Bab 75

1998 Kata

Pagi itu seolah-olah sang kuasa tak meridhoi semua orang untuk ke luar rumah. Hujan deras mengguyur di pagi yang seharusnya bercuaca cerah. Dingin sekali rasanya, membuat bulu kuduk merinding. Di atas sana nampak kepulan awan putih yang memenuhi langit. Rasanya seluruh penjuru negeri, atau bahkan penjuru dunia pagi ini sedang merasakan apa yang disebut hujan. Ardi menatap langit dengan tatapan miris. Ia kasihan pada semesta yang sering menangis. Apa ini karena penghuninya yang anarkis? Entahlah, semoga ada alasan yang lebih logis. TRINNING! TRINNING! Terdengar suara nada dering dari HP Ardi. Ia langsung bergegas menuju sofa ruang tamu, tempat ia meletakkan HPnya. Ia pun duduk dan melihat ada panggilan masuk dari seseorang yang sangat ia kenal. "Ada apa?" tanyanya di telepon tanpa basa-bas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN