Keesokan harinya
Arsyila tidak sabar menyambut kedatangan calon mertuanya. Tadi malam ia mendapat kabar dari Orang Tuanya jika Keluarga Firmansyah akan datang ke rumah untuk membicarakan niat baiknya. Akhirnya moment yang ia tunggu tiba juga. Elfathan telah memenuhi permintaan dan janjinya.
“Huhh..” Arsyila menghela nafas kasar.
“Ternyata rasanya seperti ini jika orang yang kita cintai datang melamar.” gumamnya
Arsyila memegang dadanya. Jantungnya berdebar kencang. Rasa yang baru pertama kali datang di hidupnya. Berulang kali ia menarik nafas panjang untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak biasa. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur karena moment di pagi hari ini.
Ceklek
Arsyila menatap ke arah pintu saat terdengar suara pintu terbuka. Terlihatlah Ibunya datang masuk ke dalam kamar. Kinan menghampiri putrinya sembari tersenyum manis. “MasyaAllah.. putri Mama sudah cantik ternyata.” Beliau memuji kecantikan putrinya.
“Hmm..”
“Tamunya sudah datang, Ma?”
“Sebentar lagi akan sampai, sayang. Kamu sudah siap kan?”
Arsyila berbalik badan menatap Ibunya. Siap tidak siap ia harus datang menemui Keluarga Elfathan. Ia menggenggam kedua tangan Ibunya. Kinan bisa merasakan dingin pada telapak tangan putrinya. Beliau tahu bagaimana perasaan Arsyila saat ini, karena beliau pernah berada di posisinya.
“Telapak tangan kamu terasa begitu dingin, sayang.” ujar Kinan
“Iya, Ma. Bahkan jantung Arsyila sejak tadi berdebar kencang.”
Kinan terkekeh geli mendengarnya. “Nggak papa. Hal itu wajar karena hari ini hari spesial kamu.”
“Mama pernah berada di posisi kamu, sayang.” lanjutnya
Tok.. tok.. tok
Terdengar suara ketukan dari luar kamar Arsyila. Dan tidak lama terlihatlah Fauzan yang membuka pintu. “Ada apa, Pa?” tanya Kinan
“Keluarga Elfathan sudah datang, Ma.”
“Arsyila kamu sudah siap kan?” tanya Fauzan
Arsyila mengangguk kaku. “InsyaAllah, Pa.”
“Yasudah. Kalau semuanya sudah siap kamu langsung turun ke bawah, ya!”
“Iya, Pa.”
Setelah itu Fauzan menutup pintu kamar. Beliau kembali menuju ruang keluarga untuk menemu Keluarga Elfathan. Genggaman tangan Arsyla semakin menguat pada Ibunya. “Ma, penampilan Arsyla bagaimana? Sudah perfect kan?”
“Iya, sayang. Kamu sangat cantik hari ini.” Kinan tersenyum manis menatap putrinya.
“Kalau baju Arsyila sudah cocok nggak?”
Lagi-lagi Kinan tersenyum. Beliau memegang kedua lengan sang putri sembari menatapnya lekat. “Sudah perfect semuanya, sayang. Kamu nggak perlu khawatir.”
“Alhamdulillah.”
“Kalau gitu kita keluar sekarang! Kita temui Keluarga Elfathan.” Arsyila mengangguk sebagai jawaban.
Arsyila menggenggam tangan Ibunya dengan erat. Ia seolah ingin menyalurkan perasaan gugup yang dirasakan pada Ibunya. Perlahan Arsyila dan Kinan menuruni anak tangga. Arsyila berjalan sembari menunduk dengan jantung berdebar kencang.
Deg.. deg.. deg..
“Rileks, sayang!”
“Semuanya akan baik-baik saja.” ujar Kinan memberikan semangat pada putrinya.
Mendengar suara langkah membuat Keluarga Elfathan menoleh ke sumber suara. Dan seketika Elfathan terpaku pada kekasihnya, Arsyila. Ia melihat kesempurnaan di dalam diri Arsyila pagi ini. Gadis itu terlihat sangat cantik. Bahkan kecantikannya berkali-kali lipat dari biasanya.
“MasyaAllah.. cantik sekali!” ucap Elfathan dalam hati
Bahkan Elfathan tidak mengalihkan pandangannya dari Arsyila. Ia berdecak kagum menatap kecantikan sang kekasih. Lebih tepatnya sebentar lagi akan menjadi calon istrinya. “Ekhm. Kedip, El!” ujar Sandra dengan nada menyindir.
“Ekhm.” Elfathan langsung tersadar dari lamunannya. Ia menunduk malu karena ketahuan oleh Ibunya.
Arsyila dan Kinan duduk berdekatan. Posisi Arsyila berdiri di tengah-tengah Orang Tuanya. Ia menunduk malu, karena posisi duduknya langsung berhadapan dengan Elfathan. Padahal biasanya ia selalu menjadi gadis bar-bar jika berada di dekat kekasihnya.
“Pak Fauzan, Bu Kinan, apa bisa kita mulai?” tanya Zahir memecah keheningan.
“Silahkan, Pak!” jawab Fauzan sembari tersenyum.
“Baiklah. Karena Pihak keluarga perempuan sudah memberi izin maka saya akan menyampaikan niat baik kami.”
Zahir berbicara terlebih dulu sebelum putranya. Beliau ingin mengawali pembicaraan sekaligus ingin menyampaikan sesuatu yang tidak diketahui oleh Elfathan dan Arsyila. Tadi malam mereka sudah membicarakan hal ini bersama-sama dan sepakat untuk hal baik tersebut.
“Pasti Nak Arsyila sudah tahu niat kedatangan kami ke sini, yaitu untuk melamar Arsyila. Namun setelah kami berbicara akhirnya kami memustukan untuk…” Zahira menggantungkan perkataannya membuat Elfathan dan Arsyila mendongak dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
“Ayah kenapa menggantungkan ucapannya sih?’ ujar Elfathan dalam hati. Ia merasa gemas dengan Ayahnya itu.
“Untuk menikahkan Elfathan dan Arsyila tepat di pagi ini.” lanjutnya
Deg
“Ha?”
Elfathan dan Arsyila terkejut mendengar perkataan Zahir. Kedua pasangan tersebut seketika saling menatap. Obrolan Elfathan bersama Orang Tuanya tadi malam tidak seperti ini, tapi kenapa tiba-tiba berubah?
“Ayah…”
“Elfathan, kamu dan Arsyila akan menikah pagi ini.”
“Kalian tidak perlu khawatir karena kami sudah mempersipkan semuanya.”
“Astagfirullah.” Elfathan beristigfar karena tidak bisa berkata-kata dengan rencana yang dibuat oleh Orang Tuanya.
“Pa, Ma, ini beneran?” tanya Arsyila pada kedua Orang Tuanya.
“Iya, sayang. Papa dan Mama sudah membicarakan hal ini semalam dengan Orang Tua Elfathan.”
“—“
Arsyila menunduk malu. Ia melipat bibirnya ke dalam menahan senyuman manis. Ia tidak menyangka hari ini adalah hari spesial sekaligus hari baik untuknya. Ia tidak tahu jika Orang Tuanya sudah merencanakan hal ini.
“Ya Allah, jadi sebentar lagi aku akan jadi istri Kak El?” pekiknya dalam hati
Berbeda dengan Arsyila yang terlihat begitu bahagia karena pernikahan ini. Karena sebelumnya ia yang sangat menginginkan hari baik ini. Namun, sebagai laki-laki Elfathan masih shock dengan kejadian pagi ini. Kejadiannya begitu tiba-tiba, bahkan tidak ada persiapan apapun darinya. Ia tidak tahu Orang Tuanya telah merencanakan ini semua.
Tidak lama para saksi datang ke kediaman rumah Keluarga Arsyila. Pagi ini tidak ada pernikahan kemewahan untuk mereka, melainkan hanya pernikahan sederhana yang dilakukan secara mendadak. Namun hal itu tidak mengurangi rasa bahagia pada dua keluarga tersebut. Hari ini adalah moment yang sangat ditunggu oleh dua keluarga tersebut.
Mereka akan menggelar resepsi pernikahan di hari lain yang tentunya lebih prepare daripada sekarang. Para saksi dan Orang Tua sudah siap. Tinggal menunggu pengantin Pria yang masih menyiapkan diri untuk acara Ijab Qobul.
“Ya Allah, El akan menjadi seorang suami. Bimbing El menjadi laki-laki dan suami yang lebih baik dan bertanggung jawab.” Doa’nya dalam hati
“Lancarkanlah acara hari ini.”
Meskipun Elfathan terkejut dengan acara hari ini, tapi ia berdoa yang terbaik. Ia berdoa agar acara hari ini berjalan dengan lancar tanpa adanya halangan apapun. Ia tidak menyangka statusnya akan berubah tepat di hari ini.
“Bismillahhirohmanirrahim.”
Next