“Aku minta maaf atas nama Beni dan keluarga besarku yang seolah lepas tanggung jawab.”
Aku diam saja, masih sesak rasa di d**a. Memilih duduk di ujung ranjang dan mencoba mengatur napas.
“Aku nggak mau satu rumah sama adikmu, Mas,” ucapku dengan suara serak.
Bagaimana bisa aku satu rumah dengan orang yang sudah merenggut mahkotaku. Aku membencinya lebih dari apapun, aku juga takut dia melakukan hal yang sama jika dia kembali mabuk-mabukan seperti hari itu.
“Aku paham perasaanmu, tapi tolong beri aku waktu. Aku sedang merenovasi rumah untuk kita tempati.”
“Berapa lama? Aku bisa mati berdiri jika melihat adikmu setiap hari.”
Mas Arka mendekat, ia duduk di sampingku. “Paling cepat dua bulan. Pesanku, tolong jaga sikap selama ada di sini. Jangan sampai mereka tahu kalau kamu adalah korban dari p*********n itu, karena kalau sampai tahu, aku takut akibatnya jadi fatal. Kedua orangtuaku mendewakan nama baik mereka. Aku takut mereka akan melakukan hal buruk padamu.”
Aku langsung menoleh, menatap heran pada wajah itu. “Mengapa semua keluargamu jahat? Salahku apa, Mas? Aku lah korban dari kebiadaban adikmu. Aku!”
“Aku tahu, Ve. Karena itu aku minta maaf untuk itu. Sekarang bersihkan dirimu, susun pakaianmu di lemari itu.”
Aku diam saja. Mas Arka keluar dari kamar, lalu menutup pintunya. Ada rasa takut berpendar dalam d**a. Bagaimana kalau aku keceplosan dan mengatakan semuanya. Ya Allah, lepas dari Ibu aku malah bertemu monster seperti mereka. Dua bulan? Mengapa begitu lama? Aku menghapus air mata secara kasar, lalu langsung membersihkan diri.
Aku baru saja menjalankan salat Magrib. Saat sedang zikir, Mas Arka membuka pintu kamar, dan tersenyum kepadaku. Melihatnya datang, aku langsung menyudahi kegiatanku. Kulepas mukena, hingga menyisakan hijab instan saja, lalu meletakkannya di ujung ranjang.
“Siap-siap turun ke bawah, kita akan makan malam bersama. Aku mandi dulu.”
Mas Arka langsung masuk ke kamar mandi, sebelumnya menyambar handuk di balik pintu, sekaligus mengambil pakaian ganti dari lemari. Gelisah aku menunggu. Aku harus duduk satu meja dengan pria yang menodaiku, apa aku sanggup. Ya Allah, ada ketakutan dalam hati. Masih terbayang bagaimana ia menyeretku ke semak-semak itu. Bagaimana dia dengan beringas melakukan suatu hal yang sangat menjijikkan bagiku. Tanpa sadar, aku memejamkan mata kuat. Bayang-bayang itu terus saja berkelebat di pelupuk mata, hingga tepukan pada bahu membuatku sadar.
“Kamu kenapa, Ve?” tanya Mas Arka dengan wajah yang sudah segar dan rambut yang masih basah.
“Ti ... tidak apa-apa, Mas.”
“Ayo kita turun.”
"Mas, nggak salat Magrib?"
Dia terdiam. "Aku tidak terbiasa."
"Kenapa? Bukanlah salat itu tiang agama untuk kita, umat Islam?"
"Aku ... tidak hapal bacaannya."
Dahiku mengernyit. "Apa Mas tidak pernah diajarkan mengenai tata cara salat?" Dia menatap lama, lalu menjawab.
"Hanya sekedar tahu, tapi tidak mendalami masalah itu. Karena dulu, Mami dan Papi bilang yang penting nilai akademik bagus. Sudahlah, akan kita bahas nanti. Sekarang kita harus makan, semua orang sudah menunggu."
Aku mematung. Mas Arka yang sudah melangkah lebih dulu, lalu berhenti setelah menyadari aku tidak juga beranjak dari tempatku. Ia menoleh sedikit, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku.
“Ve?”
Kedua tanganku saling menggenggam. Sungguh aku benar-benar takut. Melihatku katakutan, Mas Arka mendekat, ia menatap gerak gerikku cukup lama, lalu duduk berjongkok di bawah sana. perlahan Ia mengambil kedua tanganku yang saling menggenggam satu sama lain, lalu ikut menggenggamnya.
“Kamu takut?” Aku diam saja. “Ve, kamu percaya kan sama aku?” Kami bertatapan, ada keseriusan di dalam kedua bola matanya. “Aku tidak akan membiarkanmu disakiti oleh siapapun. Percaya sama aku, Ve.” Mas Arka mengangguk pelan, meyakinkan.
“Bagaimana kalau Beni ingat dengan wajahku?”
“Dia tidak ingat, karena saat itu posisinya dia mabuk berat. Yuk, makan malam dulu. Kasihan anak dalam rahimmu.”
Setelah cukup lama membujuk, akhirnya aku memberanikan diri untuk turun. Aku berjalan di belakang tubuh Mas Arka dengan wajah yang terus menunduk. Sementara jemari Mas Arka terus memegang ujung jari telunjuk telapak tanganku.
“Pengantin baru sudah keluar kamar rupanya. Duduk sini menantuku,” kata maminya Mas Arka.
Aku masih berdiri di balik tubuh tegap lelaki yang bergelar suamiku ini. Perlahan ia menarikku untuk berdiri di sampingnya. Terlihatlah semuanya. Mami, Papi dan ... laki-laki itu, semua sedang menatapku.
“Ayo duduk!” perintah Papi.
Mas Arka menarik satu kursi, lalu memberi isyarat dengan kepala dengan cara anggukan supaya aku duduk di sana. Dengan sangat hati-hati aku duduk di kursi meja makan. Mas Arka duduk di sampingku.
“Makan dong, Mami yakin kamu jarang makan dengan makanan mewah seperti ini. Jangan malu-malu, makan saja!” kata Mami dengan wajah sinisnya.
Pria yang bernama Beni itu langsung mengambil piring dan makan, menyusul yang lainnya. Mas Arka menatapku sejenak, seperti memberi kekuatan. Sementara ingatanku soal perbuatan laki-laki itu terus saja menari-nari di benak. Aku berusaha terus beristighfar dalam hati, meminta ketenangan untuk diri.
“Kamu mau makan, apa? Mau aku ambilkan?” tanya Mas Arka.
“Arka Sayang, bukankah dia sudah jadi bagian dari keluarga. Biarkan dia belajar mandiri. Dia bukan bayi yang harus diurusin!”
“Cukup, Mi. Tolong hargai istri Arka di sini,” sahut Mas Arka sopan, tapi tegas.
“Menghargai yang pantas dihargai, kalau seperti dia apa yang harus dihargai?”
Mami dan Papi saling pandang, lalu sama-sama melemar senyum sinisnya. Aku makin tertunduk, disamping takut aku juga merasa malu.
“Mi, Pi, ayolah! Jangan membuat selera makanku hilang. Mengapa sih hal seperti ini harus diperdebatkan?” sambung Beni.
“Kamu nanti kalau cari istri yang sepadan ya, Sayang. Jangan sampai membuat Mami malu. Kamu nggak mau kan Mami merahasiakan pernikahanmu terhadap teman-teman dan rekan bisnis Mami seperti ini?”
Kedua tanganku semakin erat menggenggam satu sama lain. Mami terus saja berusaha menjatuhkan harga diri dan mentalku, hingga pada akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku langsung berdiri, dan pamit pergi.
“Venya!” panggil Mas Arka setelah aku melangkah semakin jauh, lalu samar terdengar suara Mami.
“Arka, duduk! Makan malam dulu! Habisi makananmu!”
Kemudian tak terdengar apa-apa lagi. Sampai di kamar aku menutup pintu, lalu duduk di depan cermin. Bayangan pernikahan yang indah dan harmonis semasa masih sekolah dulu, lenyap begitu saja karena musibah itu. Aku memukul-mukul perutku sendiri sambil menangis.
“Kenapa kamu harus ada dalam perut ini, kenapa!” ucapku marah.
Tidak berapa lama pintu terbuka, lalu terdengar suara Mas Arka.
“Hey, Venya! Jangan, Jangan seperti itu!” Ia langsung menghampiri dan memegang kedua tanganku supaya berhenti memukul perut ini. “Apa yang kamu lakukan? Bayi itu tidak bersalah.”
Aku kembali menangis.
“Karena anak ini aku dibenci Ibu, bahkan harus tinggal di rumah ini, Mas.”
“Percaya, pasti ada hal baik yang bisa kita ambil setelah ini. Bisa jadi nanti anak ini akan menjadi anak yang cerdas, yang membanggakan dan menjadi penerus kakeknya.”
Tangisku berhenti. Aku menghapus air mata, lalu menatap Mas Arka yang juga sedang menatapku. “Penerus kakeknya?”
“Ya ... Bukankah ayahmu orang yang tersohor di kampungmu? Kita bisa mendidiknya supaya bisa menjadi seperti kakeknya. Pintar mengaji, ahli ibadah dan menjadi penghapal alqur’an.”
“Kita?”
“Ya, kita. Aku akan membantumu mewujudkan keinginan itu.”
Aku kembali menunduk. Ada secercah harapan memiliki anak seperti yang Mas Arka katakan. Tapi tentu saja bukan anak hasil dari perkosa’an.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu juga mau belajar hal yang sama supaya bisa membimbing anak ini menjadi seperti itu?"
Mas Arka mengalihkan pandangan. "Kita bisa memanggil guru ngaji ke rumah atau memasukkannya ke pesantren."
"Dia memang tidak seharusnya ada di dunia ini, Mas!" Aku kembali memukul perutku.
"Sudah, stop! Ya! Aku akan melakukannya, jangan lakukan lagi."
“Tapi, Mas, aku ... tidak menginginkan anak ini. Kamu tahu? Setiap kali mengingatnya membuat hatiku sakit. Apalagi ketika aku melihat adikmu itu, hatiku rasanya teriris-iris.” Aku kembali terisak. Kemudian memegang kedua tangan Mas Arka yang berdiri di hadapanku. Dengan wajah mendongak dan deraian air mata aku berkata. “Bawa aku menjauh dari adikmu, Mas. Aku mohon dengan sangat. Aku bisa menahan celaan kedua orangtuamu, tapi aku tidak bisa terus terusan melihat wajah pria yang merenggut kehormatanku. Aku tidak bisa .... “
Setelah beberapa lama Mas Arka mengusap pucuk kepalaku dengan tatapan yang sayu.
“Kita akan pindah besok, aku berjanji."