Ada apa ini? Kepalaku rasanya sangat pusing. Kepalaku rasanya berdenyut hebat.
Ingin sekali aku mengangkat tanganku untuk memijit pelipis. Tapi rasanya sangat berat. Di gerakkan juga sangat susah. Kenapa ini?
"Hei ... tangan cowok ganteng ini sudah gerak."
Suara siapa ini? Dan siapa yang di maksud cowok ganteng? Aku?
"Siapa? Pasien korban kecelakaan tadi?"
"Ya."
Pasien korban kecelakaan? Apa aku maksudnya?
Aku coba mengingat-ingat lagi kejadian ketika aku ingin segera menemui Yani. Dari rumah sakit aku memang terus mengebut tanpa henti. Bahkan aku selalu saja melangkah lampu merah dan karena aku teledor, aku telat menyadari kalau ada truk besar dari arah kiriku yang yang berjalan karena lampu lalu lintas sudah hijau. Dan aku nggak ingat apa-apa lagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki bersepatu pantofel bergerak ke arahku. Dan bersamaan dengan itu indera penciumanku mulai kembali dan berangsur-angsur tajam. Bukan hanya indera penciumanku saja, indera pendengaran dan juga indera yang lain mulai kembali menajam.
Aroma pestisida dan obat-obatan yang sangat kuat. Suara tetesan infus, suara banyaknya orang yang menjerit sakit dan ada juga yang menangis, langsung menyerbu indera pendengaran dan penciumanku dengan kuat.
Ada sebuah tangan yang lembut menyentuh pergelangan tanganku, lalu ada rasa dingin yang menempel di dadaku. Dan aku yakin ini adalah stetoskop. Tak lama kemudian, muncul cahaya yang sangat terang ke arah dua bola mataku. Dan ini pastilah senter.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanyanya. "Bisa mendengar saya?"
Aku mencoba membuka mataku tapi rasanya masih sangat berat.
"Jangan terlalu dipaksa, Tuan. Nanti kesadaran Anda akan berangsur pulih kembali. Jadi tolong tunggu sebentar lagi."
Aku hanya mengangguk dalam keadaan mata masih tertutup. Belum kuat untuk membukanya.
Dan tanpa terasa aku malah tertidur.
***
"Hiks! Hiks! Hiks!"
Bukankah ini suara orang menangis.
"Hiks! Hiks! Hiks! Ariel."
Ah sial ... suara Inez lagi. Lagian ini di mana sih. Apa di rumah sakitku sendiri.
Aku kembali mencoba membuka dan berhasil.
Nah kan benar. si Ines. Tapi ada juga Mama dan Bu Adisty juga. Tapi ini bukan di rumah sakitku. Apa ini rumah sakit yang dekat dengan tempat kejadian kecelakaanku ya?
"Ariel, kamu nggak papa? Apa ada yng terluka?'' Inez langsung bangun dari tempat duduknya begitu melihatku membuka mata.
"Entah." Aku memang nggak tahu kondisiku. Aku belum bertemu dengan dokter yag memeriksaku. Tadi aku hanya mendengar suara yang memintaku untuk tidak memaksakan diri dan beristirahat lagi.
"Bagaimana bisa kamu nggak tahu kondisimu sendiri?" Inez berteriak sangat keras hingga beberapa pasien lain dan beberapa perawat menoleh ke arah kami. Aku aja sampai bengong dan kaget gara-gara suara menggelegarnya. "Apa kamu belum diperiksa sama sekali? Memangnya kepala rumah sakit ini nggak tahu siapa kamu?" Dan suara itu semakin keras. Aku sampai malu dengan orang-orang sekitarku. "Bentar kamu tunggu disini. Aku akan mencari direktur rumah sakit dan komplain karena kamu hanya di taruh ruang UGD, tidak di ruang khusus." Gadis itu menatapku penuh semangat, lalu kemudian ganti menatap Mamaku dan mengangguk. Selang bebrapa detik kemudian, dia segera berderap melangkah keluar dari ruang UGD dan menghilang entah ke mana.
"Gimana perasaanmu?" Mama bertanya dengan wajah datar, tapi nadanya khawatir walau dia tetap berusaha menyembunyikannya.
Aku tersenyum. Memang beginilah Mamaku. Dari luar terlihat cuek dan seperti nggak peduli. Tapi kalau diperhatikan dengan lebih seksama, masih ada nada khawatir di selip nada cueknya. Terima kasih pada panca inderaku yang tajam dan sensitif. Kalau nggak ada panca indera ini yang tajam ini, aku pasti mengangap Mamaku cuek padaku dan nggak menyayangiku.
"Sepertinya aku baik-baik saja." Memang aku merasakan tubuhku baik-baik saja. Tak ada rasa sakit. Atau mungkin aku belum merasakannya.
"Kata Dokter tadi kamu juga baik-bauk saja. Hanya pingsan karena syok."
Aku menatap Mama heran. "Jadi Mama sudah bertemu dengan Dokter?"
"Sudah."
"Lalu. Inez tadi?"
Mama nggak menjawab, hanya diam saja.
Ah ... bolehkah aku tertawa. ternyata segigih apapun Inez berusaha menakhlukkkan mama dengan sok memperhatikanku, ternyata nggak ada yang mempan sama sekli. Hihihi.
"Ayo kita pergi. Bu Adisty sudah mengurus semuanya. Jadi kita tinggal pulang."
Aku pun mengangguk dan turun dari ranjang. Berjalan bersisian dengan Mama. Sedangkan Bu Adisty berjalan di belakng kami.
Aku menengok ke belakang sebentar. Membayangkan melihat Inez datang kembali ke kasurku dan menemukanku sudah nggak ada. Aku yakin dia pasti ngamuk berat. Hahahah.
"Kenapa?" tanya Mama yang berhasil membuatku kembali menatap ke depan. Lebih tepatnya menatap Mama. "Kamu nggak tega ningal Dokter Inez?"
"Mama becanda?" Kali ini aku tertawa dengan pertanyaan Mama. "Justru Ariel ingin tanya pada Mama, tumben-tumbenan Mama bersikap kejam pada Inez. Biasamya kan walau nggak suka Mama kadang membelanya."
Mama diam nggak menjawab. Samapai kami keluar dari rumah sakit, Mama masih belum membuka mulut tentang sikapnya yang membiarkan Inez dengan kebingungannya.
Sampai di tempat parkiran, aku sempat terhenti. Mataku hanya fokus pada seseorang yang baru saja keluar dari mobil taksi. Seseorang itu juga fokus menatapku.
"Yani." desisku.
Begitu melihatku, gadis itu langsung berlari dan menghambur ke pelukanku. Tentu saja kami jadi pusat perhatian orang di sekitar. Tapi sepertinya Yani nggak peduli. Dia terus saja memelukku dengan sangat erat. Seakan gadis ini begitu takut kehilanganku.
Ah ... ternyata sebesar ini rasa cintanya padaku.
Dan seperti Yani juga, aku akan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kuturunkan sedikit tubuhku hingga wajah kami berhadapan. Kuangkat pantatnya sampai dia naik ke atas tubuhku, hingga aku harus mendongak hanya untuk melihat wajah cantiknya.
"Arieel ...!" jeritnya kaget dengan wajah memerah. Sepertinya dia baru sadar kalau sedang berada di tempat umum.
Ah ... imutnya. Tanpa sadar aku begitu senang melihatnya malu-malu kayak gitu. Dan membuatku tersenyum hanya dengan menatap wajahnya yang begitu menggemaskan.
"Turunkan aku! Ada Mama di sebelah kita." bisiknya malu melirik Mama di sebelahku.
Bahkan Mamaku sendiri sempat bengong sebentar melihat Yani yang aku gendong. Tapi cuma beberapa detik saja. Setelah itu wajah Mama kembali datar, Atau lebih tepatnya dipaksa untuk kembali datar lagi.
"Nikmati waktu kalian. Anggap saja tadi aku nggak lihat," Mama langsung melengos, berpura-pura melihat Bu Adisty yang ada di belakang kami. "Ayo, Dis!"
Lalu dua wanita itu pun berjalan menjauh dari kami menuju mobil mereka. Dan aku yakin, sangat yakin, walau aku nggak melihat wajah Mama, tapi Mama pasti tersenyum senang dengan kemesraan kami.
Aku kembaii menatap wajah Yani yang masih berada di gendonganku. Wajahnya masih memerah dan terlihat sangat malu. tangannya yang berpegangan di kedua pundakku sampai bergetar.
"Sudah, turunkan aku! Aku kan berat."
"Nggak. Kamu sama sekali nggak berat."
"Malu di lihat orang."Lagi, dia ngeles.
"Tadi waktu kamu lari- lari dan meluk aku, kayaknya kamu nggak malu."
Wajah Yani kembali semakin merah. Bahkan warna merah itu kini malah menjalar ke telinga si imut ini.
"I-itu kan, aku nggak sadar." Eyelnya terbata-bata.
"Apa karena saking khawatirnya kamu padaku?"
"Eh? Apa?" Bola matanya mengerjap menatapku kaget. "Ng-ngak." bantahnya keras. "Siapa juga yang khawatir padamu."
Apa kamu tahu, dalam ilmu psikologi, semakin kuat orang membantah pakai beribu- ribu alasan nggak masuk akal, itu malah semakin membuatnya terlihat kalau dia berbohong.
Aku terkikik. bagi cewek yang nggak bisa berbohong seperti ini, ini sungguh terlihat sangat lucu.
"Yan?"Aku menatapnya penuh sayang,
"Ya?"
"Kamu cantik."
Matanya membulat, kaget. "Apa?"
"Mau nggak ke hotel? Kita b******a?"
"A-Apa? Ka-kamu sudah gila?''