Kebetulan selama tidur semalaman Elfathan tidak menggunakan baju, hal itu mempermudah dirinya melakukan hal lebih. Ia menarik diri setelah merasa cukup. “Huhh..” nafas keduanya terengah.
Elfathan menatap istrinya lekat. Mereka berbicara melalui tatapan. Arsyila tahu maksud dari tatapan suaminya. Ia menangkup wajah Elfathan sembari tersenyum. Dengan senyuman itu seolah mengizinkan Elfathan untuk melakukan lebih dari ini.
“Kenapa, Kak?” tanya Arsyila dengan nafas terengah.
“Saya sudah tidak bisa menahan diri Arsyila.”
“Terus?”
Arsyila tahu maksud suaminya namun ia ingin Elfathan mengatakan sendiri keinginannya. Elfathan mendekatkan wajahnya pada telinga Arsyila lalu membisikkan sesuatu padanya. Ia terdiam sejenak, hal itu membuat Arsyila menunggu.
“Ayo bilang, Kak!” ujar Arsyila dalam hati
“Saya ingin meminta hak saya sebagai seorang suami.”
Arsyila tersenyum mendengarnya. Ini yang ia tunggu-tunggu. “Kak El menginginkan Arsyila sekarang juga?” Elfathan mengangguk sebagai jawaban.
“Kalau gitu lakukanlah, Kak! Arsyila pasrah dengan apa yang ingin Kak El lakukan.”
Elfathan tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia tidak menyangka Arsyila langsung mengizinkan tanpa berpikir panjang terlebih dulu. “Apa kamu sudah benar-benar yakin?” tanyanya sembari mengelus pipi Arsyila dengan lembut.
Arsyila mengangguk sembari tersenyum manis. “Arsyila sudah yakin, Kak.”
“Hmm.. baiklah.”
Elfathan menegakkan tubuhnya. Tanpa menunggu lama ia langsung melakukan keinginannya. Namun sebelum itu Elfathan menutup tirai agar tidak ada yang melihat perbuatan mereka berdua. Pagi ini akan menjadi pagi terpanjang bagi keduanya. Yang seharusnya mereka lakukan tadi malam justru dilakukan waktu pagi hari.
Arsyila mengalihkan pandangan melihat penampilan Elfathan saat ini. Kedua pipinya bersemu merah karena malu. Jantungnya berdebar kencang. Dan, untuk pertama kalinya ia melihat hal tersebut. Elfathan terlihat begitu tampan dan gagah.
Elfathan kembali menindih tubuh istrinya. Ia menggenggam kedua tangan Arsyila dengan lembut. “Kalau nanti sakit bilang, ya!” Arsyila mengangguk sebagai jawaban.
Cup
“Uumhh..”
Elfathan menyatukan bibir keduanya. Sebelum ke inti ia melakukan hal-hal kecil terlebih dulu untuk menciptakan hangatnya suasana. “Emhh..” Arsyila melenguh pelan.
Elfathan tidak ingin terlalu lama dan fokus hanya pada bibir Arsyila. Masih banyak keindahan lain yang harus ia nikmati. Ia beralih pada leher jenjang Arsyila. Ia meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Rasanya Elfathan tidak mau berhenti. Bahkan ia meninggalkan gigitan kecil yang membuat Arsyila merintih kesakitan.
“Awhss..”
“Sshh.. Kak..” Arsyila merintih pelan.
Sedikit sakit namun ada nikmat tersendiri di dalamnya. Ia semakin mengeratkan genggaman tangan keduanya. Nafas keduanya memburu tidak beraturan. “Enghh.. Kak, lakukan sekarang!” ujar Arsyila dengan nada memohon.
“Sstt.. jangan gegabah, Arsyila!”
Suara Elfathan berubah berat. Ia bergerak semakin turun ke bawah. Sampailah pada perut istrinya. Ia terdiam sejenak di perut Arsyila. Ia menatapnya lekat, memiliki arti di balik tatapannya. Elfathan mengelus perut Arsyila dengan lembut dan penuh perasaan. Ia tersenyum saat mengelusnya.
“Emhh..”
Arsyila menggeliat kecil saat Elfathan mengelus perutnya. Seketika sensasi menggelitik ia rasakan. Bahkan ia merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di atas perutnya.
Cup
“Kak.. Owhh..” Arsyila melenguh pelan.
Elfathan mencium perut Arsyila dengan lembut. Dalam hatinya seolah mengharapkan hal lebih. “Kak, Arsyila sudah tidak tahan.” ucapnya dengan nada meracau
“Enghh..”
Elfathan tersenyum penuh arti. Mendengar suara Arsyila memohon membuatnya merasa bahagia. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. “Sebentar lagi…”
Tringg..
Tringg..
Tiba-tiba ponsel Elfathan berbunyi nyaring. Bahkan ia belum selesai bicara dan harus terpotong karena suara dari ponselnya. Hal itu membuat Elfathan dan Arsyila terkejut. Mereka mengalihkan pandangan ke arah meja kecil yang berada tidak jauh dari mereka saat ini.
“Ponsel Kak El bunyi.” ujar Arsyila
“Oh, s**t!” reflek Elfathan mengumpat karena aktivitasnya terganggu.
“Siapa yang telah mengganggu aktivitasku?” ucapnya dalam hati
Arsyila mendorong tubuh Elfathan menjauh darinya. Ponsel Elfathan terus berbunyi pertanda ada telepon masuk. “Sepertinya ada yang menghubungi Kak El.”
“Tidak penting!”
“Jangan seperti itu, Kak! Siapa tahu penting, urusan pekerjaan.”
“Ck,” Elfathan berdecak kesal.
Ia tidak marah dengan istrinya melainkan pada seseorang yang telah menghubunginya. Elfathan meninggalkan Arsyila. Ia mengambil ponselnya dengan kasar lalu menerima sambungan telepon tersebut tanpa melihat siapa yang telah menghubungi.
“Apa anda tidak tahu pukul berapa sekarang? Ini masih pukul tujuh pagi, bahkan masih sangat pagi.” Elfathan melampiaskan kekesalannya pada seseorang itu.
“El, ini Bunda loh!” ujar Sandra di sebrang sana.
Deg
Elfathan melihat layar ponselnya untuk memastikan. Dan benar saja yang menghubungi adalah Ibunya. Ia menelan ludahnya kasar. Betapa bodohnya ia tidak melihat terlebih dulu siapa yang telah menghubunginya.
“B-bunda!” gugupnya
“Kamu kenapa? Jadi Bunda mengganggu kamu, iya?”
“Enggak, Bunda.” Jawabnya cepat
“Tadi El pikir siapa.”
Elfathan menatap istrinya sembari tersenyum canggung. Ia benar-benar tidak tahu jika Ibunya yang menghubungi. Begitupun Arsyila hanya bisa tersenyum malu. Untung saja ia meminta Elfathan untuk menerima telepon tersebut jika tidak, entah apa yang akan terjadi.
“Ooh.. terus kalau bukan Bunda yang menghubungi kamu bisa berkata seenaknya seperti tadi, iya?”
“Enggak juga, Bunda.”
“Ini kan masih pagi, jadi… sedikit mengganggu.”
“Dasar kamu ya!” Elfathan terkekeh geli mendengarnya.
“Memangnya kenapa Bunda menghubungi El pagi-pagi seperti ini?”
Di sebrang sana Sandra langsung tersenyum mendengar pertanyaan putranya. Beliau dengan sengaja menghubungi Elfathan karena merasa penasaran dengan aktivitas putranya setelah menikah. Dan, beliau ingin memastikan mereka tidak terlambat bangun.
“Em.. gimana tadi malam?” tanya Sandra dengan wajah berseri bahagia.
Elfathan mengernyitkan keningnya bingung. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Ibunya. “Maksud Bunda?”
“Masa kamu nggak ngerti apa yang Bunda maksud?”
“Enggak.”
“Ck, itu loh, El!”
Elfathan mengerjapkan matanya berulang kali. Ia mencoba memahami perkataan Ibunya. “Itu apa sih, Bun? Kalau bicara jangan setengah-setengah, El nggak tahu.”
“Ck,” Sandra berdecak kesal mendengar jawaban putranya.
“Kamu sudah malam pertama belum?” tanyanya to the point karena beliau merasa kesal.
Uhuk.. uhuk..
Elfathan seketika tersedak ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka Ibunya menanyakan hal tersebut. Justru ia ingin melakukannya namun Sandra telah mengganggu. “Kak El kenapa?” tanya Arsyila sedikit khawatir melihat suaminya tiba-tiba tersedak.
“Nggak papa.”
“Bunda apaan sih, kayak nggak ada pertanyaan lain aja.” Elfathan sedikit malu mendengar pertanyaan Ibunya. Dan tidak mungkin ia mengatakan dirinya gagal melakukan itu karena perbuatan Sandra.
“Bunda kan ingin tahu, El. Bunda nggak sabar pengen cucu.”
“Sabar!”
“Udah ah, El matiin dulu!” lanjutnya
“Tapi…”
Tutt.. tutt.. tutt..
Belum selesai Sandra bicara Elfathan lebih dulu mematikan sambungan teleponnya. Moodnya seketika hancur karena perbuatan Ibunya. Bahkan pertanyaan Sandra barusan sangat mengganggu. Jika Sandra tidak mengganggunya kemungkinan ia sudah membuatkan cucu untuk beliau.
"Bunda nyebelin banget sih!" gerutu Elfathan dalam hati
"Mau juga dibuatin malah ganggu."
Next