BAB 3

1128 Kata
“Bagaimana para saksi? Sah?” “SAH!!” “Alhamdulillahhi’robbilalamin.” Dua keluarga tersebut tersenyum bahagia saat acara berjalan dengan lancar. Tidak ada halangan satupun. Tepat di hari ini Arsyila telah Sah menjadi istri Elfathan. Moment yang telah dinanti oleh dua keluarga dan sekarang telah terwujud. Allah menyatukan keduanya di waktu yang tepat. Meskipun belum ada resepsi pernikahan yang mewah namun kebahagiaan begitu terasa. Bahkan seserahan yang dibawa oleh Keluarga Elfathan cukup banyak dan mewah. Persiapan ini hanya dilakukan semalam oleh Orang Tua Elfathan. Bahkan pengantin pria tidak mengetahui rencana ini sebelumnya. Arsyila yang sejak tadi duduk di samping Elfathan tidak berani mendongak, bahkan sampai acara Ijab Qobul selesai dilaksanakan. “Nak, salim ke suamimu!” bisik Kinan “Ha?” Arsyila mengerjapkan matanya berulang kali. Setelahnya ia langsung tersadar apa yang harus dilakukan. Dengan ragu dan sedikit gemetar ia memberanikan salim pada Elfathan untuk pertama kalinya. “Ya Allah, kenapa tangan Arsyila gemetar seperti ini?” ucapnya dalam hati Elfathan menerima uluran tangan Arsyila. Ia merasakan hal yang sama. Keduanya sama-sama gugup karena baru pertama kali. Apalagi disaksikan dua keluarga yang saat ini menatapnya lekat. “Bismillah.” gumam Arsyila Arsyila mencium punggung tangan Elfathan sedikit lama. Setelah beberapa detik ia melepas tangan suaminya. Ia masih menunduk dengan wajah memerah karena malu-malu. “El, cium kening istri kamu!” ujar Sandra sembari menahan senyum. “Harus banget dicium sekarang, Bun?” pertanyaan polo situ keluar begitu saja dari mulutnya. “Iya dong. Harus!” Sandra menekan kata harus agar Elfathan segera melakukannya. Deg.. deg.. deg.. Jantung keduanya berdebar kencang. Yang biasanya Arsyila selalu menatap Elfathan secara terang-terangan namun ia tidak berani melakukannya saat ini. Ia lebih memilih untuk menunduk agar tidak bertatapan langsung dengan laki-laki itu. Padahal Elfathan telah menjadi suaminya. Elfathan memberanikan diri menanhkup wajah Arsyila. Hal itu membuat Arsyila mendongak menatapnya. Keduanya saling menatap dengan degup jantung yang berdegup kencang. Perlahan Elfathan mendekatkan wajahnya. “Ya Allah, apa yang ingin Kak El lakukan?” pekik Arsyila dalam hati Arsyila memejamkan mata karena takut sekaligus malu. Dan… Cup Bibir Elfathan menyentuh kening istrinya. Ia memejamkan mata seolah menikmati apa yang dilakukan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena mereka sudah halal. Setelah dirasa cukup Elfathan menarik diri dari Arsyila. “Alhamdulillah.. akhirnya kalian sudah Sah menjadi pasangan suami-istri.” ujar Fauzan sembari tersenyum bahagia. Kedua Orang Tua Elfathan dan Arsyila adalah orang yang paling bahagia di hari pernikahan mereka. Mereka sudah lama menunggu moment ini tiba. Karena Orang Tua Elfathan sudah tidak sabar ingin menggendong seorang cucu. *** Malam harinya Setelah acara Akad tadi pagi Orang Tua Elfathan membawa Elfathan dan Arsyila ke sebuah Hotel. Mereka sudah membooking satu kamar untuk pengantin tersebut. Bahkan hal sebesar itu Elfathan tidak mengetahui apa-apa. Dan sekarang Elfathan dan Arsyila berada di dalam kamar Hotel. Suasana canggung menyelimuti ruangan tersebut. Arsyila yang biasanya berisik mendadak menjadi pendiam. Ia tidak banyak bicara. Bahkan sejak tadi tidak ada yang memulai obrolan terlebih dulu. “Ekhm.” dehem Elfathan memecah keheningan. “Arsyila!” panggil Elfathan. “I-iya, Kak. Ada apa?” suara Arsyila terdengar gugup entah karena apa. “Em.. kamu nggak lapar?” “Lapar.” “Makan malam, yuk!” “Boleh.” Elfathan jalan lebih dulu keluar kamar lalu diikuti Arsyila dari belakang. Elfathan tiba-tiba berhenti membuat Arsyila ikut berhenti berjalan. Ia berbalik badan menghadap istrinya. Arsyila mengerjapkan matanya berulang kali. “Kenapa, Kak?” “Kenapa jalan di belakang saya?” “Nggak papa.” Jawab Arsyila sembari menyengir kuda. “Jalan di samping saya!” “Ha?” Arsyila mengerjapkan matanya berulang kali. Ia masih mencerna perkataan suaminya. “Memangnya kenapa, Kak?” “Kamu istri saya, bukan pembantu saya, Arsyila. Jalan di samping saya!” ujar Elfathan tidak terbantahkan. Arsyila menahan senyum setelah mendengar perkataan suaminya. Kata istri yang keluar dari mulut Elfathan menimbulkan sensasi menggelitik di perutnya. Bahkan sampai detik ini ia tidak menyangka bisa menikah dengan laki-laki yang dicintainya. “I-iya, Kak.” Saat ingin melangkah tiba-tiba Arsyila merasakan ada yang menggenggam tangannya. Ia menunduk menatap tangannya. “Boleh kan saya genggam?” tanya Elfathan “—“ Arsyila terdiam dengan perasaan tidak karuan. “Boleh, Kak.” jawabnya dengan nada gugup. Elfathan tersenyum. Setelahnya mereka berjalan beriringan menuju café yang ada di Hotel tersebut. Mereka akan makan malam bersama, karena sejak tadi siang keduanya belum makan. Namun anehnya Arsyila tidak merasa lapar sekali. Rasa laparnya seketika hilang saat berada di dekat suaminya. “Kamu mau makan apa?” tanya Elfathan “Samain aja seperti Kak El.” “Yakin?” Arsyila mengangguk sembari tersenyum. “Yaudah. Saya mau pesan nasi goreng seafood, kamu mau juga?” “Boleh.” Elfathan memesan dua nasi goreng seafood untuknya dan sang istri. Mereka menunggu pesanan datang selama beberapa menit. Dan selama itu tidak ada obrolan di antara keduanya. Arsyila sibuk menatap sekeliling. Tanpa ia sadari Elfathan sejak tadi menatap ke arahnya. Elfathan ingin membuka suara tapi tidak tahu caranya mengawali pembicaraan. “Kenapa jadi canggung seperti ini sih?” ujar Elfathan dalam hati “Arsyila!” panggil Elfathan memberanikan diri. “Iya. Kenapa, Kak?” “Em.. bagaimana perasaan kamu setelah menikah dengan saya?” Arsyila tersenyum kecil. Tanpa ditanya seharusnya Elfathan sudah tahu jawabannya. “Sangat-sangat bahagia, Kak.” Elfathan ikut tersenyum mendengarnya. “Apa sebahagia itu?” “Iya. Kan sudah lama Arsyila menunggu Kak Elfathan menikahi Arsyila.” “Maaf!” “Untuk?” “Kemarin-kemarin saat saya terdiam waktu kamu menanyakan sebuah pernikahan. Ternyata tidak seburuk itu.” “Hanya saja kita masih sedikit canggung setelah menikah.” lanjutnya Arsyila mengangguk sembari tersenyum manis. Elfathan menggenggam salah satu tangan Arsyila, dan… Cup Elfathan mencium punggung tangan Arsyila dengan mesra. Jantung Arsyila seketika ingin lepas dari tempatnya. Ia tidak menyangka Elfathan bisa melakukan hal seromantis ini. Padahal selama mereka menjalin hubungan kekasih sikap Elfathan terkesan dingin, bahkan seolah tidak serius dengannya. “Kak, ini di tempat umum.” ujar Arsyila dengan nada malu-malu. “Tidak masalah. Kita sudah halal, dan mereka sibuk dengan urusan masing-masing.” “Kamu sangat cantik jika malu-malu seperti ini.” ujar Elfathan Blush Kedua pipi Arsyila bersemu merah setelah mendengar perkataan suaminya. Ia mengalihkan pandangan seolah menyembunyikan kemerahan di kedua pipinya. Namun sebelum itu Elfathan sudah melihatnya dengan jelas. Arsyila semakin salah tingkah saat Elfathan menatapnya lekat. “Apasih, Kak?! Jangan menatap Arsyila seperti itu!” “Hmm.. baiklah.” Tidak lama pesanan mereka datang. Seketika suasana romantis yang Elfathan ciptakan hilang begitu saja. Sekarang waktunya mereka makan malam. Karena perut Elfathan sudah berbunyi sejak tadi. “Selamat makan, Istriku!” ujar Elfathan Arsyila melipat bibirnya ke dalam karena menahan senyum. Entah ke berapa kali Elfathan membuatnya salah tingkah. Ada rasa menggelitik saat Elfathan menyebut kata istri untuknya. Malu, tapi ia menyukainya. “Selamat makan, Kak!” Next
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN