11. Aroma

1221 Kata
Ah ... Aku benar-benar seperti pangeran berkuda putih. Bagaimana tidak? Sekarang saja, dengan penampilanku seperti ini, riasan yang membuat wajahku makin tampak segar, setelan celana dan kemeja warna putih, serta jas putih juga. Ditambah sekarang aku naik kuda dengan warna putih pula, di iringi beberapa pemuda yang naik kuda warna coklat di belakangku, seakan mereka adalah para pengawal kesatria yang melindungiku. Sungguh, aku benar-benar merasa seakan menjadi pangeran berkuda putih yang sesungguhnya. Teman-teman se-polindesku tidak diijinkan ikut aku dalam proses pertama ini. Karena, kata mereka ini adalah perjuangan pertamaku untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika aku berhasil melewati rintangan pertama, maka nanti akan ada seseorang yang akan menjemput mereka di polindes untuk mengikuti proses pernikahan selanjutnya. Benar-benar adat pernikahan yang aneh. Tapi mau tak mau aku harus mengikuti setiap prosesnya. Karena jika aku menolak maka pernikahan ini gagal. Tapi anehnya, aku yang jarang banget mengikuti kemauan yang bertolak belakang denganku, kini aku malah menuruti apapun yang mereka perintahkan. Aku juga aneh kan? Di sini, aku seperti menjadi sosok orang lain, yang begitu memperhatikan orang selain diriku sendiri. Padahal selama ini aku sudah terkenal sebagai sosok yang sombong dan tidak pernah peduli dengan orang yang tidak punya kepentingan denganku. Dan di sini, di saat ini, seakan semua itu menjadi pengecualian. "Silahkan, Tuan!" salah seorang pemuda yang naik kuda coklat di belakangku tadi, yang berpakaian bak seperti seorang pengawal kesatria, turun dari kudanya untuk menghampiriku, lalu mengulurkan tangannya, membantuku turun dari kudaku. Akupun menyambut uluran tangannya. Setelah aku turun, langsung ada dua orang wanita yang meriasku tadi, menghampiriku dan memberiku kalung bunga. Kedua wanita itu, meraih tangan kanan dan kiriku secara bergantian, lalu menuntunku secara perlahan masuk ke balai desa, melewati ruangan yang luas, tempat berkumpulnya para penduduk kampung sini. Tapi tuntunan mereka tidak berhenti sampai sini saja. Mereka masih terus menuntunku melewati ruangan luas itu menuju pintu yang tak jauh dengan tempat tersebut. Salah satu wanita yang menuntunku, membuka sebuah pintu. Sedangkan yang satunya mendekat padaku dan bebrbisik. "Masuklah dan temukan calon istrimu! Lalu bawa keluar dan perlihatkan pada meraka, para penduduk yang sudah berkumpul di balai desa. Apakah pilihanmu benar atau salah. Jika benar, maka kamu akan langsung bisa melanjutkan proses pernikahannya. Tapi kalau salah, maka kamu harus mengulanginya lagi sampai calon istrimu ketemu." perintahnya. "Satu pesanku untukmu anak muda. Sebaiknya kamu harus bisa langsung menemukan kekasihmu, karena kalau tidak, Pak Takur pasti melakukan segala cara untuk membuatmu kalah." Sekarang wanita yang berumur sekitaran hampir empat puluhan ini, memperingatiku. Aku menatapnya agak kaget. "Masuklah sekarang!" Peintahnya sekali lagi. Dengan perlahan, walau aku masih kurang mengerti akan peringatannya, aku mulai melangkah masuk ke dalam pintu yang dibukakan salah satu wanita tersebut. Setelah aku masuk, dan wanita itu menutup kembali pintu dari luar, tiba-tiba ruangan yang awalnya gelap, langsung terang. Seakan lampu ruangan tersebut secara otomatis menyala ketika aku masuk. Dan ketika netraku sudah mulai terbiasa dengan cahaya terang yang sedikit menyilaukan ini, aku kembali menganga kaget. Di depanku, banyak sekali sosok gadis yang memakai gaun pengantin ala luar negeri. Yang kesemua gaunnya mempunyai model yang sama dan warna yang sama pula. Yaitu putih. Dan juga memakai tudung penutup kepala. Cuma bedanya di sini, jika tudung kepala gaun pengantin luar negeri itu transparan, maka tudung kepala yang di sini tebal dan juga menutup dari kepala, wajah hingga d**a. Seketika, aku langsung ingat film India Jodha akbar. Ketika ratu Jodha mengamuk dan pulang ke istana orang tuanya, suaminya, Raja Mughal yang bernama Jalaludin Muhammad Akbar alias Jalal, menyusul ratunya ke istana mertuanya. Dan ketika itu raja Jalal di beri ujian yang sama seperti ini. Bisa membawa pulang istrinya lagi kalau bisa menemukannya di antara para wanita yang menutup kepalanya dengan gaun khas India. Pasti kalian kaget kenapa aku, cowok playboy kelas tinggi, bisa menonton serial seperti itu? Jika kalian sudah mengenal Mamaku nanti, kalian pasti tidak akan lagi kaget kenapa aku bisa tahu tentang hal-hal yang disukai para emak-emak. Karena Mamaku yang memaksaku untuk menemaninya nonton. Dan begitulah aku, walau aku termasuk anak nakal bandel serta kurang ajar tapi aku sangat menyayangi Mamaku hingga aku tak sanggup menolak semua permintaannya, termasuk menemaninya nonton berbagai serial drama. Oke! Kita kembali ke pokok permasalahan. Aku telisik lebih dulu satu persatu cewek yang berdiri menyebar di dalam ruangan ini. Perkiraanku, jumlahnya sekitar lima belas cewek. Dan anehnya kelima belas cewek ini mempunyai bentuk tubuh hampir sama semua. Dan yang menjadi pertanyaanku adalah, di mana orang yang mempersiapkan adat ini bisa menemukan gadis-gadis yang hamapir sama semua model tubuhnya ini? Ah ... sial! Lagi-lagi aku membayangkan kalau aku seakan menjadi seorang raja yang memilih selir untuk menemaniku tidur malam ini. Bukan membayangkan seperti Raja Mughal yang mencari istrinya. Yah mau gimana lagi? Memang aku yang m***m kok. Gadis yang berada tepat di depanku tiba-tiba saja bergerak sehingga membuatku kembali ke alam sadar. Dan ternyata, bukan gadis yang berdiri tepat di depanku saja, tapi semua gadis di ruangan ini bergerak tak tentu arah. Seakan memang sengaja membuat perubahan dalam posisi mereka. Apa ini artinya mereka sedang memberiku kesempatan untuk melihat gadis tutup kerudung yang lain? Bukan hanya gadis yang berdiri di depanku saja? Sekali lagi aku pun kembali mengamati dengan seksama para gadis ini. Melangkah secara perlahan melewati gadis-gadis bergaun pengantin. Dan mereka hanya diam saja setiap aku memeriksa mereka satu persatu. Kuingat-ingat lagi gimana postur tubuh gadis berwajah arang yang aku lihat di jalanan, ketika dia diseret oleh tiga bodyguard Pak Takur. Sial ... bukankah postur tubuh mereka hampir sama semua? Serta gaun yang mereka pakai juga sama semua modelnya? Jika kayak gini aku pasti akan kesulitan mencari si wajah arang dia antara para gadis ini. Oh iya, suara. Selain postur tubuh, aku kan pernah bicara dengan gadis itu di rumah Pak Siddiq. Dan aku masih ingat betul dengan suaranya. Jadi aku akan mencoba mengetes suara para gadis ini. "Hai!" sapaku pada gadis yang paling dekat denganku. Tak ada jawaban. Aku coba sekali lagi pada gadis lain. "Hai!" Masih sama. Gadis inipun juga bergeming dengan sapaanku. "Hai!" sekali lagi. "Hai!" sekali lagi, "Hai!" sekali lagi. "Hai!" Dan entah sudah keberapa kali aku menyapa para gadis ini, tapi tak ada satu pun yang membalas sapaanku. "Pffftttt!" Ah ... ada suara tawa tertahan. Walau sangat lirih, tapi indera pendengaranku masih bisa menangkapnya dengan sangat jelas. Terima kasih Tuhan atas pemberian panca indera yang kesemuanya tajam ini. Dengan ini hidupku rasanya lebih mudah. Hehehe. Dengan mantap dan yakin, aku segera melangkahkan kakiku ke asal suara tawa tertahan yang sekejab tadi. Dan asal suara tawa tertahan itu berada di sudut salah satu ruangan ini. Ketika aku sampai di sudut itu, ada tiga gadis yang berdiri di wilayah sudut bagian tersebut. Sekarang, dari yang harus memilih di antara lima belas gadis, sekarang aku tinggal memilih satu diantara tiga gadis itu. Aku kembali melangkah semakin mendekat. Mengamati satu persatu tiga gadis itu. Dan ketika aku menghampiri gadis kedua dari ketiga gadis ini, ada sesuatu yang terasa familiar di indera penciumanku, di hidungku. Aku mencium aroma yang tidak asing. Aku mencoba mengingat-ngingat aroma enak apa ini? Dimana aku mencium aroma nikmat ini? Sepertinya belum lama ini aku mencium aroma khas ini. Oh iya, bukankah waktu itu? Bukankah ketika itu aku mencium aroma ini? Malam hari, langit cerah, pekarangan rumah, semilir angin lembut yang membawa aroma tubuh seseorang hingga sampai ke hidungku. Ya. ini pasti aroma tubuh gadis itu. Bingo! Akhirnya, ketemu juga kamu gadis berwajah arang!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN