3. Tradisi

1113 Kata
Lho? Kok? Ini sih bukan gadis-gadis cantik yang memakai baju tipis yang berendam di air sungai yang jernih. Kalau yang ini sih namanya sekumpulan para bidadari yang turun dari kahyangan, yang mandi dan nyuci di sepanjang tepian air sungai Mili. Cantik banget beud ...! Sumpah! Gile aje! Bagaimana bisa gadis satu kampung yang semuanya cantik-cantik dan bohay kayak gini? Aje gileeee ....! Mantap bener dah! Bahkan tepian air sungai itu seakan hampir penuh dengan para bidadari yang memakai kain jarik yang hanya menutupi d**a mereka sampai setengah paha mereka. Lebih terlihat seksi dari pada pada gaun tipis ala-ala lingerie. Mulus, bening, orisinil dan ... apa ya namanya? Fresh! Ya. Fresh banget! Kayak ikan laut yang baru ditangkap dan dimasak. Fresh dan enak banget! Busyeeeettt .... Surga ini boookkk! Surgaaaa .... "Gua kan udah bilang, lap iler lo Ariiieeeelll. Noh sampai netes di jok kursi!" "Bwahahahahaha ...!" Kampret emang di Dewa ini. Nggak bosen-bosennya bocah sialan ini bikin aku malu. "Anjrit lo!" Aku melepar kulit kacang kering ke arah Dewa, si tukang rese. "Kayak lo nggak ngiler aja!" "Kalau gua sih udah ngiler dari tadi emang, tapi kan udah gua lap juga. Hehehe!" "Dasar bangké!" Karena sebal, gemas dan malu, segera kupiting leher dokter sialan yang duduk disampingku ini. Emang perlu dikasih pelajaran nih anak. "Cantik kan mas?" Pak Siddiq tiba-tiba bertanya sambil melirik ke arahku. Akupun mengangguk malu-malu sambil pelan-pelan melepaskan pitingan tanganku dari leher Dewa. Agak nggak enak tadi karena aku sempat meremehkan cerita tentang tempat kelahiran Pak Siddiq. "Dulu pada abad kelima di zaman Yunani kuno, katanya nenek moyang dari desa kami itu berasal dari negara tersebut." Pak Siddiq memulai cerita. Mobil sudah meninggalkan daerah pinggiran sungai tadi. Jadi kami bisa fokus mendengar kisah dari pak Siddiq. "Pada era Athena klasik, ada sebuah rumah di sana, yang di sebut-sebut sebagai rumah hetaera. Di rumah tersebut adalah tempat berkumpulnya para wanita-wanita cantik pada zaman itu. Beberapa wanita cantik itu melarikan diri dari rumah dan negara tersebut dan berakhir terdampar di sini. Di dalam hutan ini. Dan menetap tanpa mau berpindah hingga mereka menikah dengan penduduk lokal dan punya anak cucu." Yunani? Negara yang terkenal dengan surganya para Dewa Dewi itu? Benarkah? Aneh. Kenapa aku baru tahu sekarang ya? Dan juga, jika di sini memang surganya para wanita cantik kenapa tak ada satupun reporter yang meliput tempat ini? Apa karena tempat ini terlalu terpelosok makanya tidak terendus reporter? "Orang penduduk sini mempunyai keyakinan bahwa, jika para wanita yang ingin keluar dari sini maka kecantikan mereka akan luntur dan dia akan berubah menjadi sosok yang tidak cantik lagi. Entah itu benar atau nggak. Tapi mémang belum pernah ada satupun gadis di sini yang merantau ke kota. Ini adalah désa yang masih sangat terasingkan." Waaahhhh ternyata, di zaman moderen kayak gini masih ada saja yang mempertahankan keyakinan kolot seperti itu ya. Aneh! Sungguh aku nggak habis pikir dengan semua orang yang ada di desa ini. Bagaimana mungkin mereka bisa mempunyai keyakinan kalau keluar dari desa bisa jadi nggak cantik lagi? Sungguh keyakinan nyang aneh. "Lalu bagaimana dengan pernikahannya Pak?" tanya salah satu perawat cowok yang duduk di belakangku. "Katanya mereka tidak boleh keluar. Lalu bagaimana mereka menikah?" Benar juga. Gimana mereka menikah kalau nggak ada pria di dalam pedesaan itu? Bagaimana mereka berkembang biak. Nampak Pak Siddiq tertawa mendengar pertanyaan si bocah perawat. "Memangnya mas-nya berpikir kalau di desa kami masih seprimitif dulu? Hahaha." Aku melirik Pak Siddiq yang baru pertama aku lihat tertawa lepas seperti itu. Sejak tadi, ketika kami bergurau atau saling ejek, bapak itu hanya tersenyum tipis menanggapi kelakuan orang-orang yang ada di mobil. Tidak ikut tertawa keras seperti yang lain. "Kalau dulu, waktu pertama nenek moyang desa ini ke sini, jujur, saya ndak tahu gimana mereka menikah dan mendapatkan keturunan. Tapi kalau sekarang kebanyakan gadis sini menikah dengan pemuda sedesa. Dan masih ndak keluar dari wilayah desa itu sendiri. Penduduk di desa juga sudah banyak. Bahkan bisa dikatakan banyaknya penduduk bisa sebanyak satu kecamatan." "Lalu pemudanya apa tidak ada yang merantau, Pak?" "Kalau itu pastinya ada." Pak Siddiq menatap perawat cowok yang satunya. "Kalau pemuda desa nggak ada pantangan jika ingin keluar dari zona desa. Mereka bebas. Sebenarnya banyak juga pemuda dari desa kami yang merantau ke kota dan meninggalkan istri-istri mereka di sini." "Apa istrinya nggak boleh dibawa merantau sekalian pak?" Pak Siddiq tersenyum. "Tentu saja sangat boleh dan nggak ada larangan kalau gadis atau wanita di sini tidak boleh keluar dari desa. Semua boleh keluar. Cuma kebanyakan gadis dan wanita di sini takut jelek jika keluar dari desa." "APA?" aku, Dewa dan dua perawat di belakangku menanggapi dengan sedikit histeris pernyataan pak Siddiq ini. Ah ... segitu parahkah keyakinan mereka terhadap mitos itu? Sebegitu mendarah daging kah? Padahal kalau jadi jelek tinggal skincare an saja. Di jamin mereka akan balik mulus lagi. "Ah sepertinya kita nggak bakalan dapat jodoh di sini dech, Don!" Keluh perawat yang duduk di sebelah kiri memnggil perawat yang duduk di sebelah kanan. "Mau dapat jodoh gimana Jal, lo kan udah punya cewek." "Jiah lo ini, nggak tanggep bener jadi temen. Siapa tahu aja ada slah satu cewek yang nyantol sama gue. Kan lumayan. Mana cantik-cantik banget lagi. Cantiknya ngelebihi mbak cinta laura, park Shin ye, bahkan prety Zinta." "Iya juga sih." Dan dua cowok ini, aku yakin sedang membayangkan sesuatu yang jorok di pikiran mereka. "Tapi berat juga kalau mereka nggak mau dibawa keluar dari desa. Itu sama aja dengan walau udah nikah tapi masih sama aja dengan jones!" He'em aku setuju Lalu di sisa perjalanan kami yang tinggal sedikit lagi kini dihiasi dengan diam. Mungkin saja ada kekecewaan di dalam hati mereka ketika mendengar Pak Siddiq bilang kalau wanita di sini nggak mau di ajak keluar desa. Tapi diamnya kami yang berada di mobil tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja, ketika mobil kami sudah masuk ke dalam désa, kami disambut sebuah arak-arakan besar yang berjalan dengan beramai-ramai. "Apakah mereka ini sedang menyambut kita pak?" Tanyaku heran. Tiba-tiba saja ada segerombolan orang yang berjalan secara berkelompok dalam jumlah yang agak besar berjalan berlawanan dengan arah mobil kami. "Ndak, Mas." "Apakah ada tontonan di balai desa pak?" Kali ini Dewa yang bertanya. Ternyata cowok ini ada juga yang tidak diketahuinya di desa ini. Aku kira karena dia sudah tinggal selama sebulan di sini, dia sudah tahu segala hal tentang désa yang selalu dibangga-banggakannya ini. "Ndak juga, Mas!" "Lalu?" Kini ganti dua perawat yang duduk di belakang yang sangat kepo. "Inilah tradisi yang sangat disayangkan, yang ada di desa ini mas." Jawab pak Beno, karena Pak Siddiq tidak kunjung menjawab pertanyaan kami. "Tradisi yang sangat disayangkan? Apa maksudnya pak?" "Tradisi yang buruk atau tradisi aib bagi para gadis di sini." Tradisi buruk? Tradisi aib? Apa maksudnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN