Pagi menjelang. Dan rasanya aneh bagi Helia. Bukan karena ia masih dalam waktu menstruasi. Bukan pula karena langit terlalu cerah. Dan bukan karena suara kota lebih ramai dari biasanya. Tidak ada perubahan besar yang tampak dengan mata. Namun... ia langsung tersenyum begitu bangun. Jantungnya berdebar cepat, perutnya ngilu, wajahnya hangat, padahal sengingatnya Dokter tak pernah memberi diagnosa aritmia atau GERD, dan ia tak sedang demam. Helia memandangi langit-langit kamarnya cukup lama. Ia mengingat percakapan semalam. Nada suara Bintang. Tatapan itu. Cara pria itu mengucapkan namanya, lalu menambahkan kalimat yang masih terasa seperti mimpi. Matahari fajarku. Helia menarik selimut sedikit lebih tinggi, menutup separuh wajahnya, lalu memekik histeris sambil mengentak-hentakkan

