Setelah seharian aku mencari keberadaan Yani tapi tidak bisa menemukannya, aku pun putus asa. Entah ke mana gadisku itu pergi. Seluruh rumah sakit aku cari tapi sama sekali nggak bisa meemukan jejaknya di mana pun. Mau tanya ke teman-teman perawatnya tapi entah kenapa aku masih begitu berat. Bagiamana jika mereka bertanya kenapa aku mencarinya, padahal selama ini aku terlihat tidak dengannya. Aku masih belum sanggup untuk mengatakan kebanran tentang hubungan kami. Aku ...
Aarrrggggghhh ...!
Sebenarnya apa sih yang aku lakukan ini? Aku kan nggak mencintainya, lalu kenapa kau begitu bingung dan sangat takut jika dia salah paham tentang pelukan dengan Inez itu. Toh nanti dia juga pasti akan balik ke apartemen sepulang kerja dan aku bisa menjelaskannya ketika kita sudah pulang nanti.
Baiklah. Sebaiknya aku beli bunga dan juga kue untuk Yani nanti. Atau aku ajak dinner aja nanti malam sepulang kerja?
Sepertinya pilihan kedua lebih tepat.
Oke. Sekarang mari kita pesan tempat dulu di restoran kesukaanku.
Kuambil handphone ku, mencari nomer pemilik restoran sea food langgananku. Memesan satu tempat VIP unruk acara dinner dengan istriku yang cantik jelita. Hihihi. Membayangakannya saja rasanya aku sudah senang banget.
Memesan tempat dinner, done. Sekarang tinggal ngirim pesan ke Yani kalau nanti malam aku ajak dinner ke restoran.
Eh ... tungu ,,, tunggu dulu!
Apa aku kasih surprise saja. Aku ajak dia ke salon lalu baru ke restoran..
Arrgghhhh ... Arieeelll ... kamu memang jenius! Aku tertawa sendiri dengan pemikiranku yang briliant. Rencanaku untuk minta maaf dan menjelaskan sepertinya sudah sempurna.
Tok. Tok. Tok.
Pintu kantorku di ketuk.
"Ya. Masuk!"
Dokter Nilam? Aku menatap wanita yang masuk ke ruangan kantorku dengan aneh. Tumben-tumbenan Dokter Nilam ke sini. Biasanya kami selalu bertemu berpapasan saja. Atau kadang aku yang ke ruang prakteknya, hanya sekedar mengajak makan bersama atau mengajaknya mengobrol saja. Walau dalam tanda kutip mengobrol sambil merayu.
Kalau Dokter Nilam ke sini, mengunjungi ruanganku, ya baru kali ini sih. Agak kaget juga aku.
Kulihat dengan perlahan dan anggun, Dokter Nilam mendekat pada mejaku. Aku pun berdiri dan berjalan memutari meja kerjaku, mendekat padanya.
"Dokter, ada apa? Tumben ke sini?" tanyaku masih merasa aneh.
"Apakah aku mengganggu?" tanyanya merasa nggak enak.
"Nggak. Tentu saja nggak."
"Tapi sepertinya Dokter Ariel nggak terlalu suka aku datang ke sini."
Aku memaksakan senyum manisnya. "Maaf, bukan maksudku nggak suka Dokter Nilam ke sini. Aku cuma sekedar kaget saja tadi. Nggak biasanya Dokter mengunjungiku ke ruanganku.
"Ah ... itu." Dokter Nilam seakan ragu ingin bicara. "Tadi ... katanya ..."
"Ya?"
"Tadi ... katanya, kamu Dokter Ariel cari aku?"
"Oh itu," Aku garuk-garuk kepala yang nggak gatal. agak susah juga sebenarnya untuk jelasinnya. Padahal kan tadi maksudku itu mau nyari Yani. Tapi kalau aku bilang yang sebenarnya, aku takut juga nanti Dokter Nilam tersinggung. Secara kan selama ini aku gencar deketin dia. Kalau aku tiba-tiba bilang, aku ke tempat prakteknya untuk nyari Yani, gimana nanti reaksinya? Pasti sangat kecewa.
"Tadi aku mau nawarin Dokter makan siang bersama, tapi Dokter tidak ada." Bohongku. "Jadi aku kembali ke sini."
"Oh ya? Sepertinya aku terlalu GR." Dokter Nilam menunduk malu-malu.
"GR?"
"Ya. Kata beberapa perawat tadi katanya Dokter Ariel sibuk mencariku sampai ke seluruh rumah sakit. Makanya aku datang ke sini tadi. Aku nggak ingin mengecewakan Dokter."
Siiaaaallll. Ternyata kebingunganku tadi diartikan berbeda sama anak-anak perawat lain. Dasaaarrr!
"I-itu ... aku ..."
"Apakah aku salah paham?"
"Eh?"
"Apakah tadi Dokter Ariel bukannya mencariku tapi mencari orang lain?"
"Ti-tidak. A-aku mencari Dokter Nilam kok."
Mampus aku sekarang. Kenapa aku malah berbohong lagi? Sok-sok an mencari Dokter Nilam lagi? Pasti kesalah pahaman ini semakin membesar. Dokter Nilam pasti sekarang menaruh harapan padaku. Tapi bukanlah ini yang selama ini aku inginkan. Dokter Nilam tertarik padaku. Tapi kenapa, setelah Dokter Nilam tertarik padaku, aku nggak merasa senang. Kenapa aku malah jadi ngerasa nggak enak gini.
"Benarkah?" Mata Dokter Nilam berbinar. Kentara sekali kalau dia sangat-sangat senang dengan jawabanku
Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku jadi makin nggak enak gini?
"Jadi sebagai penebus kesalahanku yang tadi tidak ada ketika Dokter Ariel mencariku, bisakah aku mengajak Dokter nanti malam dinner?" pintanya penuh harap. "Kakakku membuka sebuah restoran baru. Restoran khas masakan Jawa. Walau pun masakan khas Jawa tapi di sana semua makanannya di jamin mewah."
Dooeeenggg!
Dinner?
Di restoran kakaknya?
Mateng aku!
Gimana ini?
Jika sampai aku datang dengan Dokter Nilam di restoran Kakaknya, tentu saja itu jadi sebuah tanda bagi keluarga Dokter Nilam kalau aku mendekati Dokter Nilam dan Dokter gigi yang manis ini sudah memberikan lamu hijau nya padaku. Setelah sekian lama pendekatanku pada Dokter cantik dan kalem ini, akhirnya dia mau menerima kehadiranku. Tapi kok rasanya jadi aneh kayak gini. Pikiranku nggak bisa lepas dari Yani walau aku bersama dengan Dokter Nilam, dan rasanya, lampu hijau ini terasa jadi lampu peringatan bagiku.
"Di restoran Kakak juga ada koki yang sangat terkenal. Masakannya sudah bisa dijamin rasanya dan kelezatan di setiap racikan bumbunya begitu terasa berbeda di lidah. " Tambah Dokter Nilam untuk semakin meyakinkanku.
Aku tahu Dokter Nilam melakukan itu karena melihatku diam dan tak kunjung menerima ajakannya. Tapi bukan karena itu aku ragu untk mengiyakan permintaan Dokter Nilam. Tapi. Yani. Yaniku. Aku sudah berencana ingin mengajak istriku yang ngambek itu untuk dinner dan minta padanya. Serta menjelaskan kesalahpahaman pelukan tadi dengan Inez tadi. Tapi bagaimana dengan Dokter Nilam?
"Begini, Dokter. Sebenarnya aku ..."
Tok tok tok!
Pintu ruanganku kembali di ketuk.
Siapa ya?
Tumben-tumben nan ada aja yang datang ke kantorku.
Aku menatap Dokter Nilam lagi setelah tadi pandanganku teralih ke arah pintu sekejab. "Bentar ya, Dokter. Aku buka pintu dulu."
Dokter cantik dan menawan itu mengangguk dan tersenyum. "Baik. Silahkan, Dok!"
Aku berjalan perlahan menuju ke arah pintu. Membukanya dan melihat siapa yang datang.
"Bu Adisty?" Aku menatap wanita di depan pintu ruanganku sedikit terkejut. Bu Adisty ke ruanganku? Tumben? Biasanya orang kepercayaan Mama ini, setiap ada keperluan denganku selalu menelponku. Lalu kenapa tiba-tiba dia ke sini? "Ada apa, Bu?"
Bu Adisty sudah membuka mulutnya dan hampir berbicara, tapi dari arah belakang, tiba-tiba suara Dokter Nilam menghentikan kalimat yang hampir meluncur dari bibir sekretaris kesayangan Mama itu.
"Siapa, Dokter?" tanya Dokter Nilam.
Aku menoleh ke arah Dokter Nilam yang masih berada di dalam ruanganku. Dan ide cemerlang dalam sekejab timbul di pikiranku. Cara jitu agar aku bisa terhindar dari situasi ini. Cara terampuh agar bisa lepas dari ajakan dinner Dokter Nilam tanpa harus menolaknya.
"Ah ... ini. Ada Bu Adisty."
"Bu Adisty?" Terlihat Dokter Nilam berjalan mengikutiku ke arah pintu. Dan melihat siapa gerangan yang mencariku di tengah-tengah perbincanganku dengannya. "Oh ... Anda. Sekretaris Bu Direktur." Dokter Nilam sedikit kaget ketika melihat Bu adisty dan mengangguk padanya.
Bu Adisty pun membalas mengangguk pada Dokter Nilam.
"Maaf, Dokter. Sepertinya perbincangan kita tidak bisa berlanjut. Kata Bu Adisty ada sesuatu yang harus aku kerjakan bersama dengan beliau. Jadi aku harus segera pergi. Gimana?" Lagi-lagi aku berbohong. Bahkan dengan sangat lancar.
Yah, mau gimana lagi. Membuat kebohongan seperti itu juga adalah keahlianku. Bukan fuckboy namanya kalau nggak bisa mencari alasan untuk lepas dari sebuah masalah dengan perempuan. Dan itu adalah keuntungan terbesar jika menghadapi saat-saat seperti ini. Yah, apa mau dikata. Fuckboy berarti sama saja dengan ahli pembohong. Dan anehnya setiap wanita justru tergila-gila denga pria seperti itu. Seperti aku ini. Aneh kan?
Bu Adisty sendiri, hanya membelalakkan mata sebentar. Mungkin dia kaget karena dia aku pakai alasan untuk kabur dari Dokter Nilam.
"Ah ... begitu ya." Raut wajah Dokter Nilam kentara sekali kalau dia kecewa. "Baiklah. Nanti tolong hubungi aku ya kalau Dokter Ariel bisa datang ke dinner."
"Oke, siap Dok." Suaraku aku bikin seceria mungkin. Berpura-pura kalau aku juga menantikan ajakan dinnernya.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu ya."
Aku hanya mengangguk.
Dokter Nilam juga berpamitan pada Bu Adisty, dan sekretaris Mama yang memang terkenal irit bicara ini, juga hanya mengangguk. Sama sepertiku.
"Jadi ... ada apa?" tanyaku ketika Dokter Nilam sudah pergi. Mungkin kembali ke ruangannya.
Bu Adisty bukannya langsung menjawabku, tapi malah mengamatiku dengan lekat. Seakan sedang mencari sesuatu yang hilang atau tersembunyi.
Kenapa? Ada apa? Apa ada yang salah dengan wajahku?
Aku sampai mengerutkan Alis melihat Bu Adisty begitu mengamtiku dengan sangat seksama. "Bu ..." tegurku. "Ada apa?" Aku mulai nggak nyaman dengan perlakuan wanita yang sudah aku kenal sejak aku masih sangat kecil ini.
Terlihat Bu Adisty tersenyum walau samar. "Ayo ikut aku!" wanita setengah baya itu langsung berbalik dan pergi begitu saja setelah mengatakan titahnya. Tanpa mengatakan alasannya kenapa aku harus mengikuti apa yang dia perintahkan
Isssshhh dasar wanita irit bicara. Apa salahnya sih mengatakan tujuannya mencariku. Bukannya main tinggal begitu saja setelah memintaku untuk mengikutinya. Gerutuku tak berhenti.
Tapi pada akhirnya aku tetap mengikutinya juga. dan aku sedikit merasa kurang nyaman ketika langkah Bu Adisty menuju ke ruangan Direktur. Ruangan Mama.
Ada apa ya? Kenapa Mama memanggilku? Apakah sesuatu yang serius?
Pembaca, apa ada yang tahu?