Apa Jidat Ini Transparan?

1086 Kata

Kaki-kaki ini seolah membeku menapak tanah. Napas ini turut tertahan ketika pintu tenda itu tersibak. “Aduh! Jauh banget kaburnya, Ra,” ucapnya setelah mengucap salam. Kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum, tak ada bekas kemarahan atau setidaknya semburat rasa jengkel yang membias di wajahnya, seolah pelarianku ini bukan sesuatu yang salah. “Tuh, bukan hanya dicari sendiri, tapi malah disusul ke sini ‘kan, Ra?” sahut Kak Faruq yang masih duduk di depan pintu tenda sambil menoleh ke arahku. “Ham, tuh dari kemarin adikmu nanyain terus,” ejeknya kemudian terkekeh. Siapa juga yang nyari? Perasaan! Ustaz Hamzah keluar dari tendaku sambil terkekeh. “Aku sudah datang, Ra,” balasnya sambil berjalan ke arahku. Ya Allah! Ini kali kedua my bias memelukku sejak ternyata aku harus memangg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN