Langkah kaki milik Tari dibawa menuju tempat yang Mayang pinta. Gadis itu berjalan dengan kecamuk perasaan yang tak karuan. Mayang benar-benar membuat Tari berpikir keras akan keadaan. Mengingat bagaimana air muka wanita itu ketika berbicara padanya. Tari hanya menyiapkan segenap hati untuk mendengarkan apapun yang akan Mayang katakan. Tari memantapkan langkahnya menuju halaman depan. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, kemudian menarik napas panjang, sebelum ia embuskan perlahan. Berusaha menetralisir isi pikiran. Ditatapnya lurus ke depan. Di sana, sudah ada Mayang yang menunggunya, sambil menikmati semilir angin si sore hari. Dengan hati ketar-ketir, gadis itu melanjutkan sisa langkahnya ragu, menghampiri Mayang yang tengah duduk santai sendirian di kursi depan rumahnya. Baru kali i

