Bab 76

996 Kata

Mata itu menyorot tajam ke arah seseorang. Nampak sangat kental tatapan kebencian dari matanya itu. Bahkan sekalipun tak ada kedipan yang ia lakukan. Raut wajahnya menggambarkan akan kemarahan. Entah kemarahan kecil, sedang atau besar. Keningnya berkerut, tanda ia bingung harus berbuat apa. "Bercanda, Di." Perlahan tapi pasti, tatapan itu mendadak pudar. Napas lega terdengar seperti suara bisikan di telinga para manusia di sekitarnya. Manusia tampan itu akhirnya kembali berada pada mode tenangnya setelah beberapa saat ia mengalami mode menegangkan. *** Lantai seisi kelas itu basah oleh air. Bukan hanya air hujan, melainkan air yang sengaja diguyurkan oleh para manusia sesat itu. Alasannya cuma satu. Supaya hari ini atau paling tidak di jam pertama ini tidak ada pelajaran. Sebuah hal lic

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN