Ketika Komi menunjukan mengenai kecelakaan sebuah pesawat yang tengah terjadi saat itu tidak sedikit pun Frins mengalihkan perhatiannya dari acara berita tersebut bahkan bukan hanya itu Frins pun tidak melihat dan bicara sedikit pun kepada Komi, melainkan hanya terus saja melihat ke arah tv tersebut. Ketika Frins sudah beberapa saat menyaksikan berita tersebut Komi melihat Frins yang saat itu seperti menahan tangis entah apa yang Frins rasakan dan pikirkan saat itu tapi matanya mulai berkaca-kaca lalu tiba-tiba air mata menetes melewati pipi Frins saat itu, melihat hal tersebut tentu saja Komi tidak tinggal diam dan langsung menghampiri Frins yang sedang terduduk di sofa.
" Frins kenapa kau menangis? apa ada sesuatu yang kau cemaskan atau sesuatu yang lain?"tanya Komi.
Tapi ketika Komi bertanya seperti itu kepada Frins, Frins tidak mendapatkan jawaban melainkan hanya terus saja melihat ke arah tv tersebut sambil perlahan Frins mulai meneteskan air mata, Komi pun saat itu tentu saja merasa khawatir kepada Frins yang sepertinya saat itu sedang merasakan kesedihan dan ketakutan akan kecelakaan pesawat tersebut yang bisa saja keluarganya juga menjadi korban dari pesawat tersebut. Hingga ketika Komi terus saja melihat Frins saat itu tiba-tiba Frins pun terlihat akan terjatuh dengan mata yang perlahan menutup, tapi dengan sigap saat itu tentu saja langsung menangkap Frins yang sedang terjatuh ke bawah sambil matanya yang mulai tertutup pingsan.
" Frins,"dengan tangannya yang sigap Komi menangkap Frins yang saat itu benar saja langsung pingsan.
Karena saat itu Frins langsung saja pingsan ketika mendengarkan berita yang tengah menyiarkan mengenai sebuah peristiwa kecelakaan pesawat tentu saja Komi langsung membawa Frins ke kamar saja untuk menidurkannya, agar Frins merasa lebih baik karena bisa beristirahat saja di tempat yang lebih nyaman. Sampai sudah beberapa saat Komi menunggu Frins yang saat itu sedang tidak sadarkan diri karena mungkin saja syok mendengar kecelakaan pesawat yang terjadi saat itu, karena Frins yang merasa takut dan cemas jika kedua orang tua Frins ada di pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut sehingga ketika Frins menyaksikan kecelakaan tersebut Frins pun langsung pingsan.
Melihat Frins yang saat itu sudah pingsan selama satu jam dan hari pun sudah gelap mulai memasuki waktu malam, Komi pun merasa sedikit bingung dengan apa yang harus di lakukannya selain menjaga Frins agar Frins lekas sadarkan diri, sehingga saat itu Komi pun menuju ke sebuah meja yang ada di kamar Frins mencoba untuk mencari apakah ada peralatan obat di sana yang menyimpan minyak angin atau sejenis lainnya yang mungkin saja bisa membuat Frins merasa baikan sehingga bisa lekas siuman.
" Melihat Frins yang langsung pingsan seperti itu aku bisa membaca pikiran Frins yang sepertinya langsung merasa cemas dan khawatir, aku tahu yang dia takutkan adalah keluarganya berada di dalam pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut sehingga dirinya syok ketika melihat kejadian tersebut. Tapi Frins aku baru saja akan mengatakan jika kau tidak perlu panik karena korban yang ada di pesawat dan puing-puing pesawat tersebut belum di temukan sehingga masih ada harapan jika orang tua mu mungkin saja tidak berada di kapal yang mengalami kecelakaan tersebut, meskipun sebenarnya aku merasakan feeling yang sedikit tidak enak mengenai ini,"ujar Komi bicara sendiri sambil dirinya yang terus mencari sebuah kotak peralatan obat di seluruh area rumah Frins, mencoba menguatkan perasaannya sendiri dengan berpikir positif.
Dan ketika Komi sudah mencari kotak tersebut ke beberapa ruang rumah Frins, Komi pun akhirnya bisa menemukan kotak obat di meja Frins yang berada di dalam ruang kerja Frins meskipun Komi merasa tak enak karena harus masuk ke ruang bekerja orang yang tengah tak sadarkan diri tapi karena ini keadaan yang genting tentu saja Komi langsung mengambil kotak tersebut berharap semoga ada sebuah kotak obat yang berisi minyak angin di dalam nya yang mungkin saja bisa Komi gunakan untuk mencoba menyadarkan Frins. Ketika Komi sudah mendapatkan kotak obat tersebut Komi pun langsung saja menghampiri Frins yang saat itu sudah di tidurkan Komi di dalam kamarnya, membuka kotak obat yang Komi temukan dan pada akhirnya beruntung saat itu Komi menemukan sebuah minyak angin yang tentu saja Komi coba gunakan untuk menyadarkan Frins. Dengan menyodorkan minyak angin tersebut ke hidung Frins Komi pun perlahan mencoba membuat Frins menghisap aroma terapi yang ada di dalam minyak tersebut agar dirinya merasa lebih relaks dan pada akhirnya bisa mungkin bisa membuat Frins siuman dari pingsan nya.
Setelah beberapa saat Komi melakukan hal tersebut tapi Frins pun tidak langsung bisa siuman saat itu, memang saat itu Frins terlihat menghisap aroma terapi dari kayu tersebut dan seperti orang yang akan langsung sadar, tapi kenyataannya tidak seperti itu setelah Frins terlihat menghisap aroma terapi dari minyak tersebut Frins tidak bisa langsung siuman dan kembali tidak bergerak sama sekali dengan matanya yang masih tertutup, sehingga Komi pun terus saja mencoba hal tersebut karena melihat Frins yang sedikit sepertinya merasa lebih baik karena sudah bisa menghisap aroma terapi yang ada di minyak tersebut.
Tapi untungnya ketika Komi terus saja mencoba menyadarkan Frins dengan memberikan minyak angin tersebut, tidak lama kemudian Frins bisa sadarkan diri dengan dirinya yang langsung menangis.
" Komi, apa yang harus aku lakukan sekarang? aku merasa sangat takut jika pesawat yang kecelakaan tersebut adalah pesawat yang membawa kedua orang tua ku, aku takut Komi,"ujar Frins sambil menangis dan langsung memeluk Komi.
" Suuuttt, jangan langsung berpikir buruk seperti itu Frins kita belum tahu pasti mengenai semua orang yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat itu Frins, masih ada kemungkinan pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut bukan pesawat yang membawa kedua orang tua mu. Jadi sekarang jangan berpikir buruk, kau harus bisa tenangkan diri mu Frins,"ujar Komi.
" Tapi Komi bagaimana aku bisa tenang melihat kecelakaan pesawat tersebut, dengan orang tua ku yang sudah bilang mereka akan pulang ketika sore hari tapi sampai hari sudah malam seperti ini mereka belum juga kembali Komi,"ujar Frins kembali bertanya sambil terus saja menangis.
" Kau dengar kan jika tadi reporter mengatakan jika penerbangan yang lain di bandara tersebut delay? bisa saja orang tua mu masih tertahan di bandara dan belum sempat berangkat karena perjalanan mereka yang harus tertunda di sebabkan oleh kecelakaan atau bisa saja cuaca buruk yang terjadi saat ini? sekarang aku harap kau bisa tenangkan diri ku dulu Frins, tenangkan diri mu lalu coba untuk berdoa semoga yang terbaik yang akan kita hadapi setelah ini Frins,"ujar Komi mencoba kembali menenangkan Frins.
Ketika Komi bicara seperti itu Frins pun tidak langsung menjawab dan hanya bisa terdiam dengan air matanya yang terus menetes, dan tentu saja terus memeluk Komi. Melihat hal tersebut Komi juga tidak langsung bicara apa-apa dan hanya terus saja mencoba menenangkan Frins karena Komi yang memang juga merasakan sebuah rasa cemas dan khawatir yang sama meskipun sudah mencoba untuk menenangkan diri.
" Aku harap sebuah rasa tak enak dalam hati ku bukan feeling yang berhubungan dengan orang tua Frins, apa lagi kecelakaan ini,"ujar Komi dalam hati.
Ketika sudah beberapa saat Frins menangis sambil memeluk Komi perlahan tangisan Frins pun berhenti, dan sepertinya Frins sudah merasa sedikit tenang.
" Maaf Komi aku begitu sangat takut dan khawatir melihat kecelakaan tersebut sehingga aku tak sadar jika aku memeluk mu. Ini sudah malam Komi apa kau belum mau pulang sekarang? sepertinya apa yang kau katakan benar orang tua ku bisa saja masih terjebak di bandara dan sekarang mungkin mereka kembali ke hotel dan baru esok hari mereka akan pulang, jadi karena sepertinya itu yang terjadi mungkin kau lebih baik pulang saja dulu, kau bisa datang lagi esok atau kapan-kapan jika kau ingin bertemu dengan orang tua ku,"ujar Frins menyarankan agar Komi lebih baik pulang saja untuk hari ini karena sepertinya orang tua Frins tidak akan jadi pulang hari ini.
" Jika itu yang kau inginkan, baiklah Frins mungkin aku akan pulang saja dulu. Kau tak usah meminta maaf kepada ku karena aku tidak merasa keberatan harus kau peluk jika itu bisa membuat mu tenang Frins, apa kau yakin ingin aku pulang dan meninggalkan mu di sini sendirian?"ujar Komi.
Frins pun tidak menjawab pertanyaan Komi saat itu tapi yang Frins lakukan hanya berdiam diri sambil membelakangi Komi, begitu memujudkan jika Frins masih saja merasa kecewa dengan jawaban yang sudah Komi berikan padanya tadi, meskipun saat itu Komi tetap saja bisa melihat Frins yang kembali menangis setelah bicara seperti itu.
" Yasudah Frins, aku pamit pulang. Terima kasih untuk waktunya, mungkin esok atau lain hari aku akan kembali kemari ketika orang tua mu sudah pulang,"ujar Komi.
Dan ketika Komi pamit untuk pulang pun Frins tetap tidak menoleh atau menjawab perkataannya saat itu, sehingga yang di lakukan Komi saat itu tentu saja langsung pergi meninggalkan Frins pulang dengan perasaan yang sedikit merasa tak enak dengan perlakuan Frins yang begitu sepertinya sedikit berlebihan.
" Semoga saja apa yang aku pikirkan benar Frins, orang tua mu tidak ada di daftar korban kecelakaan pesawat tersebut. Semoga kau tidak terus-menerus memikirkan mengenai kejadian ini. Oh sial sepertinya hujan akan turun sebaiknya aku secepatnya pulang sebelum hujan benar-benar turun,"ujar Komi bergegas menaiki kendaraannya saat itu.
Tapi ketika Komi sudah naik kendaraannya dan mencoba untuk berangkat, tiba-tiba Komi mendengar suara banyak motor yang begitu bising yang sampai terdengar di telinga nya saat itu.
" Suara banyak motor yang begitu bising, sepertinya perkiraan ku tidak akan salah suara motor-motor ini adalah orang yang sempat aku lihat malam itu. Aku bisa menyangka seperti ini karena suara bising motor mereka yang sampai terdengar tanpa aku melihat keberadaan mereka, lebih baik sekarang aku berdiam diri saja dulu menunggu suara motor mereka yang sepertinya akan lewat ke jalan yang tak jauh ada di hadapan ku, dan bisa saja kita berpapasan lagi. Aku merasakan hal yang tidak enak mengenai ini, lebih baik aku menunggu,"ujar Komi tidak jadi langsung berangkat saat itu, menunggu suara banyak motor yang Komi dengarkan hilang.