2. Namaku Ariel

1741 Kata
"Ril, Ariel. Bangun!" Terdengar suara Dewa membangunkanku dengan menggoyang-goyang bahuku. Aku tidak tidur sebenarnya. Walau tidurpun, indera pendengar dan perasaku masih sangat tajam. Makanya dulu ketika aku masih kecil dan di jadikan objek penelitian, ketika aku tidurpun, grafik dalam otakku tidak datar dan tenang. Masih bergelombang, karena memang beberapa inderaku masih aktif ketika aku tidur. Jangan tanya, apakah aku bermimpi ketika tidur? Tentu saja pernah. Tapi dari kecil hingga dewasa sekarang bisa dihitung berapa kali aku tidur dan bermimpi. Pun, ketika dalam perjalanan di mobil ini. Walau mataku terpejam tapi aku masih bisa merasakan gerakan bahkan pembicaraan semua orang yang ada di mobil. Dari si sopir yang membelak-belokkan setir. Pak Beno yang menelpon istrinya. Penjemput yang main game di hp. Dewa yang menggeliat baru bangun. Dan dua perawat yang berbincang saling berbisik membicarakan pacar pacar mereka. Telingaku dengan jelas bisa menangkap semua gerakan dan ucapan mereka dan merekamnya di otakku. Menggambarkan semua apa yang mereka lakukan. "Bentar lagi." Keluhku. Sebenarnya aku bukannya nggak mau bangun seperti yang diinginkan Dewa. Ketika mataku terpejam, seluruh inderaku yang maka akan makin menajam ketika aku menutup mata. Dan sekarang fokusku adalah mendengarkan dua perawat yang berbincang dengan berbisik di belakang ku. Kau tahu apa yang mereka bicarakan? Mereka bertukar cerita tentang adegan ranjang denga pacar mereka. Seru nggak tuh? Wkwkwwk. Makanya aku agak kesel si Dewa lagi-lagi ganggu acara ngupingku. "Ini kita hampir sampai." Dewa masih mengguncang bahuku. Dan sialnya, dua perawat itu juga mendengar ketika Dewa bicara begitu. Secara reflek langsung menghentikan sesi curhat ranjang mereka. "Lo jangan molor aja terus! Gua tendang keluar pintu mobil, nyahok Lo!" Dewa masih belum mau nyerah gangguin aku. Isshhh. Dasar bocah k*****t. Nggak lihat orang lagi asyik denger cerita dua puluh satu plus secara live aja. "Iya. Iya. Gua bangun. Puas Lo?" Nyolotku. Dewa terkekeh melihatku uring-uringan dia bangunin. Aku yakin seratus persen, bocah itu pasti mengira aku kesal karena dia bangunin aku yang masih ngantuk. Padahal aku keselnya itu karena dia ganggu acara menghayalku. "Bentar lagi kita kita akan melewati sungai jernih yang mengitari pedesaan itu. Jangan sampai lo ketinggalan. Di sana entar banyak gadis-gadis yang mandi atau nyuci di sepanjang sungai. Lo pasti nyesel deh kalau sampai nggak lihat gara-gara molor." Makanya aku dari tadi kayak dengar suara gemericik air, ternyata mobil ini dekat banget dengan sumber air. Oh ya, kalian, para pembaca belum kenal aku kan? Oke. Untuk kalian para gadis cantik, tentu saja. Aku akan memperkenalkan diri dengan sangat glamour. Tapi ingat pesanku di bab pertama ya. Jangan jatuh cinta padaku. Nanti kamu nggak kuat. Hahahaha. Untuk untuk kalian, para pembaca pria. Jangan iri padaku. Aku hanyalah anak halu sese-outhor yang sangat kucinta. Eaaakkkk. Oke. Mulai dari nama ya. Namaku Ariel. Ariel Bramantyo. Putra dari Bramantyo dan Emily. Papaku meninggal sebelum aku lahir dan mewariskan sebuah rumah sakit yang dikelola oleh mamaku. Aku tidak sekolah paud atau pun TK (Taman Kanak-kanak). Umur tujuh tahun aku sudah kelas lima SD. Umur sebelas tahun sudah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Umur tiga belas tahun sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), karena setelah kelas satu aku langsung lompat ke kelas tiga. Wkwkwkwk. Dan setelah itu aku kuliah jurusan kedokteran dan sekarang lagi kerja sebagai dokter bedah umum di rumah sakit Mama. Dokter bedah adalah dokter spesialis yang mengobati penyakit, cedera, atau kondisi gawat darurat pada tubuh melalui metode bedah (operatif) dan obat-obatan. Untuk menjadi dokter bedah, seseorang harus menyelesaikan pendidikan dan profesi dokter umum, lalu menyelesaikan pendidikan spesialis ilmu bedah. Bagaimana bisa, aku yang baru dua puluh dua tahun ini sudah menjadi dokter bedah umum? Tentu saja bisa. Bukankah tadi aku sudah bilang kalau, ketika aku berumur tujuh tahun, aku sudah memasuki jenjang kelas lima SD. Padahal umur segitu seharusnya baru saja masuk tahapan kelas satu. Hayo, kenapa coba? Karena aku termasuk anak ber-IQ tinggi. IQ rata-rata atau normal itu berkisar antara sembilan puluh satu sampai seratus sepuluh (91 – 110:) Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal atau bisa disebut Bright Normal berkisar dari angka seratus sebelas hingga seratus dua puluh (111 - 120:) 120 – 130: Tingkat IQ superior berkisar mulai angka seratus dua puluh sampai seratus tiga puluh ( 120 - 130:). Tingkat IQ sangat superior atau biasanya orang sebut jenius berkisar seratus tiga puluh lebih. Dan IQ-ku adalah 132. Jadi aku adalah cowok jenius yang tampan. Jadi jangan kaget jika aku sudah menjadi dokter bedah di umur dua puluh dua tahun dan sudah menjalankan berbagai macam operasi. Seperti operasi Usus buntu, Peritonitis, Abses hati, Tumor jinak, seperti lipoma, fibroma, dan adenoma, Tumor atau kanker pada organ tertentu, seperti kanker p******a, kanker usus, dan kanker lambung, Hernia, Cedera/luka seperti luka tusuk dan bakar, Kelainan kongenital (cacat bawaan lahir), Kelainan empedu, seperti batu empedu, infeksi dan radang empedu, Patah tulang dan diskolasi (pergeseran) tulang. Kok rumah sakit mau menyerahkan begitu banyaknya operasi pada cowok ingusan kayak aku? Ohhh ... ayolah. Itu adalah rumah sakit mamaku. Dan tentu saja Mama sudah tahu sebaik apa penanganku dalam panasnya meja operasi. Jadi tidak perlu diragukan lagi kalau setiap operasiku pasti berjalan sangat lancar. Bukannya mau sombong. Semua itu memang benar adanya. Karena selain aku ber-IQ tinggi, aku juga punya indera yang sangat kuat. Bukan hanya satu indera. Tapi kelima inderaku sangat tajam, berbeda dengan orang pada umumnya. Aku, yang terkenal sebagai cowok playboy ini, mempunyai keistimewaan pada diriku. Dari kecil, aku mempunyai kepekaan indera yang lebih tajam dari manusia kebanyakan. Bukan indera keenam, tapi panca indra. Kelima panca inderaku mempunyai kepekaan, kedeteksian yang lebih kuat dan lebih tajam dari orang biasa. Mata, Indra penglihatan. Kepekaan indra ini bukan untuk melihat tembus pandang. Tapi lebih ke penglihatan malam. Dia bisa melihat dalam keadaan gelap gulita tanpa harus memakai kacamata malam. Jika kalian membayangkan mataku seperti mata vampire dalam film, akan aku terima. Karena memang seperti itulah rasanya. Hidung. Indra pembau. Bisa mencium aroma yang bahkan dalam jarak lima ratus meter dari tempatnya. Bahkan membau aroma yang sangat kecil. Jadi bagi kalian para gadis cantik, berhati-hatilah jika mau kentut. Karena hidungku ini sangat peka. Hihihi. Lidah. Indera pengecap. Dengan lidah yang sensitif dan peka, aku bisa tahu bumbu apa saja yang digunakan pada sebuah masakan. Bahkan masakan chef terkenal sekalipun yang memakai resep rahasianya. Jika suatu hari kamu mau jadi pacarku, jangan pernah lupa sikat gigi sebelum kencan denganku. Karena lidahku yang sangat tajam ini, sangat suka menghisap ketika berciuman. Jadi pastikan aroma mulutmu sudah wangi sebelum kita pergi kencan. Telinga. Indera pendengar. Sebagai dokter, aku sebenarnya tidak perlu stetoskop untuk mengetahui detak jantung pasien. Cukup menyentuh dadda pasien dan fokus. Aku pasti sudah tahu bagaimana ritme detak jantung si pasien. Bahkan tanpa memegangpun aku juga sudah bisa tahu. Hanya mengandalkan indera pendengarku dan ketajaman kefokusan, maka aku sudah bisa menebak berapa kali jantungmu berdetak satu menit. Seperti dalam kasus Dewa tadi. Terakhir. Kulit. Indera perasa. Disinilah indra yang sangat berperan penting dalam pekerjaanku. Apalagi ketika menjalankan sebuah operasi. Setiap dokter, ketika merasa ada yang janggal pada jalannya operasi, pasti merasa tidak enak di hatinya. Sama seperti ketika kamu makan gorengan dan selalu pakai saus untuk pelengkap, dan ketika tidak ada saus maka perasaan pun tidak enak. Sama seperti itu. Dan ketika aku merasa ada yang janggal di meja operasiku maka indera perasaku akan bekerja lebih ekstra lebih dari pada biasanya. Karena semua yang aku sentuh pasti memberikan kode jika ada yang bermasalah. Misal, ketika operasi jantung dan masih ada pembuluh darah yang bermasalah, maka indera perasa kulitku ini, dengan tajam akan mendeteksinya. Maka, kebiasaanku sebelum mengakhiri operasi adalah, aku pasti meraba bagian-bagian tertentu atau terdekat dari tempat melakukan operasi tadi. Mungkin sebagian partner kerja di ruang operasi melihatku seperti orang m***m. Padahal aku hanya mengecek jika ada yang kesalahan atau ada sesuatu yang terlewat ketika operasi berlangsung. Setelah aku yakin semua aman, baru aku meminta asistenku untuk menjahit dan menutup luka. Dan satu yang perlu kalian ketahui. Tidak ada seorangpun yang tahu kelebihanku ini. Kecuali Mamaku. Dan tentu saja, para pembaca yang aku cinta. Hehehe. Oke. Cukup untuk perkenalan kita di bab ini. Nanti di bab-bab selanjutnya, bisa dipastikan anda semua pasti makin jatuh cinta padaku. Eaaakkkk. Prikitiw. Kita kembali lagi ke tempat asal tadi. Di dalam mobil, menuju kesebuah pelosok desa.dan gemericik suara air. Dan benar saja. Makin dekat, aku semakin mendengar sayup-sayup suara tawa gadis-gadis di tengah-tengah suara gemericik air. Dari pendengaranku, bukan hanya satu gadis. Tapi beberapa gadis. Baru mendengar suara sayup-sayupnya saya sudah melambungkan angan-anganku tentang kisah tujuh bidadari yang mandi di bawah air terjun, kisah yang paling fenomenal di Jawa menurutku. Tentu saja, karena itu melibatkan gadis cantik. Aku membayangkan gadis-gadis yang mandi di sungai itu pasti cantik-cantik. Para gadis yang memakai gaun tipis dan saling mencipratkan ke teman mandinya. Saling cekikikan karena begitu senang bisa berendam dalam jernihnya air sungai. Bisa melihat pemandangan itu, sungguh lah surga dunia tiada tara. "Woi, Ril. Lap iler lo tuh! Udah netes-netes sampai kaos juga!" Suara Dewa kemudian di susul suara tawa yang meledak seisi mobil. "Lo pasti udah ngebayangin yang kagak-kagak kan?" Tebaknya. Kampret memang si Dewa. "Enggak lah. Buat apa gua bayangin aneh-aneh." kilahku. ""Dah nggak usah sok suci dech lo. Iler lo itu udah bisa dijadiin bukti. Kagak bisa ngeles lagi dech lo." Brengsek bener sih nih anak. Bikin malu aja. "Mana mungkin. Di kota udah banyak kali yang mulus-mulus dan yang bening-bening. Udah biasa gua lihat yang kayak gitu." aku masih nggak mau kalah. Ariel gitu. Pantang dong dikalahin sama cecunguk satu ini. "Tapi gadis di daerah saya, ayu ne beda lho, Mas." Pak Siddiq, pemuka desa yang kami tuju, ikut ambil obrolan, sedikit medok khas pedesaan. "Nah, kan apa gua bilang." Serasa dapat angin segar Dewa dibantu Pak Siddiq. Tuh, muncul juga sombongnya tuh bocah. "Emangnya bedanya di mana Pak?" "Nanti mas sendiri pasti tahu." Entah mengapa, gara-gara kalimat Pak Siddiq yang terakhir aku jadi makin penasaran dengan desa itu. Cantiknya beda. Beda gimana ya? Suara gemericik air semakin terdengar kian dekat, riuh bersahut-sahutan dengan suara obrolan dan cekikikan suara gadis-gadis. Jantungku semakin berdetak kian cepat, bersamaan rasa penasaran yang semakin membludak. Air, gadis cantik, kain dan rambut yang basah. Lamunan itu terus berputar-putar dalam otakku, tak mau berhenti. "Setelah pohon besar itu," Pak Siddiq menunjuk pohon beringin besar yang ada di depan kami. "Pasti akan terlihat pemandangan yang akan membuat mas-mas ini terpana." Kami semua, para pria di dalam mobil, seakan menahan napas menanti mobil berjalan melewati pohon besar itu. Dan ketika mobil benar-benar sudah melewati pohon beringin besar, lalu .... Aku terbelalak menatap apa yang ada di depanku. Lho? Kok?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN