Felisia menarik nafas, lalu menghembuskannya. Berusaha untuk tenang agar dapat berpikir, tentu saja Felisia tidak akan masuk ke dalam keributan itu yang sam artinya dengan mengantar nyawa. Hingga akhirnya mata Felisia menangkap sebuah balok yang cukup besar namun masih terjangkau untuk di angkat tergeletak dekat salah satu makam. Felisia segera berlari untuk mengambilnya, lalu kembali pada posisinya tadi. Alih-alih menyerang siswa SMA Fenerald dengan balok tersebut, Felisia menemukan sasaran lain yang lebih menarik perhatian. Prang.. Bletakk.. Plakk.. Motor dengan berbagai jenis merek dan type kini beradu dengan balok yang di genggam Felisia. Felisia mengarahkan balok tersebut pada bagian-bagian yang menimbulkan bunyi seperti knalpon motor, dan bodi-bodi motor lainnya. Merasa belum dipe

