Menikah Lagi?
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Mas Fahri tampak gelisah. Lelaki itu mengusap tengkuknya, terlihat seperti orang kebingungan.
"Apa itu, Mas?" tanya Fiona pelan, menatap lembut pada suaminya itu yang mana sang suami melihat ke sembarang arah.
"Janji jangan marah dulu tapi? Sumpah, ini sebenarnya bukan keinginan aku."
Fiona tersenyum tipis. "Iya, aku enggak akan marah. Kamu bilang aja, mau ngomong apa?" Tangannya Fiona menyentuh wajah suaminya yang sudah 6 tahun bersamanya itu. Dua tahun mereka berpacaran, setelahnya menikah saat Fiona masih berusia 22 tahun. Tak masalah baginya menikah muda, karena menurutnya Fahri adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Tak ada sama sekali keraguan dalam diri Fiona dan keluarganya saat itu, yang menurut mereka sosok Fahri itu cocok sebagai pendamping hidup Fiona. Sosoknya yang bisa menggantikan ayahnya Fiona yang sudah meninggal dunia saat Fiona masih duduk di bangku SMP.
"A-ku... boleh aku izin untuk menikah lagi, Dek? Mamaku katanya ingin segera menggendong cucu," ujar Fahri cepat. Dia meraih tangan sang istri yang masih berada di wajahnya. "Sebenarnya aku juga nggak ingin, tapi Mama selalu bawa-bawa umur. Udah tua—ah, aku nggak tahu harus gimana lagi ngadepin Mama. Maafkan aku, Sayang... "
Fiona sama sekali tak terkejut mendengarnya. Karena sebelumnya, dia pernah tak sengaja mendengar pembicaraan suaminya itu dengan mama mertuanya beberapa bulan lalu. Pembicaraan kedua orang itu masih terekam jelas di benak Fiona.
Empat tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Umurnya saat ini 26 tahun dan Fahri 32 tahun. Mereka menikah pada saat Fiona belum lama lulus kuliah. Setelah menikah, Fiona pernah periksa tentang kondisi fisik dan reproduksi yang mana hasilnya sama sekali tak ada masalah. Fiona berpikiran positif saja, mungkin dirinya belum dipercaya oleh dititipkan anak dalam rahimnya.
Untuk Fahri sendiri, Fiona pernah juga meminta suaminya itu untuk periksa. Kata suaminya, dia juga baik-baik saja. Tak ada masalah dengan reproduksinya. Entah lah, Fiona tak bertanya panjang lebar, takut Fahri tersinggung. Mungkin memang belum waktunya saja dirinya hamil.
Jadi, yang pernah Fiona dengar dari pembicaraan Fahri dan mama mertuanya waktu itu, mama mertuanya menyarankan agar Fahri menikah lagi. Katanya, kalau ditunda-tunda akan semakin tua saja. Anak kecil, tapi memiliki ayah yang sudah tua. Dan juga perempuan yang sudah berusia 60 tahun berkata dia sudah sangat tua, bagaimana jika ajal menjemput? Dia sungguh sangat ingin menimang cucu—darah dagingnya Fahri sebelum ajalnya datang. Fiona hanya bisa memegang dadanya menahan rasa sesak.
Fahri menolak waktu itu yang Fiona dengar, tapi mungkin lelaki itu berubah pikiran saat ini. Atau, mungkin saja mama mertuanya Fiona terus mendesak tanpa sepengetahuannya. Mengingat Fahri belakangan ini beberapa kali berkunjung ke rumah mamanya sendiri, dan Fiona tak diajak. Katanya, mamanya sedang kurang sehat karena sudah semakin tua dan ingin dia sering datang. Pernah sekali saja Fahri mengajak Fiona, itu juga karena Fiona meminta ikut—ingin menjenguk mertuanya yang kurang sehat itu.
"Sayang? Hey? Kamu marah, ya? Nanti aku coba omongin lagi sama Mama kalau kamu nggak kasih izin."
"Apa Mama bakal dengerin kamu, Mas?" Fiona kadang disindir juga oleh mama mertuanya itu perihal dirinya yang tak kunjung hamil, itu ketika Fahri sedang tak berada di sisinya. Namun, Fiona mencoba menghadapinya dengan sabar dan tenang.
"Aku akan coba ngomong pelan-pelan sama Mama."
Fiona melepas tangannya dari wajahnya Fahri. "Aku enggak yakin. Bagaimana jika Mama terus memaksamu?"
"Sayang... "
"Nggak ada kendala apa pun dengan kondisi tubuhku—reproduksiku, begitu pun dengan kamu. Nggak bisa kah sabar sedikit lagi?"
Obrolan mereka terputus karena ponselnya Fahri yang belum di-silent sebelum tidur itu berbunyi. Ada notifikasi masuk, dan tak sengaja terbaca oleh Fiona. Pesan tersebut masuk beruntun.
Mama
Udah diomongin sama Fiona?
Mama gamau tau, kamu harus bisa yakinkan dia untuk mengizinkan kamu menikah lagi.
Bisa jadi dia memang mandul, seharusnya dia ikhlasin kamu buat memiliki anak dgn prmpuan lain.
Cinta aja nggak cukup dlm berumah tangga itu.
Kehadiran anak itu juga penting, mma jg pgn gendong cucu.
Apa kamu tega abai sm permintaan spele mama, sdangkan umur mma udah semakin tua?
Fiona sedih sekali membaca notifikasi pesan dari mama mertuanya itu. Dia meraih ponsel milik suaminya dengan tangan bergetar, tetap timbul rasa sakit itu meski sudah dari beberapa bulan lalu dirinya berusaha menguatkan diri.
"Aku kayaknya enggak diberikan alasan untuk menolak ya, Mas?" Fiona menyerahkan ponsel miliknya Fahri sembari terkekeh pelan.
"Nggak gitu, Sayang... " Fahri sungguh mencintai istri, akan tetapi sulit juga baginya untuk mengabaikan permintaan sang mama. Dia awalnya sempat menolak dan ribut dengan mamanya hingga sang mama sering sakit. Pada akhirnya, Fahri diam-diam mengiyakan permintaan mamanya itu sebelum berbicara dengan Fiona. Bahkan telah jalan dengan perempuan pilihan mamanya itu, yang merupakan anak dari teman mamanya. "Aku akan cob— "
"Aku izinkan jika memang permintaan Mama sama sekali nggak bisa dibantah." Fiona tersenyum, menahan diri untuk tak menangis meski hatinya sakit sekali. Tak menyangka ketakutannya menjadi kenyataan, sang suami yang akhirnya berbicara langsung padanya mengenai permintaan mama mertuanya itu. Padahal, Fiona awalnya berharap jika mama mertuanya tak mengungkit lagi—menerima takdir jika dirinya belum diberikan kehamilan.
"Jangan marah, Sayang... " Fahri meraih Fiona ke dalam dekapannya. “Aku nggak maksa kamu. Kita cari jalan keluarnya, kit— “
"Aku nggak berhak buat marah." Fiona menggigit bibir bawahnya, terus menahan agar tak tumpah tangisnya. "Silahkan jika kamu ingin menikah lagi. Sebenarnya, aku udah tahu ini sejak lama. Pernah nggak sengaja dengan obrolan kamu sama Mama.”
"Dek, aku minta maaf.”
“Enggak apa-apa, Mas. Mungkin memang begini jalannya?”
“Aku janji, akan selalu mencintaimu meski nanti terpaksa harus menikahi lagi demi Mama.”
Fiona tersenyum getir. Membayangkan Fahri bersama perempuan lain saja, dirinya sudah merasa begitu sesak. Namun, dia juga tak bisa menentang keinginan mama mertuanya. Mama mertua yang dulu sangat baik, akan tetapi setahun belakangan ini mulai berubah sikapnya. Fiona merasa ada perbedaan yang sangat mencolok. Apa lagi jika ada perkumpulan keluarga besar Fahri, yang mana rata-rata saudara dan sepupunya Fahri telah dikarunia anak. Bahkan, yang menikah setahun yang lalu juga. Dan itu dibandingkan dengan Fiona dan Fahri yang sudah 4 tahun lamanya menikah.
"Rasa cintaku sama kamu nggak akan pernah hilang, meski nanti ada perempuan lain yang mengandung anakku."
"Mas, mau coba lagi malam ini? Udah 2 bulan ini kita berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing."
"Aku capek banget, Sayang. Tadi juga habis mampir dari rumahnya Mama, energiku rasanya kekuras debat sama Mama. Besok malam aja, ya?"
***
"Kamu enak sekali, Mika... " Fahri semakin mempercepat gerakannya di atas tubuh seorang perempuan yang semok, jauh lebih berisi dibanding istrinya yang cenderung kurus. Seseorang yang berusia lebih muda dari istri sang, baru 21 tahun. Beda cukup jauh dengannya, 11 tahun.
Mika menyeringai di sela desahannya.
"E-nakan mana dibanding istrimu yang kurus itu, Mas?" tanya Mika sambil meraih tangan lelaki itu dan mengarahkan ke arah payudaranya agar diremas.
"Kamu, Mika. Kamu jauh lebih nik-mat—arrgggghhhh, saya mau keluar!" Lebih dalam menekan, Fahri mengerang panjang dan meledak di dalam sana. Dia langsung tumbang di atas tubuh perempuan semok itu. Yang walau masih 21 tahun, tapi tubuhnya seperti seorang perempuan dewasa lebih dari usia sesungguhnya dan Fahri sangat menggilai tubuh tersebut.
Fahri awalnya bersikap dingin kepada Mika sejak dikenalkan oleh mamanya sekitar 3 bulan lalu. Dia disuruh mamanya untuk lebih dekat dengan Mika yang merupakan anak dari teman mamanya, yang baru saja lulus kuliah D3. Bagaimana pun, Fiona adalah satu-satunya perempuan yang dia cintai.
Perbedaan usia yang cukup jauh tak membuat Mika menolak pesona lelaki yang telah beristri itu. Dia siap menjadi yang kedua, dari lelaki yang berprofesi sebagai seorang manajer operasional di salah satu perusahaan swasta itu. Fahri tak seperti om-om dalam bayangan Mika. Lelaki berusia 32 tahun itu tampak muda dan tampan, Mika menyukai lelaki itu pada pandangan pertama. Lelaki itu jauh lebih tampan aslinya dari pada foto. Mika tak menyerah meski Fahri bersikap dingin padanya. Hingga suatu hari, dia menggoda lelaki itu dan berakhir di ranjang kamarnya saat malam hari dan kedua orang tuanya Mika telah tidur. Sejak itu, Mika berhasil menarik perhatian lelaki itu. Lelaki itu sering menghubunginya, meski nada bicaranya masih dingin. Tak apa, yang penting bagi Mika adalah bisa bersama lelaki itu dan dia bahkan telah diberi uang jajan.
Fahri sekarang menggilai tubuhnya Mika yang semok putih, memiliki payudaraa yang besar dibandingkan istrinya. Meski Mika tak berdarah saat pertama kali digaulinya, akan tetapi tetap terasa sempit dan nikmat bagi Fahri. Sejak 2 bulan lalu, Fahri minta jatah terus seminggu bisa dua sampai tiga kali karena telah kecanduan. Mereka melakukannya di hotel, kamarnya Mika di kala orang tuanya perempuan itu sudah tidur di malam hari. Dan yang paling parah, mereka berdua pernah melakukannya di rumah Fahri dan Fiona, kala Fiona tak ada di rumah tentunya. Ada sekitar tiga kali kedua orang itu berhubungan intim di ranjangnya Fahri dan Fiona.
Awalnya Fahri merasa bersalah karena telah mengkhianati Fiona, akan tetapi hubungan terlarangnya dengan Mika begitu nikmat untuk diabaikan. Dia sungguh masih sangat mencintai Fiona yang dulu bersusah payah didapatkannya, di sisi lain dia menikmati tubuhnya Mika. Bahkan, sudah 2 bulan ini dia tak menggauli Fiona karena telah habis energinya 'bermain' bersama Mika. Pulang kerja, kadang Fahri mengaku lembur dan bermain bersama Mika. Fahri pernah juga membawa Mika keluar kota saat ada kerjaan dan tentunya berkali-kali bersetubuh dengan perempuan itu. Seperti saat ini yang mana istrinya sibuk dan bilang akan pulang malam, Fahri malah mengajak Mika ke Bogor setelah mengantar sang istri. Hotel adalah tujuannya, agar bisa berlama-lama dengan Mika di atas ranjang. Tak cukup hanya satu ronde saja. Fahri sebenarnya tak mencintai Mika, hanya suka menikmati tubuh perempuan itu. Meski sudah akan menikahi Mika pada minggu depan, tetapi hasratnya Fahri tak bisa ditahan.
"Mas keluar di dalam barusan?" Mika memeluk Fahri yang telah beranjak dari atas tubuhnya.
"Kita akan segera menikah. Bagus kalau kamu langsung hamil."
"Serius, Mas?"
Fahri mengangguk. "Istri saya sudah setuju jika saya menikah lagi."
"Kenapa nggak cerai aja sih, Mas?"
"Mika!!" Fahri menoleh dengan rahang mengeras. "Jangan pernah kamu mengharapkan hal itu terjadi! Karena sampai kapan pun, saya nggak akan menceraikan Fiona. Saya mencintai dia... selamanya. Kamu harus paham bagaimana posisimu. Saya hanya menikmati tubuhmu, ingin anak darimu. Nggak lebih dari itu."
Mika mendengkus. Tangannya mengepal. Akan dia buat perempuan bernama Fiona itu menyerah dan memilih untuk berpisah. Dan untuk Fahri, dia akan pastikan lelaki itu bertekuk lutut padanya. Mika mengusap-usap dadanya Fahri, menggoda lelaki itu. "Main di bathub yuk, Mas? Aku yang di atas."
Di saat kedua orang itu baru saja melakukan hubungan terlarang sebelum hubungan pernikahan, di lain tempat Fiona sibuk dengan baking di pantry pada toko kue sederhana miliknya. Fiona yang merupakan lulusan tata boga memanfaatkan ruko peninggalan almarhum ayahnya yang biasanya disewakan kepada orang lain. Fiona yang hobi membuat kue dan makanan ringan lainnya itu, membuka toko kue saat sudah menikah dengan Fahri. Suaminya itu mengizinkan, akan tetapi modalnya tetap dari Fiona sendiri yag memang berasal dari keluarga cukup berada. Dia menolak bantuan dari suaminya. Saat itu Fiona berpikir, jika ingin mengembangkan usaha ini dengan uangnya sendiri. Ya memang ada diberi oleh orang tuanya sebelum menikah. Fiona yang adik kakak dua orang saja, mendapatkan masing-masing warisan dari almarhum papanya dan itu diberikan oleh mamanya sebelum Fiona menikah.
Beberapa hari ini Fiona semakin banyak menghabiskan waktu di pantry, tak seperti biasanya. Perempuan itu berharap bisa sedikit melupakan kesedihannya sejenak dengan baking.
Perempuan mana yang tak sedih jika suaminya akan menikah lagi? Suaminya yang Fiona tahu begitu baik dan mencintainya, kenapa takdirnya jadi begini?
Weekend ini bukannya berada di rumah bersama sang suami, Fiona beralasan harus ke toko karena banyak pesanan. Memang ada beberapa pesanan hari ini, tetapi sebenarnya bisa dikerjakan oleh kedua karyawannya dan membuka toko lebih siangan. Akan tetapi, Fiona memilih untuk datang ke sana langsung ke sana karena menghindari suaminya. Fiona tak tahu saja jika suaminya itu sedang berbagi kehangatan dengan perempuan lain di sebuah hotel.
"Mbak Fiona... "
"Ya?" Fiona menoleh pada seorang karyawannya yang baru saja memasuk pantry. "Ada apa, Ratih?"
"Ada yang mau beli kue buat ulang tahun gitu di depan, tapi dia minta custom. Bisa nggak, Mbak? Dia mau ambil sore ini kalau bisa."
"Sorenya jam berapa?" Fiona menoleh pada jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 14.10. "Udah jam 2 lewat sekarang."
"Bentar, aku tanya dulu."
"Eh, biar saya aja. Saya mau catat langsung detailnya dia mau custom yang kayak apa."
Fiona mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menuju ke depan. Dan begitu tiba di depan, dia melihat seorang lelaki yang menunduk melihat-lihat etalase kue dan cemilan.
"Siang... "
Lelaki itu seketika mendongak dan terkejut melihat perempuan yang berdiri di dekatnya.
"Fiona?"
Fiona mengernyit. Dia familiar dengan lelaki di depannya ini, tetapi lupa siapa namanya dan di mana mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Lupa, ya?" Lelaki itu tersenyum tipis menyadari perempuan yang berada depannya ini sepertinya lupa dengannya. "Saya Rasyid, seniormu di kampus yang beda jurusan. Apa kamu masih ingat?"
***