Aku dan Arif saling pandang dengan ekspresi bingung. “Sebenarnya saya nggak tahu jika masalah yang menurut saya nggak masalah ini ternyata jadi masalah ... em mungkin ... atau belum jadi masalah sih, maaf, em ... jadi, saya nggak tahu harus menjawab apa,” ucapku jujur. “He em, Ustaz, Uztazah, Bu Hajjah, saya juga nggak tahu, saya idem sama Rayya aja,” sahut Arif dengan nada cepat. Kedua wanita dewasa itu mengembuskan napas panjang. Kulihat bu hajjah konsumsi itu menggeleng-gelengkan kepala sambil telapak tangannya mengurut d**a. Ustaz Hamzah sekilas menatapku kemudian beralih menatap Arif. “Mereka berdua ini murid-murid kita yang cerdas, tapi mereka belum lama menyambut pertobatan mereka. Kita patut bersyukur mereka mau meluangkan sebagian besar waktunya untuk mengejar ketertinggala

