"Kenapa?" tanya Syila. "Kalau papa kamu keluar kan waktuku untuk bisa sama kamu gak keganggu," jawabku. "Hahaha... ya udah, aku telepon papaku, ya? Mau nyuruh dia pulang," ucap Syila. "Eh, jangan!" cegahku. Terkadang memang gadis cantik yang bernama Syila itu berubah menjadi cukup menyebalkan. Namun itu tak pernah mengurangi rasa sukaku padanya. Aku memandang Syila dengan sangat lekat, begitupun dia. Aku merasa sangat nyaman ketika menatapnya. Entah karena apa, aku tak tahu secara pasti. Namun yang pasti hal itu bisa sedikit membuatku melupakan kesedihan atas meninggalnya sahabatku. "Terima kasih, La," ucapku. "Buat?" tanya Syila. "Terima kasih telah menjadi orang yang selalu mengerti tentang keadaanku. Terima kasih karena telah mau menjadi salah satu bagian terpenting di hidupku,

