Krieeet ...
"Silahkan, Tuan muda!" Bu Adisty membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.
Aku masih berdiri di depan pintu. Ragu.
"Tuan muda?"
Aku sedikit tersentak dengan panggilan sekretarisnya Mama itu. Menatapnya sedikit memohon agar aku nggak usah masuk ke ruangan Mama. Perasaanku nggak enak tentang ini. Bisa saja Mama akan memarahiku jika aku masuk ke ruangannya.
Aku menatap Bu Adisty dengan mata yang sengaja aku kedip- kedipkan, bertingkah sok imut di depan beliau. Berharap Bu adisty akan bilang ke Mama kalau aku nggak ada.
"Sebaiknya Tuan Muda masuk saja." nasihat Bu Adisty. "Bukankah seharian ini Anda mencari seseorang sampai meninggalkan kewajiban Anda sebagai seorang dokter?"
"Apa Yani di dalam?" Serbuku.
"Silahkan Anda lihat sendiri."
Benarkah? benarkah Yani ada di dalam ruangan Mama? Apa dia mengadu pada Mama soal pelukan sama Inez tadi?
Dengan sedikit tergesa, dengan pemikiran yang kacau, aku masuk ke ruangan Mama.
"Hai, Ma." sapaku. Tapi pandanganku tidak mengarah pada Mama yang aku beri salam. Tatapan mataku beredar ke seluruh sudut ruangan Mama. Kok nggak ada?
"Katanya tadi kamu nggak praktek konsul?"
"Iya, Ma. Maaf." Mataku masih mencari-mencari sosok yang sedang aku cari.
"Kamu juga nggak ngecek pasienmu?"
"Tadi aku sudah minta Dokter Harun untuk mengecek pasienku." Jawabku masih nggak fokus.
"Mau sampai kapan kamu melimpahkan kerjaanmu pada bawahanmu? Mereka pasienmu dan kamu wajib mengntrol perkembangan mereka hingga tahap mana? Itu adalah tanggung jawabmu!"
"Iya, Ma. Besok aku pasti buka praktek dan ngecek pasienku." Jawabku asal. Aku masih belum menemukan sosok Yani di ruangan Mama. Apa dia lagi istirahat di tempat pribadi Mama.
Dan ketika mataku sangat fokus pada ruangan kamar istirahat Mama, aku dikagetkan oleh suara Mama yang berteriak memanggilku.
"ARIEEELLL ...!"
Sekejab, aku langsung fokus menatap Mama.
Wajah Mama yang awalnya merah menahan marah, kini beranggsur- angsunr kembali normal. Mengambil setumpuk dokumen di sebelah kanannya dan mulai membukanya satu persatu.
"Yani nggak ada di sini." Katanya dengan nada yang sudah normal tapi enggan menatapku. Kali ini Mama fokus pada dokumen di tangannya.
Aku langsung menoleh pada Mama yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya. "Mama tahu dia di mana?"
"Bukankah kamu suaminya? Bukannya seharusnya kamu yang paling tahu di mana keberadaannya?"
Aku menunduk. Menautkan kesepuluh jariku dan meremasnya. "Tadi ... Yani nggak sengaja lihat Inez meluk aku. Lalu dia pergi dan hilang. Aku cari di seluruh rumah salit tapi nggak menemukannya."
Brak!
Aku sampai melonjak kaget mendengar Mama membanting tumpukan dokumen itu di atas meja. Dan menatapku horor. Walau aku nggak melihat bagaimana Mama menatapku, tapi aku sudah merasakan hawa seram yang tertuju padaku. Tatapan Mama sudah seperti anak panah yang seakan terbang melesat menembus seluruh tubuhku. Bersiap mencabik-cabik seluruh kulitku.
"Pe- lu-kan?" Bahkan nada suara Mama yang bertanya pun sudah mengalahi nada suara gerandong yang seram. "Kamu bilang tadi pelukan dengan gadis lain di depan Yani?"
"Bu-bukan begitu, Ma. Inez yang memaksa memelukku. Aku sudah melarangnya tapi nggak bisa. Mama kan tahu sendiri, kalau Inez itu ..."
Brak!
Brak!
Brak!
Mama memukulkan dokumen- dokumen itu lagi dengan lebih keras dan berkali- kali.
"Kamu mau bikin alasan?"
Aku langsung menggeleng takut. Mamaku kalau sudah marah memang sangat menakutkan. Sunder bolong aja kalah menyeramkan kalau Mama sudah marah.
"Memangnya kamu itu banci? Memangnya kamu itu pengecut? Kenapa masalah sepele segitu aja kamu nggak bisa hadapi?"
Aku masih terdiam. Nggak berani menyela sama sekali.
"Apa perlu Mama yang turun tangan?"
"Nggak, Ma."Sahutku cepat. "Nggak perlu. Biar Ariel selesaikan ini dengan cara Ariel." Aku tersenyum kaku. Bisa ribet urusannya kalau Mama sampai turun tangan.
Mama terlihat menghembuskan napasnya lelah. Mungkin lelah dengan kelakuan anaknya ini yang selalu bikin ulah ini. "Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah ini? Memangnya kamu tahu Yani ada di mana?"
"Itu ..." Aku mati kutu. Aku memang nggak tahu Yani di mana dan itu yang membuatku bingung juga gimana caranya menyelesaikan ini.
"Yani ada di panti." Mama memberitahu.
Aku mendongak kaget tapi juga senang. "Benarkah?"
"Kapan Mama pernah berbohong?"
Aku garuk-garuk kepala yang nggak gatal. memang sih, Mama ngak pernah berbohong. Seumpama berbohong pun aku juga pasti akan tahu. Bukan hanya Mama, setiap orang berbohong aku pasti akan tahu. Setiap orang berbohong itu pasti mempunyai getaran suara yang berbeda. Dan itu sangat terdengar jelas di indera pendengaranku.
"Pergilah!"
"Eh? Gimana, Ma?"
"Pergilah. Selesaikan masalahmu dan jangan pernah mengabaikan pasien lagi. Mereka semua datang ke sini, ingin bertemu denganmu itu dengan harapan. Harapan mereka, kamu bisa mengetahui pemyakit mereka dan menolong mereka. Bukannya malah mengabaikan mereka semua kayak gini. "
"Iya, Ma . Ariel minta maaf. Ariel salah. " Aku menunduk sangat dalam. Sadar akan keslahanku. Sadar akan kelalaianku.
Tak ada sahutan lagi dari Mama. Aku mendongak. Menatap pahlawanku satu- satunya itu. Mama begitu fokus melihat kembali ke arah dokumen yang sempat dibanting-bantingnya tadi.
"Ariel pergi dulu ya, Ma?" aku pamit agak ragu.
Tak ada jawaban dari wanita tua yang masih cantik ini. Dan aku tahu kenapa. Karena Mama sudah kecewa lagi pada putra satu-satunya ini. Kecewa entah untuk ke berapa kalinya.
Dengan langkah ragu dan pelan, aku mulai berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangan Mama. Dan terus berjalan sampai ke kantorku sendiri. Mengambil tas dan juga kunci mobil lalu kembali berderap melangkah semakin cepat menuju parkiran mobil. Setelah sepuluh menit, roda mobil sport ku pun akhirnya keluar ke jalan dan melindas panasnya aspal.
Sedikit tergesa aku melajukan mobilku. Bahkan beberapa kali aku menerabas lampu merah. Aku sudah nggak terlalu peduli jika nanti dihentikan oleh polisi. Jika ada polisi yang mengejar, aku tinggal menambah kecepatanku.
Gila?
Ya. Aku memang sudah gila. Aku bahkan nggak sadar bagaimana aku bisa segila ini hanya karena ingin bertemu dengan Yani. Aku bahkan nggak tahu kenapa aku bisa senekat ini hanya ingin melihat wajah istri cantikku, Yani. Aku memang sudah gila, nggak waras, s***p, gendeng, terserah bagaimana kalian menganggapku seperti apa.
Aku hanya ingin segera bertemu dengan Yani. Yaniku. Istriku.
Ketika sampai di perempatan jalan, lampu lalu lintas sudah berubah kuning dan sebentar lagi pasti akan beganti merah. aku semakin ngebut gila. Spido mobilku sampai seratus dua puluh. Sedikit lagi, sedikit lagi sedikit lagi, dan ...
Yeeessss ....!
Aku berhasil melewati lampu kuning dan berhasil melewati lampu merah dengan mulus. Lalu ...
Tin tin tin
Tin tin tin tin
Tin tin tin tin tin
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnn ....!
Brak!
Dan sebelum pikiranku kosong hanya satu nama yang kusebut.
Yani.