Restoran itu tak terlalu ramai, namun cukup hidup. Lampunya sengaja dibuat temaram agar orang lupa jam, lupa beban, lupa kota yang barusan mereka lewati. Musiknya tak keras—hanya instrumen, cuma cukup untuk menutup percakapan meja sebelah. Pelayan berlalu-lalang dengan langkah sunyi, aroma butter dan lada hitam menyusup di sela embusan dingin angin AC. Mereka duduk berhadapan. Helia kelaparan. Bintang kaku karena merasa bersalah melihat jemari lentik itu gemeteran. “Lapar banget, ya?” tanya Bintang. Helia mengangguk jujur. Setelah panel test yang membuat hidungnya ‘mati rasa’ berulang kali, lalu proses racik parfum yang memakan hampir satu jam, ia seperti baru sadar jika cadangan energinya ikut tersita. Maka tak heran saat caesar salad datang, Helia sama sekali tak berpura-pura. D

