Krieet ..!
Aku membuka pintu kamarku dengan perlahan. Karena aku yakin, penghuni kamar baruku ini sepertinya sudah terlelap. Dan tebakanku benar. Yani tampak sudah meringkuk tidur di ranjang kebesaranku. Gadis terlihat sangat terlelap. Bahkan, ketika aku naik ke ranjang dan membuat ranjangnya sedikit bergoyang, Yani sama sekali tidak terusik. Gadis ini masih terlelap dengan tenangnya.
Merasa aman aku pun masuk ke dalam selimut yang di pakainya dan ikut meringkuk di samping gadis yang sepertinya kecapekan itu. Melihat wajah lelahnya, hatiku rasanya semakin tersentuh. Dan ketika aku baru ingat kalau dia belum makan malam, aku merutuki kelalaianku yang begitu ceroboh membiarkan gadis kurus ini tidur dalam keadaan lapar.
Salahku juga memang, tadi aku ngobrol dengan Mama sampai lupa waktu. Tak terasa kami ngobrol sampai lewat tengah malam, bahkan sampai hampir jam satu dini hari. Ada banyak hal yang kami obrolkan. Awal mulanya tentang Dewa, rumah sakit, Inez dan yang terakhir tentang Yani. Dan waktu yang paling lama untuk kami mengobrol adalah ketika kami membahas tentang Yani. Istriku yang tanpa sengaja aku nikahi.
"Aku merasa bersalah pada Yani." Ucap Mama ketika kami memulai obrolan tentang Yani tadi. Dan sebelum itu, Mama sudah bilang kalau dari awal, Mama sudah tahu tentang keberadaan Yani. Mama bercerita, Bu Adisty langsung membawa Yani menghadap Mama begitu sekretaris tangan kanan Mama itu membawa Yani ke kota
Yah, aku mengerti kenapa Mama merasa bersalah pada gadis itu. Karena yang membuat gadis yatim piatu itu menderita adalah putranya sendiri, yaitu aku. Dan sedikit banyak, Mama pasti ikutan menanggung rasa bersalah atas kelakuanku yang menelantarkannya.
"Awal mula ketika Adisty membawanya ke sini, aku sangat tidak menyukai gadis itu. Karena aku berfikir dia adalah salah satu gadis yang seperti Inez, yang nggak akan malu untuk menggodamu." aku Mama. "Dengan ekspresiku yang nggak suka padanya, yang sangat kentara, aku memberikan beberapa pilihan apartemen untuk tempatnya tinggal di sini. Dan memberikan kartu ATM untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi tanggapan Yani membuatku kaget dan sangat di luar dugaan." Mama berhenti sejenak. Matanya yang tadi sayu ketika mengenang pertemuan pertamanya dengan Yani kini berubah menjadi berbinar dan penuh kekaguman. "Gadis itu dengan penuh senyuman bertanya padaku, apakah dia boleh tinggal di panti asuhan yang aku kelola saja? dan ketika aku bertanya dari mana dia tahu, ternyata Adisty bercerita padanya kalau aku mempunyai panti asuhan yang aku kelola. Lalu aku tanya padanya. kenapa dia mau tinggal di panti asuhan? Dan gadis itu menjawab, karena dia adalah seorang yatim piatu. Jika dia hidup bersama anak yatim piatu lain, itu akan membuat dirinya tidak nampak terlalu menderita." Mama berhenti berhenti bercerita lagi. Mata yang awalnya bercerita penuh kekaguman tadi, kini ganti mengembun dan menyimpan air mata. Tangannya mengambil beberapa lembar tisu yang ada di dekatnya dan mengusap air matanya.
Aku yang tak tega, segera berdiri dan mengambil segelas air minum untuk Mamaku. Mamaku yang hatinya memang selalu hangat dan mudah bersimpati pada orang lain. Apa lagi jika orang itu berusaha kuat di atas penderitaannya. Seperti Yani kala itu.
Mama menerima air minum dariku dan meminumnya secara perlahan.
Aku segera menyambut gelas yang hampir kosong itu ketika Mama akan meletakkannya di meja.
Melihatku penuh perhatian padanya, Mama hanya tersenyum lembut.
"Lalu, apa yang terjadi pada Yani selanjutnya, Ma?"
"Akhirnya gadis itu benaran tinggal di panti asuhan. Bahkan kartu ATM yang aku berikan padanya pun dia tolak."
"Lho ... kenapa, Ma. Kalau tanpa kartu ATM gimana caranya dia beli kebutuhannya?" tanyaku agak kaget. Bagaimana gadis itu hidup tanpa uang? Apa dia sudah gila?
"Dia hanya minta aku agar berkenan menyekolahkannya ke jurusan perawat. Dan untuk kebutuhan sehari-harinya, katanya dia bisa kerja paruh waktu di berbagai tempat. Awalnya aku juga kaget, tapi aku juga penasaran. Bagaimana gadis ini akan menjalani hidupnya yang keras itu. Jadi aku membiarkan saja apa pun yang ingin dia lakukan." Mama menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya sekaligus menyandarkan kepalanya juga hingga wajahnya menengadah, menatap langit-langit. "Satu tahun. Satu tahun aku membiarkannya tanpa membantunya sedikit pun, dan dia nggak pernah mengeluh tentang kehidupannya. Gadis itu bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Aku hanya meng-kuliahkannya. Tak lebih dan tak kurang. Selain urusan kuliah, aku sama sekali nggak mau tahu tentang kebutuhannya yang lain. Dan aku memang sekejam itu padanya dulu. Tapi, suatu hari, kata Adisty, gadis itu tiba-tiba ingin bertemu denganmu. Walau Adisty bilang, bisa saja nanti Yani terluka jika menemuimu, gadis itu sama sekali nggak peduli. Aku nggak terlalu tahu apa yang dia pikirkan dan kenapa dia sangat ngotot ingin bertemu denganmu.Tapi waktu itu, aku sendiri nggak terlalu peduli dengan Yani. Tapi aku mengijinkan Adisty untuk membawanya menemuimu. Dan pada akhirnya, dia memang terluka. Terluka karena melihatmu menghianati pernikahan kalian. Dan, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat dia menangis meraung di depan gerbang, di temani Dewa yang kala itu mencarinya."
Mama kembali terdiam, menghembuskan nafas panjangnya. "Waktu itu, aku nggak berani menemui Yani. Aku malu. Karena, aku sadar. Bukan hanya kamu saja yang menyakiti gadis polos itu. Tapi aku juga ikut andil dalam menyakitinya. Apalagi ketika Bu Kepala Panti bercerita kalau Yani gagal bertemu dengan suaminya karena kesalahannya dan berharap bisa bertemu dengan suaminya lagi. Rasa bersalahku semakin besar pada gadis kecil itu. Dalam tangisnya itu aku juga ikut andil dalam menyakitinya. Tanpa sadar, aku seakan menyetujui keputusanmu meninggalkannya. Dan aku menyesal. Aku sangat menyesal sudah menyia-nyiakan gadis itu. Maka dari itu, aku mulai membantunya meringankan bebannya. Memintanya hanya fokus kuliah saja tanpa harus memikirkan kebutuhan lain. Tapi gadis itu pun juga keras kepala. Dia tetap nggak mau menerima bantuanku selain meng-kuliahkannya, secara cuma-cuma. Akhirnya, agar bisa membantunya lagi, aku menyuruh Yani untuk mengelola panti dan dia akan mendapat bayaran dari pengelolaan itu. Barulah Yani mau menerima uang yang aku berikan padanya selain kebutuhan kuliah."
Mendengar cerita Mama tadi, benar-benar membuatku berpikir, apa saja yang sudah di jalani gadis sekecil ini di dubia yang keras ini. Bagaimana badan semungil itu bisa menanggung bebannya sendiri dan anak-anak panti?
Ah ... aku akui, aku memanglah jahat. Tapi sungguh, aku baru sadar kalau aku ternyata sejahat ini pada wanita yang begitu setia padaku.
Kudekatkan tubuhku pada tubuh Yani yang masih terlelap. Memeluknya sangat erat. Dan sepertinya gadis ini benar-benar kecapekan. Aku peluk seerat ini pun dia nggak bangun.
Syukurlah ... cuma peluk pun tak apa. Untuk malam ini cuma peluka saja sudah membuatku merasa puas. Hatiku sekarang ini sedang di penuhi oleh kisah gadis ini. Dan kini aku pun ikut sadar, betapa berharganya istri yang usdah aku nikahi ini.
Setelah ini au berjanji. Apa pun yang terjadi aku akan menjagamu Yan. Aku akn melindungimu dan akan belajar mencintaimu seperti kamu mencintaiku. Kalau bisa aku akan lenih mencintaimu lagi. Semoga saja.