Jantung ini serasa berpindah tempat lalu kembali ke tempatnya semula. “Kamu nggak ikut-ikutan anak-anak itu ‘kan, Ra?” ceplos Ustaz Hamzah seolah semua seperti yang ia perkirakan. Aku menahan diri sebisa mungkin untuk nggak menunjukkan jawaban yang mungkin akan tersirat di wajah ini. Aku mencoba mencari jalan ngeles terbaik. “Em Rayya bisa makan dulu nggak, Ustaz?” jawabku di sela-sela kunyahan sambil sekilas melihat ke arahnya. “Oh! Sorry, Ra,” ucapnya sambil menepuk-nepuk puncak kepala ini. Tetangga tendaku yang kini kucurigai memiliki indra lima setengah ons itu terkekeh. Mata ini kuarahkan pada titik terjauh pemandangan area camping di bawah sana. Aku nggak ingin apa yang tersirat di mata ini ketahuan oleh teman Ustaz Hamzah itu. Kemudian, orang yang telah membantuku selama

