Aku mencari Yani di seluruh rumah sakit. Dari sejak dia pergi meninggalkanku, aku terus mencarinya. Di tempat biasanya para perawat magang berkumpul, di kantin, di taman bawah rumah sakit, di taman atas, bahkan aku sampai mencari di tempat praktek dokter Nilam karena dia masih ditugaskan untuk membantu dokter gigi itu. Tapi di sana pun juga tidak ada. Bahkan Dokter Nilam pun juga nggak ada di tempat prakteknya.
Yan ... kamu ke mana? Di mana kamu? Jangan menghilang kayak gini dong! Di mana kamu Yani?
Aku masih saja terus mencari istriku ini seperti orang gila. Berlari ke sana kemari dengan terburu-buru.
Sekilas, ketika aku berlari di lobi dekat UGD, aku melihat Dafa sepertinya baru melintas. Dengan cepat, aku segera menyusulnya dan meraih tangan cowok itu, menariknya paksa menuju gudang tempat penyimpanan selimut yang tak jauh dari tempatku.
"Hei ...!" protesnya ketika aku mendorong tubuhnya masuk ke gudang. "Apa maksudmu ini?"
Aku menatap tajam pada cowok yang misterius ini. "Siapa kamu?"
"Kukira kamu akan bertanya di mana yani. Ternyata kamu lebih penasaran padaku dari pada khawatir keberadaan istrimu."
"Yani?" kataku kaget.
"Kamu kira aku nggak tahu panggilannya selain Riri? Beberapa orang yang dekat dengannya memanggilnya Yani. Aku tahu itu.'' Dafa berjalan satu langkah mendekat padaku. "Jadi apa kamu masih penasaran denganku? Nggak mau mencari isrimu dulu?"
"Tidak usah mengajariku. Aku tahu apa yang aku lakukan. Cepat katakan siapa kamu?" todongku lagi. "Aku sudah menyuruh seseorang untuk menyelidikimu, tapi informasi tentangmu sangat minim dan aku yakin semua informasi itu hanya rekayasa."
"Apa yang kamu maksud, adalah informasi kalau aku adalah anak dari penjual roti?"
"Ya."
"Kenapa kamu bisa mengatakan kalau informasi itu adalah rekayasa?"
"Karena tidak mungkin, seorang anak dari penjual roti biasa, walau bahkan toko roti itu adalah toko roti yang besar, pulang kerja dari rumah sakit di jemput oleh sopir pribadi dan diikuti satu mobil bodyguard yang isinya adalah empat orang. " jelasku.
Ya. Ketika aku melihat Dafa dijemput mobil di halte bus dulu, aku memang juga melihat satu mobil lagi yang mengikuti mobil yang dikendarai Dafa. Dan aku yakin, mobil itu ada empat orang bodyguard di dalamnya.
Dafa masih bersikap santai dan tenang. "Ah ... ternyata aku ketahuan juga ya."
Aku masih diam, menantikan kelanjutan kejelasan Dafa selanjutnya.
"Apa kamu benar-benar penasaran denganku?"
"Ya." jawabku mantap.
"Kenapa?"
"Agar aku punya persiapan jika harus melawanmu." jawabku penuh keyakinan. "Aku tahu kamu tertarik pada istriku dan aku tahu kamu bukanlah laki-laki biasa. Jadi aku perlu tahu siapa lawanku sebelum mulai berperang."
Terdengar Dafa tertawa keras mendengar alasanku. "Ya. Aku memang tertarik pada istrimu dan aku memang bukan laki-laki biasa. Aku akui penilaianmu padaku memang benar." Dafa terdiam sebentar, menatapku dengan serius. "Jika kamu tahu siapa aku sebenarnya, kamu pasti akan kaget."
Aku masih diam. Tak menanggapi perkataan Dafa sama sekali.
"Jika aku mau, bisa saja aku langsung membawa Yani pergi dari sini, pergi dari sisimu dan membuat Yani meninggalkan panti asuhan juga. Tapi aku nggak melakukan itu. Aku masih ingin memiliki gadis itu seperti layaknya pria biasa yang ingin memiliki gadis yang di sukainya.''
Dari sini aku semakin yakin kalau cowok ini bukan hanya cowok yang tidak biasa tapi sepertinya dia juga bisa saja berbahaya. "Aku memang nggak tahu apa yang sudah terjadi antara kamu dan Yani. Tapi apa kamu nggak mencoba berpikir lagi tentang perasaanmu pada gadis itu? Apa kamu benar-benar menyukai Yani? Bukannya kamu hanya penasaran dengannya?"
Dafa terkekeh, cowok itu seakan malah menganggap lucu pertanyaanku. "Apakah kita berbeda, Pak Dokter?" Pertanyaan yang lagi-lagi terasa menusuk. "Apa kamu kamu merasa, karena kamu adalah suaminya, apakah kamu mencintainya dengan tulus? Bukannya kamu juga hanya tertarik padanya karena dia tidak terpesona padamu seperti gadis kebanyakan? Bukankah seperti itu?"
Aku terdiam, nggak bisa menjawab. Karena yang dikatakannya memang benar. Aku masih belum bisa mencintai Yani.
"Sepertinya tebakanku benar." Cowok itu kembali terkekeh. "Aku kira, sepertinya aku masih mempunyai banyak kesempatan untuk mendekati Yani."
"Jangan bermimpi. Aku nggak akan membiarkanmu mendekati Yani."
"Apakah kamu bisa?'' tantang bocah sialan itu. "Apa kamu bisa menghalangiku Pak Dokter?" Sekarang kalimatnya terdengar congkak. "Bahkan, walau dengan bantuan Mamamu, aku tidak yakin kamu bisa melawanku."
Mataku menyipit, menatapnya dengan hati yang gondok. Siapa sebenarnya bocah ini. Dia nggak mungkin sembarangan ngomong jika dia nggak mempunyai kekuasaan yang nyata. dan itu sedikit membuatku kehilangan kesabaran.
"Cepat katakan siapa kamu? Dan kenapa kamu mendekati Yaniku?"
"Yanimu? Apa aku tidak salah dengar?" Kini nada Dafa mulai terdengar serius dan agak seram. "Kamu, yang menelantarkannya selama empat tahun, dan baru bersamanya cuma beberapa minggu saja, sudah berani memanggil Yani dengan Yaniku? Apa aku nggak salah dengar?"
"Tidak. Kanu tidak salah dengar. Dia memang Yaniku. Istriku."
"Jadi jika dia istrimu, milikmu, kamu bisa seenaknya memperlakukannya?"
"Tidak." jawabku. "Mulai saat ini aku akan memperlakukan Yani dengan sebaik mungkin. Aku akan memperlakukannya sepantasmya sebagai seorang istri."
"Apa kamu bisa mengakuinya sebagai istrimu di rumah sakit ini?"
Lagi-lagi, pertanyaan Dafa ini sedikit mencubit hatiku. Seakan mengejekku karena telah menyembunyikan istriku sendiri dari orang-orang di sekitarku.
"Kenapa? Nggak bisa?" tanyanya lagi. Dengan nada lebih menusuk. Bocah itu lalu berjalan perlahan mendekat padaku lalu berhenti ketika tepat di sampingku. Menepuk pundakku dua kali. "Aku sarankan Dokter Jenius, sebaiknya kamu menurunkan gengsimu sebagai cowok yang terkenal fuckboy. Kalau nggak jangan salahkan aku jika aku berhasil merebut Yani darimu. Jika aku berhasil itu bukan salah Yani atau pun aku. Tapi itu adalah salahmu sendiri. Dan jika aku mau, kapan pun, aku bisa mengambil yani darimu. Camkan itu.""
Setelah mengatakan itu da menepuk kembali pundakku, Dafa melanjutkan jalannya hingga keluar dari gudang.
Tinggal aku sendirian di gudang dengan nasehat dan ancaman Dafa yang terus terngiang di telingaku. Aku sendiri nggak bisa memungkiri kalau yang dikatakan Dafa memang ada benarnya. Jika aku nggak bisa mempertahankan Yani di sisiku, cepat atau lambat, aku pasti akan kehilangan dia. Entah itu Dafa yang membawanya atau Dewa yang akan menarik Yani ke dekatnya. Salah satu dari mereka pasti melakukannya.
Cuma kalau Dafa, cowok itu masih sangat misterius dan sedikit menakutkan. Aku sama sekali nggak tahu tentang informasinya. Cuma cowok itu mempunyai aura yang berbeda dari semua orang yang pernah aku temui. Cowok itu, walau masih muda, dia sudah mempunyai aura yang bisa menekan lawannya. Dia seakan mempunyai kekuatan yang bisa meluluh lantakkan lawannya.
Sebenarnya siapa dia? Siapa cowok misterius itu?