Pertemuan Pertama

1324 Kata
POV Yani Tragedi itu adalah awal mula pertemuanku dengannya. Ketika orang tuaku meninggal di dalam hutan karena di serang hewan buas dan aku diseret ke tempat Tuan Takur. Di situ lah pertama kali aku bertemu dengannya. Cowok yang menjadi suamiku dan aku tergila- gila padanya. Ketika aku di seret oleh beberapa pengawal Tuan Takur, tak sengaja kami berpapasan di jalan. Aku, yang ketika itu sudah mati rasa, hanya menatapnya tanpa ekspresi dan dingin. Dari sekian beberapa laki-laki yang kaget menatapku, mungkin mereka kaget karena aku membaluri seluruh wajahku dengan arang hitam, mataku hanya tertuju pada dia seorang. Entah bagaimana hanya dia yang seakan bersinar sendiri di antara semua laki-laki itu. Padahal di sana ada juga Paman Siddiq, kerabat jauhku, tapi mataku sama sekali nggak bisa lepas dari cowok yang yang paling tampan dari semua laki-laki yang ada di situ. Cowok itu seakan mempunyai magnet yang sangat kuat, yang membuat kedua netraku tak bisa lepas darinya. Tapi walau pun begitu, hatiku rasanya masih mati rasa. Seakan aku sudah nggak peduli lagi dengan hidupku. Serasa mau ikut ayah dan ibu pergi dari dunia ini. Ayah ... Ibu ... Mereka lah hidupku dan hatiku mati karena mendengar orang tuaku meninggal, aku pun tak punya niatan untuk hidup kembali. Aku hanya hidup dengan ayah dan ibu saja. Kami sudah nggak punya saudara lain. Walau kami hidup dengan serba kekurangan tapi kami bahagia. Aku dan ibuku tidak pernah meminta ayahku dengan sesuatu yang muluk- muluk. Kata ibu, ayah mau tinggal di desa ini dan meninggalkan kota kelahirannya aja, ibu sudah senang banget. Karena ibu nggak bisa meninggalkan desa, maka dari itu ayah yang mengalah untuk tinggal di desa ibu dan bekerja seadanya. Kami memang kadang hidup susah, bahkan kami kadang juga nggak bisa makan nasi hingga beberapa hari. Tapi kami bahagia. Aku tahu bagaimana perjuangan ayah dan ibu, jadi nggak pernah meminta sesuatu yang berat pada mereka. Aku hanya ingin bersekolah waktu itu. Ayah dan ibu sudah bekerja keras untuk memenuhi keinginanku itu walau dengan cara hutang ke Tuan Takur. Dan ketika ibu dan ayah meninggal, tiga pengawal Tuan Takur langsung datang ke rumahku yang sudah reyot dan langsung menarikku. Aku sendiri sempat lepas dari cengkeraman tangan mereka, lari ke dapur dan mengusapkan arang hitam ke seluruh wajahku dengan tergesa-gesa. Waktu itu aku hanya ingat satu pesan ibu, 'jika ada orang yang jahat tertarik padamu maka pakailah arang ini untuk menyembunyikan kecantikanmu, dan ibu sangat yakin kalau Tuhan pasti akan melindungimu walau bagaimana pun caranya.' Itu lah yang selalu ternginag di telingaku, makanya ketika tiga pengawal itu melakukan tindak paksaan padaku, aku langsung memakai arang untuk menutupi wajahku. Dan ternyata ibu memang benar. Memang ada orang yang menolongku waktu itu, walau nanti itu orang yang sama yang akan menyakitiku juga. "Yan ..." nampak Dian, temanku plus anak dari paman Siddiq berlari ke arahku dan berusaha menolongku. Bahkan gadis yang kecilnya sama denganku itu, sampai berani menarikku dari tiga pengawal ini. Tentu saja dia kalah. Dian mana mungkin bisa menarikku dari tiga pengawal kekar ini. Yang ada malah dia terpelanting jatuh ke atas aspal. dan di detik berikutnya, datanglah Paman Siddiq dan beberapa orang yang menolong Dian. Temanku itu menatap Paman Siddiq dengan mata berkaca-kaca. "Ayah, tolong Yani, Yah! Kasihan dia." "Jangan ikut campur, Dian. Kamu kan tahu sendiri Pak takur itu bagaimana.' Pama Siddiq merengkuh Dian yang menangis histeris. Ya. Siapa juga yang nggak tahu Pak Takur itu seperti apa. Seluruh warga Desa tahu, bagaimana otoriternya Tuan Takur, bagaimana sadisnya Tuan Takur itu, dan bagaimana dia menguasai seluruh desa dengan embel-embel keturunanya itu. Dulu, dulu sekali, Paman Siddq pun pernah menasehati ayah dan ibu agar nggak pinjam uang Tuan Takur, beliau khawatir dengan keluarga kami. Tapi kami memanglah sesusah itu. Jika kami nggak pinjam uang, dari mana kami harus makan dan dari mana aku bisa bersekolah. Akhirnya mau tak mau, ayah terus menerus hutang hingga hutang tak sanggup di hitung lahi. Dan setelah ayah dan ibu meinggal, aku lah yang harus membayar hutang itu. Yaitu dengan tubuhku. "Tapi kasihan Yani, Ayah. Bapak ibunya baru saja meninggal." Dian sedikit histeris."Tolonglah Yani, Ayah. Tolong!" Paman Siddiq nampak kaget sampai melerai pelukannya dari putrinya. "Me-meninggal?" Dian mengangguk dalam-dalam. "Bagai mana bisa?" Nampak sekali kalau Paman Siddiq syok mendengar kabar ini. Jika paman saja syok sampai seperti itu, lalu bagaimana denganku? Aku mengerti paman sekaget itu karena paman baru tahu. Karena Paman memang sudah keluar desa sejak dua hari yang lalu dan baru kembali sekarang. Cuma aku nggak menyangka kalau paman akan sampai syok seperti itu. "Kata orang- orang dari pagi tagi, paman totok dan Bi Darsih sudah pergi ke hutan buat nyari jamur." Yang dimaksud Dian dengan Paman Totok dan Bi Darsih itu adalah ayah dan ibuku. "Ta-tapi ... tapi sampai siang mereka belum juga kembali." Dian kembali menjelaskan di sela-sela tangisannya. "Akhirnya, sepulang sekolah tadi, aku dan Yani minta tolong Pak Dulah dan beberapa warga lain untuk mencari Paman Totok. Tapi ternyata ... ternyata kami menemukan mereka dalam keadaan sudah meninggal." Nyuuuttt ... entah kenapa. Walau aku sudah tahu dan melihat kedua orang tuaku meninggal, tapi mendengar ceritanya lagi kayak gini membuat hatiku rasanya ada yang mencubit, sakit. "Ayo!" Pengawal yang berwajah seram dengan tato rajawali di tangannya itu mencengkeram kuat lengaku dan memaksaku berdiri. Sakit, sakit sekali. Tapi, bahkan aku nggak sanggup hanya untuk mengeluh kayak gitu. Aku hanya bisa menahannya. Aku tetap berusaha agar tetap dengan dengan mengatir napasku agar tetap normal. Karena jika napasku mulai memburu, bisa dipastikan aku akan muntab. "Tuan!" Panggil paman Siddiq takut-takut. Tentu saja takut, siapa juga yang nggak takut berurusan dengan Tuan Takur. Semua orang takut dengannya. "Tolong lepaskan keponakan saya!" pinta paman Siddiq. "Kasihan dia, gadis ini baru saja kehilangan orang tuanya." Aku hanya diam mendengarkan. "Apa kamu bisa bertanggung jawab atas perkataanmu itu?" "Eh? Maaf, apa maksudnya?" "Jika kamu melarang kami membawanya, apa kamu mau berhadapan langsung dengan Pak Takur karena sudah menghalangi tugas kami?" Sudah kuduga bakal seperti ini. Sekeras apa pun orang melawa Tuan Takur, pada akhirnya mereka akan keder juga. "Bu-bukan seperti itu. Maksud saya ..." "Atau kamu mau menggantikan membayar hutang orang tua gadis ini?" Paman Siddiq terdiam. Tak sanggup memebantah lagi. "Apa kamu mau menggantikan gadis ini dengan putrimu itu?" Dasar pria bertato b******k. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal semacam itu pada aayah dari gadis lain. "Jika kamu nggak bisa membayar hutangnya dan nggak mau menyerahkan anakmu. lebih baik kamu diam saja." Ya. Paman. Sudah cukup kamu berusaha untuk menolongku. Aku sudah sangat berterima kasih atas usaha paman ini. Jadi setelah ini biarkan saja mereka membawaku. Toh mungkin saja ... aku akan bunuh diri jika harus dipaksa menikah dengan pria memuakkan itu. lagi pula buat apa juga aku hidup? Ayah dan ibu sudah tiada, lalu untuk apa lagi aku bertahan. Mungkin akan lebih baik jika nanti aku bunuh diri di depan Tuan Takur agar pria tua itu akan berpikir sekali lagi jika ingin menikahi para gadis polos di sini. "Pegangi gadis ini, jangan sampai lepas! Kalau dia masih berontak, pukul saja dia!" Si pria bertato melemparkan tubuhku pada temannya. dan ketika kami mulai berjalan ... "Oeee!" Sebuah suara menghentikan lagi langkah kami. Dan ... Buk! Buk! Duak! "ARRRRGGGGGGGHHHH ...!" Kejadiannya sangat cepat dan singkat, hingga aku nggak bisa melihatnya secara detail. Tiba-tiba saja ketiga pengawal itu sudh jatuh tersungkur dan tidak berdaya karena dihajar seseorang. "Pergilah dan katakan pada bos kalian! Semua hutang gadis ini aku yang tanggung. Jika bos kalian ingin uang itu maka carilah aku. Dan jangan mengganggu gadis ini lagi." Aku sedikit bengong dengan kenekatan cowok yang menhajar habis para pengawal Tuan Takur ini. "Oh ya, namaku Ariel. Dokter praktek di sini. Jika ingin mencariku, aku ada di polindes desa." SEtelah berkata seperti itu, cowok itu dengan santainya meninggalkan arena pertempurannya dengan tenang. Dan aku hanya bisa memandangnya takjub, Takjub dan penuh cinta. Ibu, ibu benar. Ternyata Tuhan memang menyelamatkanku melalui cowok itu. Makasih ibu dan makasih padanya karena sudah menolongku. Dan itu lah pertemuan pertamaku dengannya. Dengan penyelamatku. Dokter Ariel. Namanya Ariel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN