"Ya. benar. Ini Indriyani." Wanita yang berbisik memperingatiku tadi, mengumumkan gadis yang aku ajak keluar dari ruangan itu benar adalah calon istriku.
Aku tersenyum bangga. Karena cuma dalam sekali percobaan aku langsung bisa menemukan mana si gadis berwajah arang itu.
Terima kasih untuk hidungku yang tajam.
Sebenarnya aku pribadi nggak tahu apakah itu benar si gadis berwajah arang atau ngak. aku cuma merasa yakin aja kalau itu adalah dia. Aroma tubuhnya sama dengan aroma tubuh gadis yang menemuiku di pekarangan rumah Pak Siddiq malam itu. Aku pun juga nggak membuka penutup kepala gadis itu. Toh seumpama aku buka pun, aku juga nggak tahu apa itu benar gadis berwajah arang atau tidak. Karena aku memang belum melihat wajahnya.
Jadi yang aku lakukan hanyalah, meraih tangannya dan menuntunnya keluar dari ruangan.
Dan sampainya di luar, dua wanita yang meriasku tadi langsung menyambut gadis yang aku pegang. Mengajaknya menemui sekumpulan wanita desa dan baru membuka penutup kepalanya. Dan setelah itu, barulah wanita perias itu mengumumkan kalau aku benar dan disaksikan oleh banyak wanita lain.
Ketika wanita yang meriasku tadi membawa si gadis berwajah arang dan membuka penutup kepalanya, aku di larang mendekat dan tidak boleh melihat wajahnya.
Aku sendiri sih nggak peduli dan nggak ambil pusing. Toh aku juga nggak ingin melihat wajah gadis itu.
Setelah mengumumkan kalau aku benar, beberapa wanita langsung membawa gadis yang aku temukan itu pergi. Katanya, mereka akan menyiapkan proses pernikahan selanjutnya.
Aku hanya mengangguk.
Aku sendiri di bawa ke sebuah ruangan yang sudah ditata layaknya seperti sebuah acara pernikahan. tapi dengan sangat sederhana. Tidak ada kursi. Hanya ada karpet yang besar yang digelar dan di tengah-tengahnya ada meja. Seperti tempat untuk akad nikah.
Aku bilang seperti itu bukan berarti aku pernah melakukan akad nikah. aku bilang gitu karena aku pernah pergi ke acara pernikahan seorang teman. dan tempat ahadnya nggak jauh beda dengan dekorasi seperti ini.
Seorang pemuda memintaku duduk dibalik meja dan berkata sebentar lagi teman-teman polindeskku akan datang menemaniku. Mereka sedang menjemputnya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Di beberapa menit selanjunya, mulai berdatanganlah orang-orang kampung. Baik wanita, pria, gadis, pemuda bahkan anak kecil. Aku melihat Pak Takur juga sudah datang. Pak Siddiq juga serta beberapa orang yang pernah datang ke polindes dan aku periksa.
Setiap baru datang, mereka semua pasti langsung menghampiriku lebih dulu, menangkup kedua tangan mereka di d**a, menunduk dan tersenyum padaku. Seperti orang yang sedang memberi salam pada pengantin. Semuanya melakukan hal itu tanpa terkecuali.
Aku melakukan hal yang sama pada setiap orang juga. Menangkup tangan ke dadaku, menunduk dan tersenyum pada mereka.
Sebenarnya aku sendiri nggak tahu apa aku harus membalas salam mereka dengan cara yang sama, aku hanya mengikuti kata hatiku saja dan bersikap sopan.
Pak Takur pun ketika baru memasuki aula pernikahan tadi juga melakukan salam padaku, tapi tentu saja minus senyumnya. Dia menatapku hanya datar saja. Bukan. Bukan datar. Tapi menatapku nggak suka. Mungkin saja dia agak kaget ternyata aku bisa melakukan ritual pertama dengan sangat lancar tanpa terkendala sama sekali.
Wanita tua yang aku periksa beberapa hari yang lalu, yang mendoakan agar aku segera mendapat istri pun juga datang. Setelah melakukan ritual, menangkup, menunduk dan tersenyum, wanita itu menatapku dengan penuh hangat dan kasih sayang.
Hei, nenek! panggiku dalam hati. Apa nenek itu seorang 'wali'? Kenapa doa nenek langsung terkabul begitu saja?
Itulah pertanyaanku, yang mengusik pikiranku ketika kami bertatapan. Tapi sepertinya tatapan mata wanita tua itu berbeda dengan arti tatapan mataku. Buktinya, sorot matanya yang penuh kasih sayang dan juga seakan menggambarkan hatinya lega. Sebenarnya aku nggak terlalu tahu arti dari tatapan Si Nenek. Jadi aku hanya membalasnya dengan senyum sopan.
Tak lama kemudian, Doni dan Jali datang. Karena mereka tidak tahu adat istiadat pernikahan di sini, kedua bocah itu, dengan gugup langsung duduk di belakangku, sebelah kanan dan di kiri belakangku.
Jali bahkan mencondongkan tubuhnya padaku sejenak dan berbisik. "Dok, Dokter Dewa nggak mau kami ajak ke sini. Katanya sih dia punya urusan yang nggak dapat ditinggalkan. Bagaimana ini, Dok?"
Aku hanya tersenyum mendengar bisikan Si Jali. Ya, tentu saja Si Dewa nggak bisa datang ke pernikahan ini, karena aku yang memang menyuruhnya pergi melakukan perintahku. Aku nggak boleh gagal dengan rencanaku ini. Kalau nggak, bisa tamat dah karier playboy yang selama ini melekat hebat padaku. Dan aku nggak mau itu terjadi.
Aku melirik Jali dan tersenyum, kembali berbisik. "Oke, nggak papa, Jal."
Lalu Jali pun kembali ke posisi duduknya walau masih nampak ragu.
Tak lama setelah itu, nampak seorang pria dengan jubah dan sorban putih datang. Mungkin saja itu kyai desa sini.
Aku baru seminggu di desa ini dan aku belum hapal semua penduduk yang ada desa.
Seperti para penduduk yang lain, Pak Kyai itupun menghampiriku lebih dulu, menangkup kedua tangannya, menunduk dan tersenyum padaku. Cuma bedanya beliau langsung duduk tepat berada di depanku, di balik meja sebelahnya.
"Apa seharusnya kita melakukan seperti apa yang dilakukan pak Kyai tadi?" Doni bertanya ragu pada Jali.
"Entahlah aku juga nggak tahu. Ketika ke sini aku hanya diberitahu untuk menemani Dokter Ariel saja."
Kedua perawat bawaan Doni hanya bergumam tak mengerti di belakangku. Mereka pun kebingungan, seperti bingungku tadi. Soalnya mereka ke sini itu baru pertama kali. Sama sepertiku. Yang sudah di sini agak lama ya Si Dewa ini. Dan bocah itu adalah racun yang sanggup membawaku ke sini. Walau dengan dalih bersenang-senang dengan gadis cantik desa.
Jika ingat ucapan Si Dewa b******k itu, aku kembali geram. Kalau begini ceritanya, apanya yang senang-senang? Apes iya.
Ruangan yang seperti aula ini semakin ramai dan semakin ramai. Aku yakin kebanyakan orang yang datang tidak mengenalku. Tapi itu tidak sepenuhnya benar juga. Mungkin sebagian penduduk mengenalku sebagai dokter rawat mereka. Dan selebihnya mereka tidak akan tahu, kecuali Pak Takur. Aku yakin kakek tua itu tahu aku siapa dan bagaimana kehidupanku, dia pasti mencari informasi lengkap tentangku.
Terlihat Pak Siddiq datang meenghampiri Pak Kyai, mendekatkan wajah dan bibirnya ke arah telinga beliau. Membisikkan sesuatu. "Silahkan Kyai, akad nikah sudah bisa dimulai."
Walau Pak Siddiq berbisik sepelan apapun, aku masih bisa mendengar.
Kok bisa?
Kan sudah kubilang berkali-kali, kalau panca inderaku lebih peka dan lebih tajam dari pada orang biasa. Dan itu menguntungkan
Ah ... sudah mau mulai ternyata. Batinku mendesah. Tapi kok pengantin wanitanya nggak duduk di dekatku ya? Apa ini juga adat mereka?
Pak Kyai setengah baya ini, mengulurkan tangannya padaku. Memberi isyarat untukku agar aku menjabat tangannya.
Dan aku pun melakukannya.
Kok rasanya, aku malah jadi deg-deg an kayak gini ya? Padahal hingga sebelum Pak Kyai menjabat tanganku, aku baik-baik saja. Kenapa sekarang aku jadi grogi dan gugup kayak gini.
"Sudah siap?" tanya Pak Kyai.
"Ya." Akupun mngangguk pada beliau.
"Baiklah. Saya akan mulai sekarang."
Dan aku hanya bisa kembali mengangguk.
Pak Kyai menarik napas panjang dahulu, lalu ....
"Bismillahirrohmaanirrohiim ... Saya nikahkan dan saya kawinkan, engkau, ananda Ariel Bramantyo, bin Almarhum bapak Bramantyo, dengan putri kami, yang bernama Indryani binti Almarhum bapak Ali dengan mas kawin berupa uang sepuluh juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Indryani binti almarhum bapak Ali dengan maskawin tersebut, tunai."
"Sah?" tanya Pak Kyai mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Setelah memastikan banyak saksi yang menjawab sah, Pak Kyai pun mengangkat tangannya berdoa ...
"Allahuma inni as'aluka min khirihaa wa khorimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih. Aamiin."
Setelah doa usai diucapkan, entah mengapa tiba-tiba saja tubuhku terasa jadi lemas. dan pikiranku langsung mengarah pada Mama.
Mak ... Ariel dah nikah Mak. Rintihku dalam hati.
Aku bahkan nggak tahu rasanya ini senang atau sedih. Pikiranku rasanya mati rasa. Yang ada aku hanya ingin teriak ...
Maaakkk ... aku kawin!