Esok harinya, seperti biasa, Helia datang lebih awal dari para stafnya. Kunci berputar pelan. Lonceng kecil berdenting memecah sunyi. Udara di dalam kafe menyambutnya dengan aroma sisa kemarin yang masih menggantung. Helia menarik napas dalam-dalam sambil mensugesti diri dengan hal-hal baik. Ia kemudian menyalakan lampu satu per satu. Bintang menyusul masuk, menurunkan kursi dari meja dekat bar yang kini jadi favoritnya, lalu meletakkan tas kerjanya. “By the way, kopinya gimana? Laku kayak tehnya?” tanya Bintang seraya mendelik ke mesin espresso yang baru seminggu bertengger di balik konter. “Alhamdulillah. Meski belum sebanyak pesanan teh,” jawab Helia. “Apa ada yang salah, ya?” “Memangnya ada yang komplain?” “Belum sih.” Helia memindahkan vas-vas ke meja bar. Bintang berdiri dan

