Bab 1. Pertemuan Tak Terduga (Lelaki asing itu datang begitu saja, seperti mahluk asing dari Mars. #POV Ayara
Bab 1: Pertemuan Tak Terduga
#POV Ayara
Pagi itu, langit Jambi seperti hamparan sutra biru yang disulam awan-awan tipis. Aku melangkah menyusuri jalan setapak perumahan yang masih menyisakan aroma embun pada pucuk-pucuk pucuk merah. Udara segar meresap di balik kain kerudung lavenderku, memberikan ketenangan yang biasanya cukup untuk membentengi hatiku dari hiruk-pikuk dunia.
Aku selalu menyukai kesunyian. Bagiku, sunyi adalah sahabat yang paling jujur.
Namun, kejujuran sunyi itu pecah berkeping-keping dalam satu detik yang memacu jantung.
Ckiiiiiiiiittttt!
Suara gesekan ban dengan aspal menjerit memekakkan telinga. Tubuhku membeku. Aku hanya sempat melihat bayangan logam hitam mengkilap yang meluncur deras ke arahku sebelum berhenti tepat beberapa jengkal dari lututku. Debu beterbangan, dan aroma karet terbakar menyengat penciuman.
Aku terengah, mencengkeram erat tas jinjingku. Napasku tertahan di tenggorokan. Dunia seakan melambat saat pintu mobil mewah itu terbuka.
Seorang lelaki keluar.
Dia tidak langsung menghampiriku dengan wajah panik atau rentetan kata maaf yang berisik. Dia berdiri di sana, di balik pintu mobilnya, memperhatikanku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tampan—sangat tampan, dengan rahang tegas dan rambut yang sedikit berantakan tertiup angin. Namun, ada sesuatu yang ganjil. Matanya seperti telaga beku; indah, namun mematikan bagi siapa pun yang mencoba menyelam ke dalamnya.
Dia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan dingin yang begitu pekat. Ada tembok yang tak kasatmata mengelilinginya, sebuah garis batas yang seolah mengatakan bahwa dunia luar tidak diizinkan masuk.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Suaranya rendah, bariton yang bergema lembut namun datar. Tidak ada nada emosional di sana, seolah-olah hampir mencelakai seseorang hanyalah sebuah gangguan kecil dalam jadwal harinya.
Aku mencoba mengatur detak jantungku, merapikan kerudungku yang sedikit miring karena angin kendaraan tadi. "Aku... aku rasa aku tidak apa-apa," jawabku pelan. Suaraku bergetar, meski aku berusaha menutupinya dengan sisa keberanianku.
Dia melangkah mendekat. Jarak kami kini hanya dua meter. Aroma parfumnya—campuran sandalwood dan dinginnya hujan—merayap masuk ke indraku.
"Lain kali, jangan melamun saat menyeberang," ucapnya lagi.
Aku terkesiap. "Aku tidak melamun. Anda yang melaju terlalu kencang di jalan pemukiman."
Dia terdiam, menatapku lebih dalam. Untuk sesaat, aku merasa seperti sedang dibaca oleh mesin pemindai yang sangat dingin. Tidak ada permintaan maaf yang dramatis. Hanya hening yang menyesakkan.
"Ikut aku," katanya tiba-tiba.
Aku mengernyit, melangkah mundur satu tindak. Kewaspadaanku sebagai perempuan bangkit seketika. "Ke mana? Aku tidak mengenal Anda."
"Permintaan maaf," jawabnya singkat. Dia melirik pergelangan tanganku yang sedikit memerah karena gesekan tas saat aku hampir jatuh tadi. "Ada kafe di depan kompleks ini. Aku tidak suka berhutang pada rasa bersalah."
"Saya tidak perlu kompensasi apa pun," tolakku halus, mencoba tetap feminin namun tegas.
"Aku Zhivin," ucapnya seolah nama itu adalah sebuah penjelasan yang cukup. "Dan aku tidak suka mengulang ajakan."
Di Bawah Langit Kedai
Akhirnya, entah karena pengaruh auranya yang mendominasi atau karena kakiku yang memang masih sedikit lemas untuk berjalan pulang, aku berakhir duduk di hadapannya. Sebuah kafe kecil dengan nuansa kayu menyambut kami. Zhivin memilih meja di sudut yang paling gelap, jauh dari jendela besar yang mengekspos jalanan. Sepertinya dia memang benar-benar membenci sorotan.
Pelayan datang, dan tanpa bertanya padaku, dia memesan dua cangkir kopi hitam.
"Aku lebih suka teh. Teh hijau, jika ada," potongku sebelum pelayan itu pergi.
Zhivin melirikku. Hanya sekilas, lalu dia mengangguk kecil pada pelayan.
Hening kembali meraja. Dia duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang panjang sesekali mengetuk meja mengikuti irama yang hanya dia yang tahu. Dia tidak memainkan ponsel, tidak melihat sekeliling. Dia hanya menatap kosong ke arah gelas air putih di depannya.
"Namamu?" tanyanya tanpa menoleh.
"Ayara," jawabku lirih. "Nama yang indah untuk seseorang yang hampir kucelakai."
Aku tertegun. Itu adalah kalimat terpanjang yang dia ucapkan sejak tadi, dan entah mengapa, nada puitis yang dingin itu terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang disamarkan.
"Anda selalu membawa mobil seperti sedang mengejar maut, Zhivin?" tanyaku, mencoba mencairkan kebekuan.
Dia akhirnya menoleh, menatap tepat ke mataku. "Maut tidak perlu dikejar, Ayara. Dia akan datang sendiri. Aku hanya sedang mencoba berlari lebih cepat darinya."
Kalimat itu terasa berat, seperti ada duka yang dikubur di balik dinding beton hatinya. Aku menatapnya dengan rasa ingin tahu yang lebih besar dari rasa takutku. Dia tampak seperti pangeran dari negeri dongeng yang dikutuk untuk tidak merasakan apa pun.
"Dunia tidak seburuk itu jika Anda bersedia membukanya sedikit saja," kataku lembut, sambil menerima cangkir teh yang baru saja diantarkan.
Zhivin tersenyum tipis—sangat tipis hingga hampir menyerupai garis lurus. "Membuka pintu berarti membiarkan debu masuk. Aku lebih suka ruang hampa. Di sana, tidak ada yang bisa menyakiti."
"Tapi di sana juga tidak ada kehidupan," balasku berani.
Zhivin terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat ada retakan kecil pada dinding kaca di matanya. Dia menyesap kopinya yang hitam pekat, seolah-olah rasa pahit itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa hidup.
"Kau terlalu polos untuk memahami bahwa terkadang, sunyi adalah satu-satunya cara untuk bertahan, Ayara," bisiknya.
Aku memegang cangkir tehku yang hangat, membiarkan uapnya menerpa wajahku. "Mungkin. Tapi sunyi tanpa berbagi adalah penjara. Dan hari ini, Anda baru saja menabrak pintu penjara Anda sendiri dengan mobil itu."
Zhivin tidak menjawab. Dia hanya kembali menatap ke luar jendela, ke arah jalanan tempat kami hampir bersinggungan maut. Di bawah lampu kafe yang temaram, wajahnya tampak seperti patung pualam yang sempurna namun kesepian.
Kami duduk di sana untuk waktu yang lama. Tanpa banyak kata, namun aku bisa merasakan bahwa di antara kami, ada sesuatu yang baru saja dimulai—sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, sebuah tabrakan antara cahaya yang tenang dan kegelapan yang angkuh.
"Terima kasih untuk tehnya," kataku saat aku memutuskan untuk pamit.
Zhivin tetap duduk di kursinya. "Ayara," panggilnya saat aku sudah berdiri.
Aku menoleh.
"Hati-hati saat berjalan. Tidak semua orang punya rem yang pakem sepertiku."
Aku tersenyum kecil, mengangguk, lalu melangkah keluar. Saat pintu kafe berdenting tertutup, aku sempat melirik ke belakang. Zhivin masih di sana, di balik dinding kacanya, sendirian dalam kemegahan sunyi yang mulai sedikit terusik.
Aku berjalan pulang dengan debar yang berbeda. Bukan lagi debar ketakutan karena maut yang hampir menjemput, melainkan debar karena sebuah misteri bernama Zhivin yang baru saja menyentuh tepian hidupku yang tenang.