SUAMI KEJAM!

1298 Kata
Firda berdecak kesal melihat tatapan dingin dari bos sekaligus suami barunya itu. Tapi meskipun begitu, dia tetap beranjak dari duduknya untuk mengemasi pakaian. Demi apapun, jika bukan karena perintah sang ayah, Firda tidak akan mau ikut bersama suaminya. "Nyebelin, ngeselin, dingin. Awas aja kalau tinggal satu rumah malah nyusahin!" Wanita itu terus menggerutu sambil memasukkan pakaian pada koper miliknya. Tidak banyak yang Firda punya di sana. Mengingat dia hanya kos saja. Rumah kedua orang tuanya pun masih ada di kota yang sama. Ingat, ya! Dia bekerja dengan Barra bukan karena butuh uang. Tapi karena ingin mencari pengalaman. Jika mau, Firda bisa saja ikut mengurusi perusahaan ayahnya. Tapi nahas, pengalamannya malah sangat menyedihkan, bahkan berakhir menjadi pernikahan. Entahlah semalam mimpi apa hingga sekarang dia sudah menjadi istri orang. "Pokoknya aku gak akan biarin Pak Barra semena-mena sama aku! Dia kan kalau di kantor selalu seenaknya marahin orang, salahin orang. Awas aja kalau di rumah kayak gitu juga, aku laporin sama Ayah!" "Udah ngomelnya?" Firda terperanjat hingga tas yang ia pegang jatuh ke lantai. Wanita itu memutar tubuhnya dan melihat Barra sudah berdiri di ambang pintu kamar. "S-sejak kapan Pak Barra di situ?" tanyanya kelu. Jujur saja, berhadapan dengan wajah dingin Barra itu lebih menyeramkan daripada berhadapan dengan dosen pembimbing ketika masa perkuliahan. Barra berjalan mendekat hingga kini berdiri tepat di depan Firda. "Sejak kamu bilang saya nyebelin, ngeselin, dingin, bla bla bla." Dia menirukan ucapan Firda dengan mempertahankan aura dinginnya. Firda mengatupkan bibirnya. Dia tidak berani membantah karena itu memang benar adanya. Tapi, apa masalahnya? Firda tidak bicara fitnah. Itulah kebenarannya. Wanita cantik yang mengenakan setelan tunik juga pashmina berwarna senada itu segera menyeret kopernya keluar. Melenggang begitu saja seakan tak ada Barra di sana. "Pak Barra! Jadi berangkat gak?!" Barra hanya geleng-geleng kepala mendengar teriakan Firda. "Haruskah saya punya istri aneh seperti ini, Tuhan?" *** Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Barra dan Firda sama-sama terdiam, tak ada yang mau mengawali pembicaraan. Ya, mereka berada dalam mobil yang sama dengan Barra yang menyetir. Sedangkan Haris dan Abi, mengendarai mobil masing-masing di belakang mereka. Mobil Barra sudah memasuki halaman rumah megah Keluarga Wiyatama. Gegas keduanya turun dari mobil. Firda menatap bangunan rumah ini dengan tatapan biasa saja. Tidak terlalu takjub karena rumah kedua orang tuanya pun hampir sama besarnya. "Firda!" Firda mengedarkan pandangan pada sumber suara. Matanya berembun seketika saat melihat sosok sang ibu ada di depan sana, melambaikan tangan padanya. "Ibu!" Firda berlari saat itu juga dan langsung masuk ke dalam dekapan ibunya. Menumpahkan tangis pilu dalam pelukan wanita kesayangannya. "Sudah, jangan nangis." Wirda mengusap lembut punggung putri bungsunya. "F-firda gak salah, Ibu. B-bu Wati salah paham. F-firda gak ngapa-ngapain sama Pak Barra," jelas Firda sambil terisak, masih dalam dekapan ibunya. Wirda melerai pelukannya. Dia menangkup kedua pipi sang putri satu-satunya. "Ibu percaya sama kamu. Putri Ibu gak mungkin berbuat kotor seperti itu." Firda semakin terisak dengan air mata yang terus mengalir deras. "T-terus kenapa Ibu gak larang Ayah waktu bilang mau nikahin F-firda sama Pak Barra?" "Bu Wati dan suaminya sedang emosi, Nak. Mau kita bujuk seperti apapun, hasilnya akan tetap sama. Lagipula kamu dan Barra masih sama-sama single. Gak ada salahnya dong, kalian nikah?" Seketika Firda merengek tak suka. "Ibu... Tapi kan Firda gak mau dinikahin sama Pak Barra!" Barra yang berdiri di belakang Firda pun sontak melotot tajam. Apa dia tidak salah dengar? Firda tidak mau dia nikahi? Hello! Asal tahu saja! Di luaran sana banyak wanita berbagai macam bentuk yang ingin menjadi istri Barra. "Emh, oh ya. Ini ibu mertua kamu, Firda." Wirda segera mengalihkan pembicaraan. Takut Barra tersinggung oleh ucapan putrinya. Tatapan Firda beralih pada seorang wanita berhijab yang berdiri di samping sang ibu sejak tadi. Sorot matanya begitu teduh dan menenangkan hati. "Hallo, Firda. Saya Nisa, ibunya Barra." Nisa menyapa dengan ramah pada menantu dadakannya. Firda balas tersenyum sambil menyalami tangan kanan ibu mertuanya. "Hallo, Ibu." "Lho, udah datang tamunya?" Firda mengalihkan perhatian pada seorang perempuan cantik yang menyimbulkan kepala dari belakang Nisa. Berhijab dan masih muda. "Ini Kak Firda, kan? Hallo, Kak. Aku Zoeya. Panggil Zoe aja. Aku adik bontotnya Bang Barra. Umurku baru 20 tahun, mau otw jadi mahasiswi tingkat akhir." Zoeya mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Firda. "Hallo, Zoe." "Wah... suara Kak Firda manis banget." Mata Zoeya tampak berbinar. Dia langsung menggandeng tangan Firda untuk masuk ke dalam. "Zoe itu udah lama pengen punya kakak perempuan, lho. Terus pas dengar Bang Barra barusan nikah, Zoe seneng banget. Apalagi setelah lihat Kak Firda kayaknya sefrekuensi sama Zoe." Firda hanya menanggapi dengan senyuman semua ocehan Zoe yang mengandung pujian dan kebahagian. Perasaan Firda sedikit tenang sekarang. 'Syukur, deh. Orang tua sama adeknya baik. Semoga aku diperlakukan baik juga di sini.' *** Semua baru saja selesai menyantap makan malam. Ayah dan ibu Firda pun sudah pamit pulang, tak bisa di sana berlama-lama. Saat ini, Firda hanya terduduk kaku di atas sofa, bersama Barra, Zoeya, dan kedua mertuanya. Sungguh, dia merasa canggung berada di tempat yang asing ini. "Firda, jangan sungkan di sini. Anggap aja ini rumah kamu juga." Nisa menggenggam lembut tangan menantunya. Firda menolehkan kepala dan membalas dengan senyuman pada sang mertua. "Iya, Bu. Makasih udah mau terima Firda." "Ih, Kak Firda mah diterima banget di sini. Pokoknya mulai sekarang Kak Firda udah jadi bestie Zoe. Kalau Bang Barra macam-macam sama Kak Firda, laporin aja sama Zoe." Zoeya dengan menepuk dadanya dengan bangga, seolah dia siap jadi garda terdepan untuk kakak ipar barunya. Firda hanya terkekeh kecil. Dia cukup terhibur dengan kehadiran Zoeya yang cerewet dan ceria. Tadi pun dia sudah berbicara banyak dengan adik dari suaminya ini. "Khem." Haris berdehem sambil menatap semua orang bergantian. "Sepertinya pengantin baru butuh banyak waktu. Jadi, lebih baik biarkan Firda dan Barra masuk ke kamar mereka." Nisa yang paham maksud sang suami pun hanya tersenyum menatap Barra dan Firda bergantian. Ya, meskipun keduanya tak saling cinta, tapi setidaknya mereka mungkin akan lebih dekat jika sering bersama. Berbeda dengan mereka, Barra justru hanya terdiam dengan raut dinginnya. Sedangkan jantung Firda jelas sedang disko tak karuan. Dia harus satu kamar dengan Barra? Bagaimana bisa? *** Firda mengikuti langkah Barra dari belakang sambil menunduk dalam. Ini adalah mimpi buruk. Dia benar-benar harus satu kamar dengan Barra. Ya, dia tahu mereka adalah suami istri sekarang. Tapi Firda belum mempunyai persiapan. Baik fisik ataupun mental. Bagaimana jika nanti tiba-tiba Barra meminta haknya? Akh! Tidak, tidak! Firda tidak bisa melakukannya. "Enggak!" pekik Firda sambil menggelengkan kepala. Barra yang baru melangkah memasuki kamar pun sontak berbalik badan. Sebelah alis tebalnya terangkat melihat sang istri menutup mata dengan kedua tangan. "Kamu kenapa?" tanyanya penasaran. Sontak Firda menurunkan kedua tangan sambil membuka mata. Seketika dia memberikan Barra cengiran. "Emh, gak apa-apa, Pak. T-tadi cuma—" "Gak penting!" potong Barra cepat sambil kembali melangkahkan kakinya. "Cepat masuk, atau kamu tidur di luar, Firda!" Wanita itu gegas masuk ke dalam kamar suaminya meskipun masih merasa kesal. Firda menatap pada satu ranjang di pojok kamar, lalu berganti pada sebuah sofa panjang. "Emh, Pak Barra gak ada niat tidur satu kasur sama saya, kan?" Barra mengangkat alisnya tinggi-tinggi, masih dengan tatapan dingin. Dan itulah ekspresinya sehari-hari. "Emang saya pernah bilang mau tidur satu kasur sama kamu?" "Emh, enggak juga, sih." Firda menggeleng pelan. "Berarti Pak Barra gak mau kita tidur satu kasur, kan? Kalau gitu, Pak Barra tidur di sofa, saya tidur di ranjangnya Bapak." Seketika Barra melotot tajam. Enak saja! Ini kamarnya, dan dialah yang berkuasa. "Enggak! Ini kamar saya, dan ini ranjang saya. Kamu aja yang tidur di sofa!" Gantian Firda yang membulatkan mata. "Ih, kok Pak Barra tega sih? Ngalah, dong, sama cewek!" Di mana-mana pria itu harusnya mengalah pada perempuan! "Saya gak peduli. Kamu tidur di sofa, atau tidur di lantai. Yang penting, jangan sampai kamu naik ke ranjang saya!" Firda semakin kesal. Dia menghentakan kakinya kencang. "Ih, kejam banget punya suami!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN