
Hufffttt... kali ini ia benar-benar yakin kalau Syila adalah jodohnya di masa depan. Bagaimana tidak, bahkan papanya Syila pun sedikit mempunyai kesamaan dengannya. Padahal ia sudah ketakutan tadi, tapi hasilnya malah di luar dugaan. Apa itu cuma kebetulan atau memang ada kontak batin antara calon mertua dengan calon menantu? Jawabannya cukup sederhana. Tidak usah dipikirkan! Karena takdir tidak akan pernah ada yang tahu.