Menjelang jam makan siang, Suasana Théologie perlahan berubah dari yang tadinya tenang menjadi riuh meski tak ricuh. Para pekerja kantor mulai masuk bergantian. Ada yang datang berdua sambil masih membahas pekerjaan, ada yang sendirian menyesap teh dengan telinga tertutup earphone dan mata yang memperhatikan lalu-lalang manusia di troroar, ada pula yang mampir terburu-buru hanya untuk take away. Suara sendok beradu dengan cangkir, kucuran air, mesin espresso mendesis, aroma teh yang diseduh, serta papan menu yang mulai diwarnai coretan sold out. Helia mondar-mandir di floor memastikan semua tamu mendapat tempat, memastikan pesanan tidak tertukar, pun sesekali menyapa dan berdialog dengan pelanggan tetap meski tak lama. Ia menahan diri untuk tak memegang ponsel. Setelah babak ‘baru jadian’

