Tari terlihat bak patung bernapas. Mulutnya terkatup rapat saat lelaki itu menarik kepala dari jangkauan Tari. Perempuan itu tak sanggup lagi berkata-kata. Melihat Tari diam saja, Rigi pun bertanya tanpa rasa bersalah. Lelaki itu memandang Tari heran, lalu membawa tangannya di atas kening sang istri, memastikan kalau Tari baik- baik saja. "Kenapa?" "Ba-barusan kamu cium aku?" Suara Tari dendeng gagap. Dengan usaha kerasnya, akhirnya perempuan itu berhasil membuka suara, meski tak sempurna. Bagi Tari, ini terlalu cepat. Dirinya pun belum siap. "Kenapa? Kan udah sah," timpal Rigi membuat wajah Tari bersemu. Ingin marah, tapi tidak bisa, karena pernikahan mereka dianggap sah baik hukum maupun agama. Bahkan, kalau mau, Rigi berhak meminta lebih atas dirinya. Tari pun tak punya kuasa apa pun

