Dari suaranya, gadis itu sepertinya tak jauh dari usiaku. Aku berusaha membuka kelopak mata, tapi lagi-lagi berat di kepala ini menarik kelopak mata ini ke bawah. “Eh sudah pulang Hasna,” sambut Ustaz Hamzah dengan riang. “Sebenarnya Hasna malas pulang, apalagi tahu bakal nengok Mas Ham kayak gini sama anak abi yang baru dipungut ini,” ucap gadis itu dengan suara yang masih ketus. Uh! Mas Ham? O-h m-y G-o-d! Kok bisa so sweet gitu? Sebuah benjolan seolah mendadak muncul di hati ini dan aku tahu ini bukan benjolan dari perasaan iri seperti ketika melihat kedekatan Arip dan Ustaz Hamzah. Ini ... ini ... cemburu ... cemburu? Haduh! Pfuh ... mulut ini meloloskan satu napas panjang yang terasa panas. “Nggak boleh gitu, Hasna, ‘kan Rayya juga saudaramu, Rayya bukan baru dipungut, tapi b

