Namanya Ariel. Dokter Ariel. Dia adalah teman Dokter Dewa yang bekerja di polindes desa.
Bulan lalu di polindes hanya ada Dokter Dewa saja, tapi sekarang ada empat. Katanya Paman Siddiq. Yang dua dokter dan yang dua lagi perawat. Dokternya ada Dokter Dewa dan juga Dokter Ariel. Sedangkan perawatnya namanya Mas Jali dan Mas Doni. Semuanya tinggal di polindes tak terkecuali.
Paman Siddiq juga berkata kalau Dokter Ariel katanya sangat kaya. Mamanya mempunyai rumah sakit besar. Dan Dokter Ariel adalah anak semata wayangnya. Katanya juga, uang seratus juga bukanlah uang yang besar. Jadi Dokter Ariel tetap akan membayarkan hutang orang tuaku. Aku benar-benar sangat berterima kasih padanya dan aku ingin mengucapkannya langsung pada Dokter Ariel.
Makanya pagi ini, ketika aku membantu Bi Laila memasak, Bibi Laila adalah istri dari paman Siddiq, aku menawarkan diri mengantarkan masakan untuk di makan sarapan keempat petugas medis itu. Aku bisa membantu Bi Laila karena semalam aku tidur di rumahnya. Dian lah yang bingung dan ingin membawaku pulang ke rumahnya. Dia nggak mau membiarkanku sendirian. Dia nggak mau nanti aku bersedih tanpa teman. Akhirnya aku memang benaran tidur di rumahnya dan membantu Bi Laila memask.
Sedikit deg-degan ketika aku mengetuk pintu belakang polindes. Kenapa aku mengetuk pintu belakang polindes bukannya pintu depan? Aku mengetuk pintu belakang bukan tanpa alasan. Bi Laila lah yang menyuruhku. Katanya jika aku mengetuk pintu depan, nggak akan ada yang dengar. Karena keempat petugas medis itu tidur di belakang, dan kemungkinan mereka nggak dengar ketika aku nanti mengetuk pintu depan. Makanya sekarang aku langsung ke belakang alih-alih ke pintu depan.
Tok tok tok!
Aku mengetuk pintu. "Assalamu alaikum."
Tok tok tok!
Lagi aku mengetuk karena belum ada sahutan. "Assalamu alaikum!"
"Wa alaikum salam."
Deg. Ada yang jawab. Hatiku sudah girang. Apa itu Dokter Ariel?
Tak lama kemudian, terdengar pintu kunci di putar dan setelah itu pintu terbuka, dan ....
"Ma-maaf? Siapa ya?"
Ah ... ternyata bukan. Aku kira tadi Dokter Ariel."
Sepertinya yang membuka pintu salah satu dari perawat itu. Karena dia bukan Dokter Dewa atau pun Dokter Ariel.
"Ah , ini." Aku menunjukkan rantang makanan pada cowok itu. "Dari istrinya Pak Siddiq."
Cowok yang wajahnya memerah itu, menatap rantang sebentar lalu menatapku. "Oh ... silahkan masuk!" Katanya membuka pintu lebih lebar lagi agar aku bisa masuk.
Wah, ternyata lumayan luas juga ya bagian belakang polindes. Aku kira sempit.
"Kamu anaknya Pak Siddiq?" Cowok yang wajahnya masih memerah itu menatapku sekilas di dekat meja makan.
Seperti kode, aku pun langsung menghampirinya dan meletakkan rantang makanan di atas meja.
"Tapi kok kayaknya beda ya sama yang kemarin?" Cowok itu tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala yang aku yakin nggak gatal. "Yang ini lebih cantik dan mempesona. Hehehe."
Aku mengerutkan alis mendengar Mas perawat yang wajahnya semakin memerah ini. Aku nggak gitu mengerti kenapa dia tersenyum malu- malu seperti itu. "Te-terima kasih." Karena aku nggak tahu harus menanggapi bagaimana, jadinya aku hanya bisa mengucapkan terima kasih saja.
"Ada apa, Jal?" Seseorang tiba-tiba masuk ke ruang dapur dan bertanya pada cowok yang membukakan pintu untukku tadi tadi.
Dan ketika mataku bertemu dengan cowok yang memanggil cowok di sampingku ini dengan nama Jal, seperti cowok yang membukakakan pintu tadi, cowok yang baru datang ini pun wajahnya juga langsung memerah.
Aku mengernyit bingung. Kenapa dua petugas kesehatan ini wajahnya gampang memerah ya? Apa mereka demam?
"Ah ... ini, kita dikirimi sarapan sama istrinya Pak Siddiq." Cowok yang dipanggil Jal itu menjawab.
"Oh, Bu Laila?" Cowok yang memanggil temannya Jal itu bertanya lagi.
"Iya, Don."
Jal?
Don?
Apa dua perawat ini yang bernama Jali dan Doni? Yang seperti diceritakan oleh Paman Siddiq?
"Ini ada kiriman dari Bi Laila untuk sarapan Mas-Mas perawat dan dokter." Kataku sambil melirik rantang yang belum tersentuh mereka di atas meja.
Lagi-lagi kedua cowok ini wajahnya semakin memereh. Apa mereka benar-benar demam?
Walau pun begitu, keduanya kini bergotong royong untuk mengganti makanan di rantang ke tenpat wadah makan mereka yang sudah disediakan di polindes.
Sepertinya yang bernama Doni itu, yang mengambilkan peralatan makan. Dan yang bernama Jali memisahkan rantang-rantang yang tersusun rapi. Keduanya, sambil tersenyum malu mulai mengganti makanan di rantang ke tenpat makan mereka. Aku menatap keduanya dengan sedikit aneh. Mereka kenapa?
"Tolong sampaikan pada Bu Laila, kami sangat berterima kasih padanya atas makanannya." Perawat yang bernama Doni menyerahkan rantang padaku.
"Baik. Nanti akan kusampaikan."
Lalu mereka sama-sama diam. Dan rasanya aku malah jadi canggung. "Kalau begitu aku balik dulu ya, Mas perawat."
"Ah ... iya. Terima kasih." Mas perawat Doni yang menjawab.
Aku hanya mengangguk.
"Hati-hati di jalan." Kali ini Mas perawat Jali yang berpesan.
Aku kembali hanya mengangguk.
Setelah mengucapkan salam, aku pun keluar. Tapi belum lama aku melangkah, aku mendengar suara orang yang begitu ingin aku temui tapi tidak bisa. Aku pun berhenti sejenak untuk mendengarkan suara itu.
"Wow ... kalian rajin sekali, Pagi-pagi udah dapat makanan aja."
Ini adalah suara orang yang begitu ingin aku temui tapi gagal. Suara penolongku. Suara seseorang yang hanya dengan pembelaannya bisa begitu menggetarkan hatiku. Siapa lagi kalau bukan suara Dokter Ariel. Dan aku masih sangat ingat suaranya walau aku baru mendengarnya sekali saja kemarin.
"Selamat pagi, Dok!"
"Selamat pagi, Dokter Ariel1"
"Selamat pagi juga." Dokter penolongku itu pasti membalas sapaan selamat pagi dua mas perawat tadi. "Makanan catering?"
"Ah ... makanan ini dikirim istrinya Pak Siddiq, Dok, habis subuh tadi."
"Oh, aku kira kalian beli di warung."
"Tidak, Dok."
Sudah puas hanya mendengar suaranya saja, aku pun melanjutkan langkahku pergi dari polindes dengan ringan serta senyum yang menghias bibir, dan kembali ke rumah Paman Siddiq. Mengembalikan rantang yang aku bawa.
Ah ... Dokter Ariel.
Entah kenapa menyebut namanya saja sudah membuatku senang bukan main.
***
Siang hari. Dian disuruh ibunya untuk mengantar makanan lagi untuk keempat petugas medis. dan dia mengajakku untuk menemaninya mengantar makanan. Tentu saja aku mau. Siapa tahu nanti aku bisa bertemu dengan Dokter Ariel. Aku sudah membayangkan dan merencanakan apa yang harus aku katakan pada Dokter Ariel nanti ketika kami bertemu.
Pertama-tama, aku akan berterima kasih padamya karena sudah menolongku dengan membayar hutang orang tuaku. Dan aku akan berjanji padanya, suatu hari nanti aku pasti akan membayarnya. Entah bagaimana caranya. Dan aku juga akan menyatakan perasaanku kalau aku menyukainya. Tak apa jika dia menolak. Toh kami memang baru bertemu kemarin, jadi wajar aja kalau dia tidak menyukaiku. Tapi aku tak apa. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku saja, karena itu juga wujud dari rasa terima kasihku padanya. Jadi, nggak papa kalau dia menolakku. ku sudah siap.
Tapi ketika kami sampai di polindes, ternyata tempat itu sangat ramai. Banyak sekali yang periksa.
"Gimana ini, Yan? Apa kita masuk aja atau nunggu dulu?" Dian bertanya bingung.
Aku menatap orang-orang yang brebondong-bondong datang untuk periksa kesehatan mereka. Entah mengapa jika seumpama kami nyelonong masuk dengan alasan memberikan makanan, rasanya kurang etis dan kurang sopan. Secara mereka kan sedang bekerja. Masa kami harus mengganggu pekerjaan mereka. Apalagi pekerjaan mereka sangat penting. Yaitu menolong orang.
"Nanti ajalah, Di. Aku juga nggak enak jika ganggu kerjaan mereka."
"Iya juga sih."
"Kita nunggu di bawah pohon itu aja yuk!" Ajakku menunjuk pohon beringin yang di bawahnya ada rumput jepang yang rapi. Terlihat begitu asri, Duduk di sana sambil menunggu orang periksa sepertinya tidak buruk juga.
Dian pun mengangguk. Dan kami duduk di sini dengan semilirnya angin siang yang nggak terlalu panas menyemtuh lembut kulit kami. Sambil menunggu kami bercengkrama dan becanda seperti biasa. Berkat Dian juga, yang selalu menemaniku dan nggak pernah meninggalkanku, aku jadi tidak terlalu terpuruk dengan meninggalnya orang tuaku.
Berkabung? Sedih?
Tentu saja aku juga berkabung dan sedih. Tapi aku juga nggak mau mengecewakan Dian beserta orang tuanya yang berusaha keras untuk menemani dan juga menghiburku. Paling nggak aku harus tersenyum untuk orang yang sudah berjuang untukku. Apalagi sekarang kemungkinan aku nggak jadi menikah dengan Tuan Takur. Itu semakin membuatku merasa tenang.
"Nduk!"
Deg!
Tubuhku langsung terasa kaku begitu aku mendengar suara panggilan ini.
Suara ini adalah suara yang paling seram yang aku takuti. Bukan hanya aku sebenarnya. Semua orang di desa ini memang paling takut dengan suara rendah dan besar dari pria tua ini. Pria tua yang masih begitu sehat dan bugar. Yang, walau dia sudah tua, tapi masih sangat menakutkan bagi penduduk sini.
"Lapo kowe neng kene?" tanyanya. Aku hanya sanggup mendengar suaranya saja tanpa sanggup menoleh. Aku sudah terlalu takut dengan kakek tua ini. "Ate perikso ta?"
Aku masih diam. Tubuhku rasanya sangat tegang dan kaku. Pelan tapi pasti, aku berusaha mencari tangan Dian dan menggenggamnya untuk mencari kekuatan. Tapi sialnya, tangan Dian pun sepertinya sama sengannya. Negitu dingin dan berkeringat. Seperrtiya Dian juga setakut aku.
"Opo perlu tak perikso aku ae?" Kakek tua ini malah tertawa.
Dan aku masih terdiam takut.
Pluk!
Aku merasakan Kakek tua ini duduk tepat di sampingku. Saking tepatnya hingga pinggul sampingku tersentuh pinggulnya. Dan aku sangat yakin kalau dia sengaja menyentuhkan tubuh kami. Tak hanya berkeringat dingin, sekarang, bahkan, tubuhku bergetar hebat karena takut.
"Ojo seneng sek, Nduk. Durung karuan masio Dokter pencilakan kuwi nglunasi utangmu, kowe gagal nikah karo aku. Iso ae kan aku nganggo coro seng luweh ekstrem ben kowe dadi bojoku."
Deg deg deg deg!
Jantungku langsung berubah jadi sangat cepat begitu mendengar ancamannya. Aku lupa kalau Kakek tua ini adalah rubah licik yang dengan segala cara menguasai desa dan mendapatkan apa pun yang diinginakannya. Dan sepertinya tak terkecuali aku. Tuan Takur ingin mendapatkanku dengan segala cara. Entah itu baik, atau pun buruk. Kakek ini nggak akan peduli. Yang penting, dia mau dan harus mendapatkan apa pun kemauannya.
Tuan Takur meletakkan tangannya di pahaku yang tertutup celana panjang, mengelusnya. Dan tindakannya itu semakin tubuhku bergetar sangat takut.
"Tenang ae. Aku wes duwe coro ben Dokter kemaki iku ngeculno kowe, terus langsung minggat ko deso iki." Tangannya tak mau berhenti mengelus pahaku. Bahkan tangannya mengelus semakin ke atas dan semakin ke atas. "Ne pengen aku ngeculno kowe, aku ape ngekek i syarat nggo Dokter iku. Syarat e, kudu bayar utang e wong tuo mu dua kali lipat, dua ratus juta. Terus, nikahi kowe lan gowo kowe minggat ko deso iki. Piye? Cocok kan?"
Tubuhku semakin merinding mendengar syarat yang akan diajukan untuk Dokter Ariel. Dan ketika mndengar syarat itu, bersamaan itu juga harapanku langsung pupus.
Nggak mungkin Dokter Ariel mau melunasi hutang oarang tuaku jika nominalnya sebanyak itu. Nggak mungkin Dokter Ariel mau menikahiku. Dan nggak mungkin lagi Dokter Ariel mau membawaku ke kotanya. Aku hanyalah gadis desa nggak bisa apa-apa. Jadi nggak mungkin Dokter Ariel mau melakukan semua itu untukku. Aku ragu akan hal itu. Tubuhku rasanya mau lemas ketika menyadari sepertinya aku akan benar- benar menikah dengan kakek tua ini.
Tangan Tuan Takur, masih belum mau berhenti mengelus pahaku. Hingga rasanya aku ingin mematahkan tangan kurang ajar itu. Tapi tentu saja aku nggak berani. Aku hanya bisa diam dengan tubuh gemetaran. Dan semakin gemetar setelah menyadari anganku yang pendek tapi terasa seperti langsung sirna.
Brak!
Bersamaan dengan suara benda jatuh itu, Tuan Takur juga langsung mengangkat tangannya dari pahaku.
"Ah ... maaf, Tuan. Bukuku jatuh."
Sepertinya itu suara anak buah Tuan Takur. Aku melirik sekilas anak buahnya. Seorang laki-laki berpakaian formal. Laki-laki ini memakai kemeja dan jas lengkap beserta dasinya. Celana berbahan kain dan juga sepatu pantofel. Kayaknya dia seperti laki-laki terpelajar. (Yang lupa pemeran ini, untuk mengingatnya, bisa dibaca ulang bab 8)
Dengan napas kesal yang terdengar di telingaku, Tuan Takur pun beranjak dari duduknya dan berdiri.
"Yo wes, aku pamit sek yo. Ate merjuangno pernikahan kita. Hahaha." Tuan Takur tawa. Tawa yang menakutakn bagiku dan tawa yang menyebalkan bagi yang mendengarnya. "Ojo wedi nduk cah ayu. Kowe karo aku pasti nikah. Yakin." Dan setelah mengatakan itu, Tuan Takur pergi meninggalkan kami.
Tapi dia juga meninggalkan ketakutan besar pada kami juga. Terutama bagiku. Takut yang setakut-takutnya.