Aku menolak untuk membuka mata dan meneruskan berpura-pura tidur. “Rayya ...,” panggilnya lembut sambil mengusap-usap kepala ini dengan cara yang sama. “Em,” gumamku lirih dan ... malas. “Rayya bisa salat sambil baring kalau belum kuat berdiri,” ucapnya kemudian mengecup kening ini, lalu langkah-langkahnya terdengar menjauh dari ranjang ini. Aku membuka mata begitu telinga ini mendengar suara pintu yang kembali ditutup. “Ergh!” erangku lirih. Aku meraba bantal yang ternyata basah oleh keringat. Aku mengucap syukur ketika tubuh ini tak lagi terasa panas. Hal pertama yang terlintas dalam benak ini adalah mengecek pesan yang sebelumnya kukirimkan pada Emak. Ah ... kekecewaan kembali hadir ketika mendapati pesan itu masih dalam kondisi semula, tetap centang. “Mak Rayya sudah bangun

