Pukul 23.00 WIB
Satu jam yang lalu Arsyila dan Elfathan sudah kembali ke kamar Hotel. Mereka berniat istirahat karena hari sudah memasuki tengah malam. Namun lagi-lagi terjadi keheningan di saat mereka berdua berada di ruangan tertutup.
“Kal El mau ke mana?” tanya Arsyila karena melihat suaminya berniat keluar kamar.
“Mau keluar sebentar!”
Arsyila mengangguk sebagai jawaban. Melihat Elfathan keluar kamar ia langsung berdiri. Ia berniat mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Buru-buru Arsyila masuk ke dalam kamar mandi. Karena panik membuatnya lupa tidak membawa baju ganti. Ia baru tersadar saat sudah melepas pakaiannya.
Tak
“Astagaa, aku lupa bawa baju ganti.” ucapnya sembari menepuk kening.
“Haduhh.. gimana ini?”
Arsyila semakin panik karena lupa membawa baju ganti, padahal niatnya ingin ganti baju. Ia menggigit jari-jarinya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang. “Apa aku ambil sekarang sebelum Kak El kembali?” gumamnya
Arsyila terdiam sejenak. Ia berpikir keras harus melakukan apa sekarang. Setelah berpikir akhirnya ia menemukan jawaban. “Iya. Lebih baik aku ambil sekarang.”
Ceklek
Arsyila membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Sebelum keluar ia ingin memastikan terlebih dulu jika Elfathan masih belum kembali. Setelah memastikan semuanya aman Arsyila keluar dengan langkah terburu-buru. Ia harus segera mengambil baju ganti sebelum Elfathan kembali ke kamar.
“Aduh, mana sih baju tidur aku?” gumamnya dengan wajah panik
Arsyila mengobrak-abrik kopernya. Ia tidak peduli jika pakaiannya terlihat berantakan. “Akhirnya ke…”
Ceklek
Deg
Tubuh Arsyila mematung di tempat setelah mendengar suara pintu kamar terbuka. Ia yakin seseorang tersebut adalah suaminya, Elfathan. Arsyila terdiam. Ia bahkan tidak berani bergerak sedikitpun. Posisinya saat ini membelakangi pintu yang membuat ia tidak bisa melihat kondisi Elfathan.
“Ya Allah, apa itu Kak El sudah kembali?” ucapnya dalam hati
“Gimana ini?”
Begitupun dengan respon Elfathan. Ia sama terkejutnya seperti Arsyila. Saat ini ia melihat istrinya hanya menggunakan handuk dengan posisi membelakanginya. Tubuh Elfathan mematung di tempat. Tubuhnya terasa kaku. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
“I-itu Arsyila?” ucapnya dalam hati
Glek
Elfathan menelan ludahnya kasar. Tatapannya begitu lekat. Ia speechless dengan apa yang dilihat saat ini. “Arsyila!” panggilnya dengan nada gugup.
Deg
Arsyila semakin panik saat Elfathan memanggilnya. Ia memberanikan diri berbalik badan dan seketika berhadapan dengan suaminya. Elfathan berdiri tidak jauh dari hadapannya saat ini. Keduanya saling menatap dengan wajah gugup. Seketika suasana menjadi awkward.
“Kenapa Arsyila hanya memakai handuk?” batin Elfathan bertanya-tanya.
Arsyila menunduk malu saat Elfathan menatapnya lekat. Kedua kakinya terasa kaku, seolah ada lem yang menjadi perekat membuatnya tidak bisa melangkah. Elfathan menatap penampilan Arsyila dari atas sampai bawah. Degup jantungnya berpacu cepat seolah ingin lepas dari tempatnya.
Putih bersih, itulah yang menggambarkan Arsyila saat ini. Keindahan yang sayang untuk dilewatkan oleh Elfathan. Apalagi mereka sudah halal. Sah saja jika ia menatapnya, bahkan merasakannya. Entah dorongan dari mana Elfathan mendekat ke arah Arsyila. Ia tanpa sadar melangkah mendekat ke arahnya.
“Kenapa Kak El mendekat ke arahku?” ujar Arsyila dalam hati
Perasaan Arsyila semakin tidak karuan melihat Elfathan mendekat ke arahnya. Ia takut Elfathan melakukan sesuatu padanya. Dan akhirnya Elfathan berdiri tepat di hadapan Arsyila. Perasaan keduanya campur aduk. Mereka tidak bisa menjelaskan secara kata-kata.
“Arsyila, kamu…” Elfathan menggantungkan perkataannya.
“Em.. tadi Arsyila mau ganti baju di kamar mandi, Kak.” Jawabnya dengan nada malu
“—“ Elfathan terdiam.
“Ada apa dengan jantungku?” ujar Elfathan dalam hati
Elfathan menelisik penampilan Arsyila dari atas sampai bawah. Tatapannya begitu lekat membuat perasaan Arsyila tidak karuan. Sebagai seorang laki-laki pikiran Elfathan seketika tertuju ke arah malam pertama. Apalagi mereka berada di dalam ruangan tertutup. Mereka Sah saja melakukan apapun.
Dan, entah dorongan dari mana Elfathan mengelus pipi Arsyila dengan lembut. Sontak hal itu membuat Arsyila mendongak. Keduanya saling menatap dengan arti yang berbeda. Tatapan Elfathan beralih pada bibir merah alami milik istrinya. Ia ingin merasakan bibir itu.
“Kak El mau apa?” Arsyila menahan d**a bidang Elfathan saat laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya.
“Saya mau ini, Arsyila!” jawabnya sembari mengelus bibir bagian bawah milik Arsyila.
Deg.. deg.. deg..
Jantung Arsyila berdebar kencang. Lidahnya terasa keluh saat ingin menjawab perkataan suaminya. Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Elfathan. Padahal sebelumnya hal tersebut tidak terpikirkan olehnya.
Elfathan semakin mendekatkan wajahnya. Ia memiringkan sedikit wajahnya. Hidung mereka mulai bersentuhan membuat Arsyila menahan nafas. Tubuh Arsyila terasa kaku. Ia seolah tidak kuasa saat ingin menggerakkan anggota tubuhnya.
Dan…
Cup
“Uumhh..”
Arsyila melebarkan matanya saat bibir mereka menyatu dengan sempurna. Elfathan memejamkan mata saat bibir keduanya menyatu. Ia terdiam. Ia tidak bergerak ataupun melakukan sesuatu yang lebih. Ia ingin menikmati perbuatannya saat ini. Untuk pertama kalinya bibir mereka berdua bersentuhan. Elfathan telah mengambil first kiss’nya.
“Ya Allah, ini first kiss aku.” pekik Arsyila dalam hati
Elfathan membuka matanya secara perlahan. Bibir keduanya masih dengan posisi yang sama. Ia bisa menatap wajah cantik Arsyila dengan jarak yang begitu dekat. Keduanya berbicara melalui tatapan. Ibu jari Elfathan tidak berhenti mengelus pipi istrinya.
Perlahan ia mulai menggerakkan bibirnya. “Enghh..”
Arsyila terkejut dengan perbuatan Elfathan. Meskipun begitu ia tidak menolak, ia pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. “Uumhh..”
Tangan Elfathan beralih pada leher Arsyila. Ia mengelusnya dengan lembut dan penuh perasaan. Bibirnya tidak mau berhenti. Bahkan lama-kelamaan ia bergerak semakin kasar. Ia mulai mendorong tengkuk Arsyila agar ia bisa lebih dalam melakukannya.
“Emhh..”
“Kak…” dan untuk pertama kalinya Elfathan mendengar suara indah Arsyila.
“Emhh..” Arsyila melenguh pelan.
Lama-kelamaan Arsyila mulai hanyut dengan permainan suaminya. Tubuhnya merasakan sesuatu hal yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Mata Arsyila mulai terpejam karena merasakan nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Uumhh.."
Brugh
Pakaian yang berada di tangannya terjatuh begitu saja. Kakinya mulai lemas. Ia mulai terbawa suasana oleh perbuatan suaminya. Apalagi udara dingin seolah mendukung keduanya. Arsyila mengalungkan kedua tangannya pada leher Elfathan tanpa sadar. Ia melakukan hal tersebut untuk berpegangan karena kakinya mulai terasa lemas.
"Emhh.. Kak El!" panggil Arsyila dengan nada meracau.
Next