Nurma menoleh dan menatapku dengan sengit. “Suka sama siapa? Arip? Uh ...! tolong deh, Ra! Jangan mengatakan hal yang nggak mungkin terjadi di dunia ini?” jawabnya pongah. Aku menatapnya masih dengan tak mengerti. “Jadi, yang mungkin itu apa?” sahutku sudah mulai geram. “Ini bukan tentang temanmu yang terlibat skandal denganmu, ini tentang Ustaz Hamzah,” jawabnya dengan jelas. Aku melongo. “Em ... jadi, Kamu iri karena Arip dekat dengan Ustaz Hamzah,” ucapku mencoba menelisik kemauannya. Nurma menatapku dengan tatapan lelah dan kecewa. “Kamu nggak bodoh ‘kan, Ra?” tanyanya dengan raut wajah geram. Aku menggeleng, jujur saja mulai sebal. “Ngomong aja langsung apa tujuannya, Nur! Mumet aku,” ucapku kemudian. “Aku tahu Kamu dan teman-teman dekatmu itu suka dengan ustaz kita itu,”

