Setelah pertemuanku dengan gadis itu semalam, aku masih belum berani menatap wajahnya.
Ya, aku akui kali ini aku sangat pengecut dan nggak bersikap gantle. Aku terlalu mendoktrin pikiranku sendiri kalau gadis ini jelek di balik aksinya melaburi wajahnya dengan arang dahulu.
Dan lucunya, entah dari mana, aku tiba-tiba saja merasa takut pada pandangan orang lain terhadapku. Aku yang terkenal tidak mau menjalin hubungan dengan gadis yang tidak cantik, tiba-tiba saja menikah dengan gadis jelek. Lalu, apa kata dunai nanti? Mau ditaruh dimana mukaku? Apa nanti yang akan dipikirkan para mantanku?
Aku segera memutar otak agar bisa segera keluar dari masalah ini.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa?
Ting.
Ah ... aku ada ide.
Segera aku menelpon seseorang dan merencanakan sesuatu yang sangat jitu.
***
Sudah dari sejak petang tadi di kampung ini begitu ramai. Apalagi kalau bukan karena pernikahanku dengan gadis berwajah arang itu.
Karena yang merayakannya adalah Pak Takur, ketua dari kampung ini, atau bisa dibilang pemilik kampung, maka acara pernikahan dadakan ini sangat besar. Nggak tanggung-tanggung, acaranya diadakan di balai desa dan semua warga diundang untuk memeriahkan acara itu.
Aku sampai kaget jika acara pernikahan yang cuma berselang dua hari setelah pertemuanku dengan si gadis malam itu, bisa semeriah ini.
Sedangkan aku masih di polindes, dan ada dua orang wanita yang meriasku sedari pagi. Dari keterangan yang aku dapat dari penata make ini, acara pernikahanku akan dilangsungkan sesuai adat mereka.
Nanti setelah aku dirias, aku akan diarak beberapa pemuda di sini, di giring dengan naik kuda bak seorang pangeran berkuda putih yang datang ke rumah sang Tuan Puteri. Lalu ketika nanti sampai di kediaman sang Tuan Puteri, di sana nanti, akan ada beberapa gadis yang akan berpakaian serupa dengan wajah tertutup, yang harus aku pilih. Dan diantara para gadis itu, aku harus menemukan yang mana gadis berwajah arang tersebut. Aku harus mencarinya sampai ketemu. Karena kalau tidak, maka proses pernikahan akan tertunda sampai aku menemukannya. Jika sudah ketemu barulah pernikahan bisa dilanjutkan ke sesi berikutnya.
Tradisi yang aneh. Walau geli dan merasa lucu, tapi aku juga senang. Aku sedikit membayangkan, ketika itu terjadi aku akan seperti seorang raja yang mempunyai banyak selir cantik, yang mana, aku harus memilih salah satunya untuk menemaniku tidur di malam hari.
Hihihihi ...!
Kalian pasti berpikir kalau aku m***m. Ya. Aku memang m***m. Aku tidak akan mengelak predikat itu untukku. Bukankah dari awal aku sudah bilang kalau aku ini playboy dan suka main wanita serta gonta ganti pacar? Nah memang ini lah diriku.
"Apa di prosesi nanti lo bisa langsung menemukan yang mana si Yani, Ril?" tanya Dewa. Cowok ini menemaniku sejak aku mulai dirias, karena ngeriasnya memang di kamar kami.
"Entah, gua sendiri juga nggak yakin bisa langsung menemukan mana si gadis berwajah arang itu atau nggak. Secara, gua bertemu dengannya baru sekali."
"Lho bukannya dua hari lalu lo udah ketemu lagi di rumah Pak Siddiq?"
Oh iya, aku lupa kalau aku nggak cerita ke Dewa jika waktu itu aku juga nggak lihat wajah gadis itu. Aku nggak mau kena ledekan Dewa lagi gara-gara belum berani melihat wajah bocah itu.
"Iya juga sih, tapi kan gua ketemunya malam-malam, Wa. Di pekarangan lagi. Mana jelas sosok gadis berwajah arang itu. " elakku.
"Tapi, Ril, kok gua ngerasa aneh ya."
"Aneh gimana?" tanyaku sambil menatap Dewa dari pantulan cermin, karena aku masih dirias.
"Kenapa lo masih manggil si Yani dengan sebutan gadis berwajah arang? Dia kan mau jadi istri lo."
Aku diam. Dewa memang benar. Sejak aku pertama melihat gadis itu sampai sekarang, aku memang masih menyebutnya sebagai gadis berwajah arang. Entahlah, mungkin karena aku belum melihat wajah aslinya jadi aku agak berat menyebut namanya.
"Angap saja itu sebagai panggilan sayang gua padanya." jawabku ngasal.
"Anjriiiiitttt ... belagak lo. Mentang-mentang udah mau nikah." umpatnya dan kami tertawa.
"Tapi gimana dengan Mama lo?" tanya Dewa lagi, menyadarkanku akan sesuatu.
Ya. Mama. Gimana dengan Mamaku? Kenapa aku sampai lupa dengan hal paling penting kayak gini? Jika Mamaku sampai tahu, habislah aku dicincangnya. Apalagi nanti kalau sampai tahu rencana jahatku. Bisa langsung digantung aku nanti.
"Jangan sampai Mama gua tahu dulu." putusku.
"Kenapa?"
"Memangnya kenapa lagi?" Aku kembali menatap Dewa lagi dari pantulan cermin. "Siapa yang seminggu lalu merayu gua dan memohon-mohon pada gua agar gua ikut ke sini? Dengan janji gua pasti akan bersenang-senang dengan banyak gadis cantik yang masih fres?"
Terlihat Dewa yang senyum-senyum gaje, merasa bersalah. "Sorry bro. Gua mana tahu jika kejadiannya akan seperti ini. Sebelum ini, selama aku sebulan di sini kemaren, belum ada kejadian apapun. Gua beneran cuma seneng-seneng aja sama para gadis di sini. Sumpah! Makanya gua bilang, kalau gua beruntung banget di tugaskan di sini."
"Untung di lo, buntung di gua dong!" cecarku.
"Jangan gitu lah bro!" Dewa kembali senyum-senyum nggak jelas. "Bentar lagi kan, lo juga untung bisa bawa pulang gadis dari desa yang terkenal cantik-cantik ini."
Cantik kepala lo peyang. Umpatku dalam hati. Kalau memang cantik mana mungkin ditutupi arang kayak gitu.
"Gua yakin, Si Yani pasti cantik banget. Lo nggak akan rugi nikahin dia dan bawa dia pulang." Lanjut Dewa dengan semangat empat lima.
Dosa nggak ya jika aku bunuh teman laknat satu ini. Sebel banget aku.
"Sudah, Tuan!" si penata rias menyudahi pekerjaannya. "Sekarang tinggal pakai baju yang saya letakkan di ranjang anda."
Aku melirik baju formal berjas warna putih di atas ranjang bertingkat. "Oke. Silahkan anda berdua keluar dan biarkan aku berganti baju."
"Baik, Tuan!" dua wanita penata rias itupun pergi keluar dari kamar, lalu menyusul Dewa yang ikutan keluar karena dia pasti sudah mendapat sinyal kuat kalau aku akan menghajarnya.
Setelah mereka semua keluar, aku masih berdiam diri dan belum beranjak untuk ganti baju. Kusandarkan kepalaku yang terasa berdenyut. Memang sejak dua hari kemaren kepalaku masih saja pusing. Padahal aku sudah minum obat. Apa ini efek sindrom sebelum nikah yang sering aku dengar.
Aku kembali melamun, mengumpulkan kenangan-kenangan yang berserakan sebelum datang ke sini dan menjadi seperti ini. Bertemu Dewa, direcokinya agar ikut ke tempat dinas tugasnya. Perjalanan panjang, berliku liku dan penuh drama. Sampai di tujuan ada kejadian yang menggemparkan. Niat hati sebenarnya hanya ingin menolong seorang gadis yang baru saja ditinggal kedua orang tuanya secara sekaligus, tapi ternyata takdir berkata lain dan membawaku sampai seperti ini.
Ketika aku memutuskan untuk menolong gadis itu, sebenarnya aku teringat akan diriku sendiri di masa lalu.
Bagaimana sedihku ketika papa meninggal. Padahal waktu itu aku masih punya Mama, tapi kesedihan itu begitu terasa.
Lalu bagaimana dengan hati gadis itu yang ditinggal kedua orang tuanya secara bersamaan? Pasti hatinya hancur berkeping-keping. Dan itulah alasan sebenarnya kenapa aku menolong gadis berwajah arang itu. Tapi siapa yang bisa menduga kalau kejadiannya bisa serumit ini. Hanya dalam kurun waktu satu minggu, aku akan menikah dengan gadis yang bahkan belum aku tahu bagaimana wajahnya. Sepertinya aku mulai nggak waras!