"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yani. Mungkin dia merasa nggak nyaman karena aku selalu menatapnya dengan penuh berbina-binar.
"Nggak. Nggak kenapa kenapa kok." Elakku, Padahal memang ada apa-apanya.
Sejak pulang dari rumah Mama kemarin sore, aku memang terus menerus memandang istriku ini penuh kekaguman. Aku nggak nyangka, ternyata kisa yang di ceritakan Mama padaku kemarin malam sangat berpengaruh pada psikisku. Psikis bahagiaku.
"Kalau nggak ada apa-apa, jangan menatapku dengan menusuk seperti itu. Kamu mau membuat wajahku berlubang karena tatapan tajammu itu." Dan Yani masih sama seperti dahulu. Masih mempertahankan sifat dinginnya untukku.
Aku hanya tersenyum mendengar omelannya tapi nggak aku turuti, karena masih ada sisa sisa kagum dari diriku terhadap gadis ini. Bagaimana tubuh mungilnya itu bertahan dengan kerasnya kehidupan. Bagaimana gadis yang masih muda ini begitu bijak dalam setiap mengambil keputusan dan begitu memegang teguh setiap keputusannya itu.
Aku, yang lebih tua darinya empat tahun saja, merasa malu. Bagaimana aku yang lebih tua ini malah semakin b******k dan tidak terampil.
Ah ... sepertinya aku perlu belajar dari Yani tentang hidup.
Kuperhatikan, pagi ini Yani sepertinya nggak nafsu makan. Nasi goreng yang dibuatnya tadi, hanya sedikit yang di makan, dari tadi gadis ini terlihat kebanyakan hanya mengaduk-aduk makanannya saja dan jarang memasukkannya ke dalam mulut.
"Kamu sakit?" tanyaku khawatir.
"Nggak."
"Kok sarapannya cuma di aduk-aduk kayak gitu?"
Yani tak langsung menjawab, istri ku ini malah mengangkat wajahnya dari piring dan menatapku. Dari matanya terlihat sekali kalau ragu untuk menjawab pertanyaanku.
"Kenapa? Apa ada yang terasa nggak nyaman?" tanyaku lagi agak khawatir.
"Ini ... "
"Kenapa? Nggak selera dengan makanannya?"
"Bukan begitu. Hanya permasalahan wanita aja." Jawabnya sambil menunduk kembali. Dan mengaduk-aduk lagi makanannya dengan malu-malu.
Permasalahan wanita? Apa maksudnya?
Triiinggg ...
Satu pemahaman masuk ke dalam oatakku.
Oh ya, dia kan lagi datang bulan. Mungkin perutnya terasa nggak enak hingga dia berpengaruh pada selera makannya juga. Katanya sih, kalau cewek lagi datang bulan, ada beberapa kondisi yang merubahnya juga. Dari segi emosi, hormon dan juga nafsu makan, katanya sih gitu.
Tak lama kemudian, Yani beranjak dari kursinya dan berdiri sambil membawa piring sarapannya. Mungkin mau membuang sisa makanannya yang malas dia makan.
Nggak boleh! Gadisku, istriku, nggak boleh jika terlalu sedikit makannya. Aku harus melakukan sesuatu.
Jadi yang aku lakukan adalah, ketika Yani akan berjalan ke wastafel tempat cuci piring dan melewati tempat dudukku, aku segera meraih pinggangnya dan mendudukakan kembali dia. Tapi bukan di kursi, melainkan di pangkuanku.
"Hei ... apa yang ka-"
Cup. Aku langsung mengecupnya untuk membungkam protesan yang hampir keluar dari bibir cantiknya ini. Dan ... berhasil.
Tak peduli akan kekagetannya pada tindakanku, aku langsung mengambil piring yang masih berada di tangannya dan meletakkannya di meja makan. Menyendokkannya kembali lalu menyuapi Yani secara perlahan. "Makan yang banyak. Kamu sudah kurus, masak mau lebih kurus lagi. Aku suka kamu yang seksi kayak gini. Jadi jaga pola makannya. Oke?"
Yani tak menjawab. Gadis itu hanya menerima suapanku dan mengunyahnya dengan setengah sadar. Mungkin karena dia masih terkejut dengan tindakanku yang nggak terduga ini. Tapi aku sangat suka reaksinya ini. Imut banget. Hihihi.
Dan aku terus saja menyuapinya hingga nasi dalam piringnya habis tanpa sisa. "Nah, kalau gini kan pinter. Makan banyak, nasi habis dan tubuh sehat serta tetap seksi." pujiku walau aku selingi dengan godaan juga. "Sekarang kamu boleh bawa piringnya ke wastafel. Sekalian sama piringku juga ya."
Yani pun beranjak dari pangukan dan berdiri. Menunduk, mengambilnya piringnya dan piringku. Tapi setelah menumpuk dua piring menjadi satu, Yani nggak langsung kembali berdiri tegak. Tubuhnya malah bergeser dan makin mendekat padaku yang masih duduk di kkurasi makan. Mendekatkan wajahnya pada wajahku, hingga sanggup membuatku sampai menahan napas. Dan ke atas menuju ke kepalaku. Dan ...
Cup!
Yani mengecup keningku sekilas dan langsung menariknya lagi. "Terima kasih." Katanya setelah berhasil membuat jantungku seakan melompat.
Lalu kemudian gadis itu kembali menerusakn gerakannya yang sempat tertunda karena mengecupku tadi. Yani menegakkan tubuhnya, berdiri, lalu berbalik dan berjalan ke arajh tempat cuci piring.
Aku yang masih ngebleng dengan ciumannya belum bisa bereaksi.
Tapi di detil berikutnya, aku pun mulai sadar.
Aku berdiri, dan mendekat pada Yani yang masih mencucui piring. Memeluknya dari belakang.
"Hei ..." protesnya
"Jika seperti ini apakah aku akan mendapat ciuman susulan?" Dan protes itupun langsung terhenti dengan pertanyaanku.
"Tidak." Jawab Yani kembali dengan mode ketusnya.
Tapi aku nggak akan menyerah. "Ciuman pipi?"
"Tidak."
"Kalau ciuman hidung?"
"Nggak bakalan."
"Kalau ciuman dagu?"
"Ogah."
"Kalau kecupan bibir?"
"Arieeeellll ..."
dan aku tertawa karena istriku begitu sibuk marah dengan tingkah jahilku.
***
Hari pertama masuk kerja sepulang bulan madu.
Aku selalu tersenyum sepanjang jalan menuju ruangan kantorku. Aku menyapa setiap orang berpapasan denganku. Entah itu satpam resepsionis, perawat, dokter bahkan OB sekalipun. Hatiku sekarang sedang berbunga-bunga, riang gembira, dan penuh rasa bahagia.
Aku nggak tahu, kalau mengetahui betapa keras perjuangan hidup Yani dalam mengarungi kehidupannya sekaligus masih berusaha setia padaku bisa membuat hatiku seringan ini. Aku nggak menyangka ternyata gadis yang awalnya tak aku hiraukan, bisa berpengaruh besar dalam suasana hatiku. Aku benar-benar takjub dengan eksistensi Yani yang masuk ke dalam hidup. Ternyata gadis itu sudah masuk ke dalam salah satu bagian terpenting dalam hidupku. Yang bisa membuatku selalu tersenyum seperti ini. Apalagi jika mengingat kejadian sarapan tadi pagi. Benar-benar mmebuatku berdebar kayak remaja saja. Hahahahs.
Tapi satu orang, yang ketika aku bertemu dengannya, walau dalam keadaan sebahagia ini, aku tetap nggak bisa tersenyum padanya.
"Arieeeelll ...!"
Mampus aku, kenapa malah ketemu Nayi Ronggeng ini sih.
Inez berjalan cepat ke arahku dengan senyum lebarnya. Gadis itu dengan penuh semangat melangkah mendekatiku dan langsung menubrukku, mendekapku dengan erat.
"Nez, lepasin! Ini kan di rumah sakit." tegurku, Ini masih di lobi dan masih banyak orang yang berlalu lalang. Mereka semua memperhatikan kami. atau lebih tepatnya memperhatikan Inez yang begitu lengket pada tubuhku.
"Memangnya kenapa? Dulu kan kita sering seperti ini tanpa memperdulikan penilaian orang lain."
"Itu kan dulu. Beda sama sekarang."
"Apa bedanya?" Gadis yang wajahnya ada di dadaku ini, mendongak, menatapku dari bawah. "Dari dulu hingga sekarang aku masih mencintaimu."
Sial. Kenapa harus posisi kayak gini sih. Posisi ini seakan menggambarkan kami seperti sepasang kekasih yang begitu mencintai. Ingin banget aku melepaskan pelukan gadis ini secara paksa, tapi tak aku lakukan. Karena aku masih punya hati untuk tidak mempermalukan gadis ini.
"Bukan itu. Dulu kan kita pacaran, jadi wajar jika pelukan. Tapi kan sekarang tidak. Kita malah akan terlihat aneh jika begini."
"Siapa yang peduli. Nggak akan ada yang peduli apa yang kamu lakukan. Atau lebih tepatnya, nggak akan ada yang peduli dan nggak akan ada orang di rumah sakit ini yang berani membicarakan tentangmu. Jadi ini bukanlah masalah yang serius."
Ini lah. Ini lah salah satu yang membuatku segera ingin putus dengan Inez dulu ketika kami berpacaran. Gadis ini begitu sok, begitu merasa berkuasa dan sangat bosy. Dan aku paling nggak suka itu.
"Inez. Lepas!" Aku benar-benar mulai nggak nyaman. Lama-lama gadis ini jika dibiarkan akan terus ngelunjak.
"Nggak mau." Rajuknya sok manja dan semakin memperkuat pelukan.
Anjiiirrr ... dikiranya aku ini sedang main-main apa.
Ketika aku mencoba memegang bahu Inez untuk mendorong tubuhnya agar lepas dariku, tiba-tiba saja Yani muncul dari ujung koridor bersama Dafa dan melihat kami. Posisiku, jika dilihat dari tempat Yani, terlihat seperti Inez memelukku dengan erat dan aku akan membalas pelukan itu.
Siiiaaalll ... dasar b******k! Kenapa kami harus bertemu dalam kondisi seperti ini sih? Kenapa ketika gadis sialan ini mendekapku begini. Dasar Mak Rempong bikin susah aja.
Kulihat mata Yani melebar menatapku dalam keadaan seperti ini. Gadis itu pasti kaget dan salah paham.
Damn it ...! Kenapa harus sekarang sih? Di mana ketika pagi tadi kami baru saja bersikap manis dan romantis. Kenapa harus sekarang?
Tak ingin Yani semakin salah paham, aku pun memutuskan kontak mata kami untuk mencoba lebih keras melepaskan pelukan Inez. Tapi yang malah menyakitkan adalah, belum sampai aku memutuskan kontak mata. Aku sempat melihat gadisku malah meraih tangan Dafa dan menarik cowok itu menjauh dari tempatku berada. Tepat di depan mataku. Apalagi ketika itu terjadi, Dafa malah tersenyum padaku. Senyum miring yang meledek tapi juga senyum kepuasan. Dia pasti senang banget Yani membelanya. Dan itu sangat sangat membuatku marah dan emosi.
Siiaaaalllll ...
Breeengseeekkkkk ..
Bajingaaaaaannnnnnn ...