Itu ancaman apa sih, Mak? Kalau nggak boleh pulang, Rayya harus ke mana, Mak? Ini nggak fair, Mak! Aduh! Tapi, apa yang bisa kulakukan, aku 'kan hanya seorang anak yang harus patuh pada titah Emak? “Emak pas ngomong, wajahnya kelihatan serius nggak, Ustaz?” tanyaku, sekali lagi mencari celah yang mungkin masih bisa menguntungkan untukku. Tanpa ragu Ustaz Hamzah mengangguk. Melihat itu badan ini terasa lemas. Kayaknya mau nggak mau aku harus menyelesaikan waktu “sementara” yang telah disepakati dua orang tua itu dengan tinggal di rumah megah itu. “Oke, Rayya bisa istirahat sekarang, besok pagi kita pulang,” ujar Ustaz Hamzah lembut. My bias-ku ini kemudian beranjak setelah sebelumnya mengusap-usap bahu ini. “Besok pagi?” ulangku sedikit nggak suka. Ustaz Hamzah mengangguk. “

