Hari itu berjalan seperti biasa. Bintang menjemput di pagi hari, menurunkan Helia di Théologie. Jika tak ada pekerjaan yang menuntut kehadirannya di kantor, Bintang akan memindahkan meja kerjanya ke tea house tersebut. Namun, jika yang terjadi sebaliknya—seperti hari ini—ia akan melajukan motornya menuju kantor setelah memastikan Helia tak sendiri. “Ini. Ngga lama kan?” ujar Helia sambil menyerahkan sebuah tumbler mini ke Bintang. “Kamu ngga rugi apa setiap hari ngasih saya free teh begini?” balas Bintang. “Dilarang nolak rezeki!” sahut Helia. “Gih sana, drive safe, Bintang.” Bintang mengangguk. “Kamu masuk dulu.” “Kamu aja yang pergi dulu.” “Ngga, kamu masuk dulu.” “Ngga mau!” “Saya ngga pergi-pergi kalau gitu.” “Nanti kamu terlambat kerja.” “Ngga apa-apa.” “Kok ngga apa-apa s

