BAB 5

1110 Kata
Keesokan harinya “Kak El, ayo bangun!” Arsyila mengelus pipi Elfathan dengan lembut sembari menatapnya lekat. Ia tersenyum tipis saat teringat kejadian semalam. Ia tidak menyangka telah menjadi istri dari seorang Elfathan, sosok laki-laki yang dicintainya. Karena hari ini hari weekand mereka dengan bebas bangun kapan saja. Setelah melaksanakan Sholat subuh berjama’ah Elfathan dan Arsyila kembali tidur. Dan sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, sudah waktunya mereka bangun. “Enghh..” Elfathan melenguh karena merasa terganggu dalam tidurnya. Elfathan mengerjap pelan. Matanya terbuka secara perlahan. Penglihatannya terlihat buram karena masih mengantuk. Saat sepenuhnya tersadar wajah cantik Arsyila adalah orang pertama yang ia lihat saat pertama membuka mata. Ia tersenyum menatap istrinya. “Selamat pagi!” “Pagi, Kak!” Cup “Eh,” Elfathan langsung tersadar saat mendapat ciuman di keningnya. Arsyila tersenyum manis. Sejak kejadian semalam ia tidak malu-malu lagi. Rasa malunya hilang begitu saja entah ke mana. Meskipun mereka belum melakukan malam pertama namun Arsyila sudah tidak malu-malu lagi saat berdekatan dengan suaminya. Bahkan pagi ini ia yang memulai lebih dulu. Elfathan mengerjapkan matanya berulang kali. Apa ia tidak salah? “Kenapa, Kak?” tanya Arsyila “Ini benaran kamu?” Arsyila terkekeh geli mendengarnya. Kalau bukan dirinya siapa lagi! “Iya Kak, ini Arsyila!” “Bangun, yuk! Sudah pukul tujuh pagi.” lanjutnya “—“ Elfathan terdiam. Ia masih mencerna semuanya. Sikap Arsyila tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Arsyila seolah sudah terbiasa dengan situasi seperti sekarang ini. Namun di satu sisi, Elfathan merasa senang dengan sikap istrinya. Arsyila membuka tirai dan seketika cahaya matahari masuk ke dalam kamar. “Kamu sudah mandi?” tanya Elfathan “Belum.” “Yaudah. Saya mau mandi…” “Mandi sama-sama aja, Kak!” belum selesai Elfathan bicara Arsyila tiba-tiba memotong perkataannya yang membuat ia terkejut. “Ha?” Elfathan mengerjapkan matanya berulang kali. Apa ia tidak salah dengar. Lagi-lagi sikap Arsyila membuatnya terkejut. Arsyila tersenyum. Ia mendekat ke arah suaminya. Ia berdiri tepat di hadapan Elfathan lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher laki-laki itu. Glek Elfathan menelan ludahnya kasar. Apa gadis di hadapannya saat ini benar Arsyila, istrinya? Arsyila mengelus d**a bidang Elfathan dengan lembut. Tatapannya terlihat menggoda membuat Elfathan gugup dibuatnya. Pagi ini sikap Arsyila sedikit bar-bar membuat Elfathan gugup sekaligus bertanya-tanya. “Arsyila…” “Kenapa, Kak?” “Kak El kenapa terlihat gugup seperti itu? Bukankah kita tadi malam sudah melakukan hal lebih, hm?!” ucapnya sembari menaik-turunkan alisnya menggoda. “Astagfirullah. Apa benar ini Arsyila? Kenapa sikapnya terlihat bar-bar seperti ini?” ujar Elfathan dalam hati “Kamu kenapa Arsyila?” tanya Elfathan dengan nada gugup. “Arsyila mau mandi berdua!” jawabnya to the point Elfathan melebarkan matanya. Ia semakin terkejut mendengar perkataan istrinya. Lidahnya terasa keluh saat ingin menjawab. Elfathan tidak berniat menolak ataupun menyetujui. Ia masih terkejut dengan perubahan sikap istrinya yang begitu tiba-tiba. Arsyila tersenyum smirk. Entahlah, ia tidak lagi memiliki rasa malu di hadapan suaminya. Lagipula mereka sudah halal, bebas melakukan apapun. Arsyila menurunkan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum smirk membuat Elfathan bertanya-tanya. Arsyila mundur satu langkah dari hadapan Elfathan lalu membuka satu per satu kancing pakaiannya. “Arsyila kamu mau ngapain?” Elfathan terlihat panik melihat perbuatan istrinya saat ini. Seketika pakaian Arsyila luruh ke lantai setelah ia berhasil membuka semua kancingnya. Tubuh Elfathan mematung. Tepat di hadapannya saat ini ia melihat pemandangan yang sangat indah. Pemandangan yang baru pertama kali ia lihat. Deg.. deg.. deg.. Detak jantung Elfathan berpacu cepat seolah ingin lepas dari tempatnya. Bahkan ia tidak berkedip sedikitpun. Tatapannya terpaku pada objek di hadapannya saat ini. Arsyila tersenyum manis. Setelah itu ia kembali mendekat ke arah suaminya. “Kak El kenapa diam saja?” tanya Arsyila sembari tersenyum. “Mulai sekarang apa yang ada di dalam diri Arsyila semuanya milik Kak El.” “Astaga. Ada apa dengan jantungku?” ucap Elfathan dalam hati Dan… Brugh Arsyila tiba-tiba memeluk tubuh Elfathan dengan erat. Seketika dua benda kenyal milik Arsyila menempel sempurna di tubuhnya. Sebagai seorang laki-laki nalurinya langsung terpancing, apalagi hanya ada mereka berdua di dalam kamar ini. “Arsyila, kamu…” nafas Elfathan mulai memburu tidak beraturan. “Arsyila kenapa, Kak?” Arsyila tersenyum karena mendengar suara detak jantung suaminya yang cukup kencang. Ia sangat suka mendengarnya. “Kamu memancing saya, hm?” bahkan suara Elfathan telah berubah lebih berat dari sebelumnya. “Enggak kok. Arsyila…” Srett Belum selesai Arsyila bicara Elfathan tiba-tiba menarik kedua lengannya. Keduanya saling menatap dengan arti yang berbeda. Arsyila menatap suaminya dengan penuh tanda tanya, sedangkan tatapan Elfathan mengandung arti tersendiri. “Kenapa…” Cup “Uumhh..” Belum selesai Arsyila bicara tiba-tiba Elfathan menyatukan bibir keduanya. Elfathan sudah terpancing karena perbuatan istrinya. Bahkan kali ini pergerakannya sedikit lebih kasar daripada sebelumnya. Nalurinya sebagai laki-laki telah terpancing. Bahkan saat ini tubuhnya terasa panas-dingin merasakan sensasi aneh dalam dirinya. “Emhh..” Suara decapan lembut mulai terdengar memenuhi ruangan. Elfathan memutar tubuh Arsyila. Dan… Brugh “Aakkhh..” Arsyila merintih karena terkejut. Tubuh keduanya jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Elfathan berada di atas tubuh Arsyila. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Arsyila harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia menggenggam kedua tangan Arsyila dengan cukup erat. Bibirnya tidak mau berhenti bergerak membuat Arsyila sedikit kuwalahan saat mencoba mengimbangi. “Uumhh..” “Kakhh..” “Emhh..” Arsyila melenguh pelan. Karena gemas Elfathan menggigit bibir bawah Arsyila membuat perempuan itu merintih pelan. “Awhss..” “Pelanh-pelanhh gigitnya, Kak! Aakkh..” Setelah merasa cukup Elfathan menarik diri dari. Nafas keduanya memburu. Tatapan Elfathan berubah tajam seolah siap menerkam mangsanya. Dadanya bergemuruh hebat merasakan sensasi luar biasa. Sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Tatapan Elfathan sedikit menunduk tertuju pada dua benda kenyal milik istrinya. Pemandangan indah itu terlihat jelas di depan matanya. Tanpa penghalang apapun yang membuat Elfathan tidak sabar untuk menyentuhnya. Elfathan menunduk. Ia tersenyum smirk menatapnya. “Sangat indah!” Blush Kedua pipi Arsyila bersemu merah saat mendengar pujian dari suaminya. “Silahkan melakukan apapun pada Arsyila, Kak! Arsyila akan pasrah.” ucapnya dengan nafas terengah “Hmm..” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban. Tanpa ragu Elfathan menyentuhnya dengan salah satu tangan. “Aahh..” Reflek Arsyila melenguh saat Elfathan menyentuhnya. Ia meremas sprei dengan kedua tangannya sebagai pelampiasan. Tubuhnya bergetar hebat hanya dengan satu sentuhan. “Kakhh…” “Mainkan, Kak!” “Aakkhh..” Arsyila mulai hilang kendali. Suaranya mengalun indah di telinga Elfathan. Laki-laki itu tersenyum penuh arti. Ternyata rasanya seperti ini. Terasa pas di tangannya. Bahkan terasa padat dan kenyal seperti squisy. “Ternyata seperti ini rasanya. Sepertinya akan menjadi mainan baruku setelah ini.” ujar Elfathan dalam hati “Enghh.. lebih kencang, Kak!” Arsyila meracau tidak jelas. Next
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN