PERJUANGAN ALEA

862 Kata
Seminggu sejak kejadian waktu itu. "Kak Kevin ke kantin yuk!" "Kak Kevin pulang bareng yuk!" "Kak Kevin, Lea bawain bekal jangan lupa di makan ya!" "Kak Kevin kenapa mukanya pucet? Kak Kevin Sakit?" "Kak Kevin kok ngehindarin Lea sih?" "Kak Kevin, Lea suka loh sama kakak!" "Kak Kevin minta id line nya dong!" "Kak Kevin mau nggak jadi pacarnya Alea?" "Kak Kevin jadi pacar Lea ya!?" "Kak Kevin ---" "Kak Kevin---" "Kak Kevin---" Sudah semingguan ini Alea gencar mendekati Kevin, entah urat malunya kemana sampai-sampai ia berani bertindak dan berucap sedemikian rupa. Kevin yang sudah dikejar-kejar oleh Alea selama seminggu terakhir, merasa jengah dan risih akan kehadiran gadis tersebut. Disaat Alea mendekatinya, maka ia akan pergi menghindar kemana pun asalkan tidak bertemu dengan gadis yang dianggapnya gila itu. Disinilah ia sekarang, duduk di pojokan kantin sekolah bersama ketiga sahabatnya Bayu Radeya, Reza Niscola Ardhan, dan Taufik Freddy. Ia memang sengaja duduk di pojokan kantin agar tidak terlihat oleh Alea. Tapi sayangnya dewi fortuna tidak berpihak padanya. Di depan sana, tepatnya di pintu masuk kantin muncullah sosok Alea beserta senyum cerahnya. Kevin sontak menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan sebuah kardus. Alea menengok kiri kanan sambil memegang kotak bekal dan mengamati penghuni seisi kantin. Tiba saat ia menengok ke pojokan kantin, ia melihat ke arah Reza yang sedang memakan baksonya dan seseorang yang duduk sambil menutup kepalanya dengan kartus. Ia bergumam, "Kak Reza sama yang lainnya ada, tapi kemana kak Kevin?" Alea mengernyit bingung. Tiba-tiba ia mengamati tangan laki-laki yang berada di samping Reza dan Gotcha! Alea menemukannya, ia menemukan Kevin. Sehingga tercetaklah senyum lebar dari bibirnya. Dan ia beranjak mendekati mereka. Setibanya Alea di depan meja Kevin dan sahabatnya, ia langsung menyodorkan kotak bekal di depan Kevin yang sedang menikmati bakso pesanannya, dan jangan lupakan kardus yang masih menutupinya. "HAY KAKAK!" pekik Alea senang. UHUKK! "MINUM MANA MINUM?!" Kevin tersedak kuah bakso pedas yang panas. Matanya berair dan tenggorokan serta hidungnya terasa terbakar. "Eh! Ini kak! Ayo minum!" Alea menyodorkan gelas berisi air. Namun, Alea tak menyadari jika air itu-- "PANASSS! AIRNYA PANAS, BEGO!" teriak Kevin marah, lalu ia berlari menuju Bi Elok yang merupakan Bibi kantin. Setelah mendapatkan air dan meredakan sakitnya. Kevin kembali lagi ke meja kantinnya dan menatap tajam Alea. "Kak Kevin, ini Lea buatin bekal buat kakak. Dimakan ya." ucap Alea tersenyum polos pada Kevin tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Gue kenyang!" ucap Kevin dengan suara rendah dan mata yang menatap tajam Alea. "istirahat kedua aja kak makannya." saran Alea. "Gue gak mau!" geram Kevin dan kembali duduk ditempatnya. "Tapi kan kak, Lea relain bangun pagi cuma untuk buatin bekal kakak." ucap Alea sedih. "Siapa suruh?" ucap Kevin dingin lalu bangkit mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari kantung bajunya lalu meletakkannya di meja tempat ia makan tadi. Baru dua langkah Kevin meninggalkan tempatnya tadi, tangannya terlebih dahulu dicekal oleh Alea. "Kakak mau kemana? Ini bekalnya." ucap Alea tak menyerah memberikan kotak bekalnya pada Kevin. "LEPAS! Gue bukan anak kecil yang dibawain bekal segala." ucap Kevin datar dan menyentakkan tangannya yang di pegang oleh Alea. "Siapa bilang cuma anak kecil yang bawa bekal. Lea bawa bekal setiap hari kok," ucap Alea polos. "Ini kak buruan ambil! Tangan Lea pegel." ucap Alea sambil menyodorkan bekalnya mendekati Kevin. Kevin sangat geram akan tingkah Alea yang membuatnya malu. Bagaimana tidak malu, seisi kantin semuanya melihat pada ia dan gadis di depannya ini. Tak mau berlama-lama kevin lantas mengambil kotak bekal Alea dan berbalik pergi meninggalkan kantin. Alea yang melihat itu melompat-lompat gembira dan menyusul Kevin. "Kakak udah suka belum sama Alea?" tanya Alea pada Kevin. "Gak," ucap Kevin cuek. "Sedikitttt rasa suka, ada gak?" tanya Alea lagi. "ENGGAK!" bentak Kevin. "Kalo besok udah suka belum?" tanya Alea berharap. Kevin yang tidak tahan lagi langsung berhenti mendadak sehingga membuat Alea yang disampingnya juga berhenti. "MAU LO APA, HAH?!" bentak Kevin emosi dan menatap Alea tajam. Deg! "I--itu kak, A-alea cu-cuma---," ucap Alea gemetar takut. Akibat bentakan Kevin barusan matanya sekarang berair, jika saja ia berkedip maka dipastikan butiran air akan menjalar ke pipi chubby-nya. "STOP! TUH AMBIL, GUE GAK BUTUH!" Bentak Kevin lagi lalu melempar kotak bekal Alea ke tanah. Sontak hal itu membuat Alea terlonjak kaget dan menatap kotak bekalnya nanar. Tanpa rasa bersalahnya Kevin meninggalkan Alea yang tengah memungut kotak bekalnya itu. ‘Semangat Alea! Mungkin besok kak Kevin suka sama kamu!’ batin Alea menyemangati lalu berdiri dan pergi berlawanan arah dengan Kevin menuju kelasnya sambil berjalan gontai. "Lohhh, lo kenapa?" ucap Anggi khawatir saat melihat Alea yang masuk dengan tetesan air dipipinya dan kotak bekal yang kotor ditangannya. Alea hanya diam saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Anggi, sahabatnya. "Gara-gara dia lagi?" ucap Anggi. Alea yang mendengar penuturan anggi sontak memeluk Anggi dan semakin menangis sesenggukan. "Gi, si Alea kenapa?" tanya Angga heboh menghampiri kedua sahabatnya itu. Lalu di susul Aldi di belakangnya. "Biasalah urusan cewek," ucap Anggi tenang. "Cup! Cup! Cup! udah yah beb jangan nangis. Kasih tau aja ke babang Angga ini. siapa pelakunya? Entar bakalan gue cucuk hidungnya!" ucap Angga menepuk dadanya bangga bak seorang super hero. Setelah mendengar penuturan Angga, Alea berhenti menangis dan tertawa kecil. Setidaknya dengan kedatangan Angga, suasana yang awalnya sedih menjadi lebih berwarna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN