RUANG NAPAS

1327 Kata

Mereka berangkat selepas magrib, setelah jam ramai Théologie menurun dan Millie sudah mengambil alih shift dengan wajah percaya diri. Helia sempat menoleh dua kali ke pintu kafe, seperti seseorang yang takut ketinggalan sesuatu. Bintang tak mengomentari atau menertawakan kebiasaan itu. Ia hanya berdiri di samping Helia, menunggu tanpa mendesak. “Kita berangkat?” tanya Bintang pelan. Helia mengangguk, menarik napas dalam seolah baru saja menutup bab yang berat. “Ayo.” Jakarta malam itu masih basah sisa hujan yang turun singkat menjelang senja tadi. Di beberapa titik, genangan masih bertahan, memaksa motor-motor bergerak zigzag. “Jadi, kita ke mana?” tanya Helia. “Ke tempat-tempat yang bisa bikin kamu ingat kalau hidup ngga cuma target, notifikasi, dan review.” *** Beberapa saat ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN