bc

ISTRI RAHASIA TUAN BARRA

book_age18+
499
IKUTI
5.7K
BACA
HE
boss
drama
bxg
brilliant
office/work place
secrets
like
intro-logo
Uraian

"Karena bagi saya, menikah atau tidak, itu sama saja. Saya tetap tidak akan mencintai siapa-siapa."***Firdania Maheswara, wanita berusia 25 tahun itu terpaksa menikah dengan seorang pria secara tiba-tiba karena sebuah insiden yang tidak disengaja.Barra Ivander Wiyatama, pria yang tak lain adalah bos di tempat dia bekerja. Firda ingin menolak, tapi tak bisa mengelak. Untuk menyelamatkan citra keluarga, pernikahan yang dirahasiakan itu pun akhirnya terjadi juga.Awalnya hari-hari Firda masih berjalan seperti biasa. Namun keadaan berubah saat Firda mengetahui sebuah fakta, bahwa sang suami masih dibayangi oleh wanita di masa lalunya.Siapakah dia? Mampukah Firda merebut hati sang suami agar menjadi miliknya saja?Lalu, apakah Barra bisa membuka mata dan menerima kehadiran Firda?***Jangan lupa follow sosmed Author ig : @deshika_widya1612fb : Deshika Widya Selamat membaca🤗

chap-preview
Pratinjau gratis
GARA-GARA BARRA!
"Astagfirullah, Firda! Kalian berdua habis ngapain di dalam?!" Bu Wati, pemilik kos yang Firda tempati memekik kencang sambil berkacak pinggang. Sedangkan Firda yang masih loading menatap ibu kosnya heran. Dengan santai wanita berusia 25 tahun itu berjalan mendekat pada Bu Wati yang berdiri di ambang pintu. "Ada apa, Bu? Maksud Ibu apa, ya?" Bu Wati semakin melotot tajam melihat wajah sok polos dari Firda. "Apa, maksud kamu? Heh, Firda! Kalian sudah berduaan di dalam. Habis ngapain, hah?!" "B-berdua?" beo Firda. Seketika otaknya berputar cepat dan ingat jika ada seorang pria bersamanya. 'Mati aku!' Firda memutar badan, terlihat sang atasan yang berdiri sambil menarik alisnya tinggi-tinggi. Terlihat tenang seperti tidak ada beban. Padahal pria itu kini sudah membawa Firda pada sebuah petaka besar. "B-bu Wati jangan salah paham. I-ini bos saya, namanya Pak Barra," jelas Firda tak ingin ibu kosnya salah paham. Apalagi sampai berpikir yang macam-macam. "Halah! Pasti kamu cuma ngelak, kan? Lihat itu! Rambut bos kamu aja basah, pasti kalian habis tidur bareng, kan?!" "Astagfirullah ...." Firda terlonjak dengan tuduhan yang tidak mendasar itu. Mana mungkin dia melakukan hal sekeji itu. Asal tahu saja! Firda masih memiliki iman di hatinya. "Firda bukan wanita seperti itu, Bu. Bu Wati juga udah kenal Firda lama, kan? Masa Ibu gak percaya sama Firda?" "Mungkin saya gak akan curiga kalau pria itu ada di luar. Lha, ini malah ada di dalam, rambutnya basah pula! Kemejanya juga tuh, acak-acakan!" Firda kembali memutar kepala, menatap Barra yang masih berdiri di belakang sana. Memang benar, kemeja bosnya itu tampak sangat acak-acakan, rambutnya pun basah seperti habis keramas. Entahlah apa yang dilakukan pria itu di kamar mandi tadi. Melihat sang sekretaris kesulitan, Barra pun melangkah untuk mengambil peran. "Maaf, Bu." Ia menatap datar pada Bu Wati. "Saya tadi hanya menumpang buang air kecil saja." Firda mengangguk setuju. "Benar itu, Bu. Tadi Pak Barra cuma—" "Halah! Kalian berdua sama saja! Lagian mana ada penjahat yang mau ngaku!" "Pokoknya saya gak mau tahu, kalian udah kotorin kosan saya, jadi kalian harus bersihin lagi seperti biasa!" "Firda akan bersihin, Bu. Firda janji. Meskipun kami gak ngapain-ngapain, nanti setelah Pak Barra pulang, Firda akan pel semua ruangan. Ganti sprei sama gorden sekalian," cerocos Firda yang membuat dua orang di sana kebingungan. Wanita cantik itu pun menoleh pada sang atasan, kemudian segera mengusirnya untuk pulang. "Udah, Pak. Mending Bapak pulang aja deh sekarang." Kedua alis Barra tertarik ke atas. Sekretaris baru ini berani padanya? "Kamu usir saya?" Barra menatap Firda dengan aura dinginnya. Wanita itu berdecak kesal. "Pak, udah deh. Bapak di sini cuma nambah masalah saya aja tahu, gak!" What? Apa Barra tidak salah dengar? Sekretaris baru ini benar-benar menyebalkan. Barra jadi menyesal sudah mengantarnya pulang. Ya, saat hendak pulang, Barra melihat Firda sedang duduk di halte sendirian, menunggu bus yang belum juga datang. Dengan baik hati Barra memberikan tumpangan untuk mengantar wanita itu pulang ke kosan, mengingat langit sudah mulai menurunkan air hujan. Firda tidak menolak. Mungkin karena tidak ada pilihan. Setelah sampai di sini, Barra merasa ingin buang air kecil, sudah tak tahan sekali. Akhirnya dia ikut menumpang ke kamar mandi. Membasahi wajah juga rambut agar tampak lebih segar lagi. Sengaja melonggarkan dasi agar tidak terlalu ketat. Namun, sial! Saat keluar dari kamar mandi, dia malah dihadapkan dengan situasi seperti ini. "Kamu gak boleh pulang dulu!" sergah Bu Wati saat Barra hendak melangkahkan kaki. Wanita berusia 40 tahun itu melirik kanan kiri, kemudian berteriak kencang saat melihat sang suami yang merupakan ketua RT di sini. "Bapak! Sini, Pak!" Pak RT berjalan dengan setengah berlari menghampiri sang istri. "Kenapa toh, Bu? Kok teriak-teriak?" "Ini, si Firda udah berbuat m***m sama bosnya di kosan kita." "Apa?!" "G-gak gitu, Pak. Fi—" Firda hendak menjelaskan, namun Bu Wati kembali menyela. "Diam kamu, Firda!" Wanita paruh baya itu kemudian memindai sekitar, terlihat beberapa warga yang lewat di depan sana. “Bapak-bapak, Ibu-ibu, sini!” Dia melambaikan tangan meminta mereka mendekat. Bu Wati tidak akan membiarkan matanya tercemar sendirian. “Ada apa, Bu RT?” Beberapa warga tampak mendekat dengan kebingungan. Apalagi saat melihat ada seorang pria yang berdiri di samping Firda. Setahu mereka, ini adalah kawasan kos putri, seorang pria dilarang masuk ke sini. Bu Wati menjelaskan semua pada warga yang hadir berdasarkan asumsinya sendiri. Semua warga geram. Ditambah Pak RT yang tampak memperkuat ucapan istrinya. Firda dan Barra hendak menyela, namun tak diberi kesempatan barang sekali saja. Semua orang di depan mereka sedang diselimuti oleh emosi sekarang. Salah satu warga menatap tajam pada Firda. “Saya gak nyangka kamu kayak gini, Firda! Luarnya aja seperti gadis baik-baik, tapi ternyata malah ngotorin kosan Bu RT kayak gini!” “Si Firda harus kita usir dari sini, Bu RT! Saya gak mau ikut ketiban sial gara-gara perbuatan b***t mereka!” “Setuju!” Para warga melayangkan tatapan penuh amarah pada Firda dan Barra, membuat kedua orang itu lagi-lagi tak bisa menyela. “Sekarang, hubungi ayah kamu, Firda!” titah Bu Wati masih menatap dengan tatapan nyalangnya. Firda mengerutkan dahinya dengan perasaan yang karuan. Dia terkejut dan takut dalam waktu yang bersamaan. “B-buat apa, Bu?” Bu Wati berdesis dengan hidung yang kembang-kempis. “Masih berani nanya, kamu?!” Firda bungkam. Tak kuasa bertanya apapun lagi pada Bu Wati. “Bapak panggilin penghulu yang tinggal di kampung sebelah, sekalian sama Ustadz Zaki juga. Sebelum diusir, si Firda harus dinikahin dulu biar gak bawa sial buat kita semua!” "Apa? Nikah?!" *** Bak kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Itulah yang sekarang Firda dan Barra alami. Mereka tak bisa lagi membela diri. Apalagi setelah Pak RT benar-benar membawa penghulu, ustadz, juga para saksi. Sialnya, Haris-ayah Barra juga Abimana-ayah Firda malah setuju-setuju saja. Sungguh tega sekali rasanya. "Ayah... Firda beneran gak ngapa-ngapain. Masa Ayah gak percaya sama Firda?" Firda terisak sesaat sebelum dilakukan ijab. Abi mengusap kepala sang putri yang terbalut hijab putih. "Ayah percaya sama kamu. Tapi sekarang bukan saatnya mengelak, Nak. Anggap saja ini adalah takdir." Takdir? Oh, Yaa Tuhan... Haruskah takdir Firda seperti ini? Sementara itu Haris terus saja memperhatikan wajah sang putra yang tanpa ekspresi. Putranya itu hanya mengikuti alur yang terjadi. Tidak seperti Firda yang memaksa untuk membatalkan pernikahan ini. 'Semoga ini memang yang terbaik untuk kamu, Boy. Lekas pulih Barra kesayangan ayah.' "Bagaimana, apa ijab sudah bisa dilakukan? Apa mahar yang akan diberikan pada mempelai perempuan?" Barra mengeluarkan dompet dari saku jasnya. Lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari sana. "Saya gak punya persiapan. Cuma ada uang cash 500 ribu. Silakan diterima kalau mau." "Boy, Ayah ada bawa uang juga," bisik Haris pada sang putra. Namun Barra malah menggelengkan kepala. "Biar Barra yang urus ini, Ayah." Haris tersenyum. Inilah Barra, putranya yang selalu bertanggung jawab atas semua masalah yang dihadapinya. *** Tak bisa dicegah, akad pun sudah dilaksanakan secara agama. Biarlah, yang penting mereka sah dulu sekarang. Begitulah pemikiran orang-orang. Padahal sumpah demi apapun, Firda tidak melakukan apapun dengan Barra. Jangankan hal lain, bersentuhan saja belum pernah. Baru salaman saja setelah akad selesai. "Firda, sekarang kamu adalah istri dari Barra. Walaupun pernikahan kalian belum tercatat di KUA, tapi pernikahan kalian tetap sah." Firda mendongakkan kepala menatap pada sang ayah. Saat ini mereka sedang berdua saja di dalam kamar. Sedangkan suami dan ayah mertuanya duduk di luar. Suami? Hah, mendengarnya saja Firda sangat geli. Bisa-bisanya dia menikah dengan bos sendiri. Mana dingin lagi! "Ikutlah dengan suamimu sekarang, biar kapan-kapan Ayah dan Ibu tengok kamu ke sana." Firda menegakan tubuhnya. "Emang gak boleh Firda di sini dulu, Ayah? Malam ini ... aja. Kalau gak, Firda pulang ke rumah dulu, deh. Belum siap kalau harus ikut Pak Barra, Ayah ...." Firda merengek sambil bergelayut di lengan sang ayah. Sebagai anak bungsu, dia memang manja sejak dulu. "Gak bisa, Sayang. Kamu sekarang udah istri orang." "Tapi Ayah ... apa Ayah gak lihat Pak Barra dinginnya kayak apa sama Firda? Dia tuh kayak kulkas 100 pintu, tahu! Ngadepin Pak Barra di kantor aja udah bikin Firda pusing, apalagi harus satu rumah!" Abi terdiam sambil mendengarkan omelan putrinya. Ya, Barra yang sekarang memang seperti itu. Tapi tidak dengan Barra yang dulu. Abi cukup tahu apa yang sudah dilalui pemuda itu hingga bisa seperti ini. "Aslinya Barra adalah laki-laki yang hangat juga baik. Hanya sekarang memang sedikit berubah." Abi menatap teduh pada putrinya. "Ayah mau, kamu mengembalikan Barra yang dulu, Nak. Dan Ayah yakin kamu pasti bisa." Tunggu, tunggu! Firda masih berusaha mencerna ucapan ayahnya. Dulu? Maksudnya sang ayah sudah mengenal laki-laki itu sejak dulu? Kenapa Firda tidak tahu? "A-ayah udah kenal sama Pak Barra?" Abi menganggukkan kepala. "Ayah kenal kedua orang tuanya." 'Pantes tadi main setuju-setuju aja!' Firda mendengkus dalam hati. "Terus, maksudnya Pak Barra berubah itu gimana, Ayah?" tanya Firda lagi. Dia masih penasaran dengan sosok sang suami. "Kamu akan tahu nanti. Sekarang, cukup jadi istri yang baik dan nurut sama suami." Firda ingin protes lagi, namun urung saat sebuah suara muncul tiba-tiba. "Waktu saya udah habis. Kalau mau ikut, kemasi barang-barang kamu sekarang!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook