Setelah malam penuh penderitaan itu, aku memutuskan mengakhiri honeymoon kami dan kembali pulang. Ketika aku bertanya pada Yani pun dia juga setuju untuk segera kembali. Lagi pula, ngapain kami berlama-lama di sini jika Yani sedang datang bulan, nggak ada yang isa aku lakuin ke gadis itu jika dia dalam kondisi seperti itu. Toh, dia juga mendapatkan apa yang dia mau. Oleh-oleh untuk anak panti. Dan kami pun setuju untuk kembali keesokan paginya. Padahal liburan kami masih ada tiga hari lagi.
"Kok kalian sudah pulang?" tanya Mama ketika kami sudah pulang. Memang sih, sekeluar kami dari bandara, kami memang langsung menuju ke rumah Mama lebih dulu. Itu adalah permintaan Yani. Yani berkata, ingin memberikan oleh-olehnya. Dan dia ingin Mama lah yang pertama mendapatkan oleh-oleh itu.
"Maaf, Ma. Ini semua salah Yani." gadis itu memberi alasan.
Aku menatapnya kaget. Kok jadi salah dia? Kan aku yang ngajak pulang dulu.
"Kok kamu yang salah?' Tanya Mama sama herannya denganku.
Yani menunduk, menyembunyikan wajah merahnya yang menahan malu. "Yani datang bulan, Ma."
"Ah ... begitu rupanya." Mama memang berkata seperti itu tapi matanya melirikku dengan penuh ledekan. "Makanya dari tadi ada wajah yang tertekuk nggak puas. Jadi ini alasannya." Sindir Mama dengan senyum ejekannya padaku.
Siaaallll ... kenapa tadi aku nurutin Yani ke sini sih. Jadi bahan olok-olokan Mama kan aku akhirnya. Sesalku melihat wajah Mama yang seperti orang ingin tertawa saja. Tertawa di atas penderitaan anaknya.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat saja di sini. Kamu bisa menggunakan kamar Ariel untuk tiduran dulu."
Yani tak langsung menjawab tawaran Mama, gadis itu malah melirikku. meminta persetujuanku. Aku hanya mengangguk saja, mengijinkannya. Memang apa masalahnya jika dia tiduran di kamarku. Lagi pula dia kan istriku, jadi dia juga berhak untuk melihat kamarku yang ada di rumah Mama.
"Baiklah. Makasih, Ma. Yani istirahat dulu ya?" Setelah Mama mengangguk, Yani baru berjalan menuju kamarku. Dan aku mengikutinya.
"Ariel." aku yang di panggil Mama, tapi kami berdua sama-sama berhenti melangkah dan berbalik menatap Mama. "Setelah mengantar Yani, temui Mama di ruang kerja Mama. Ada yang perlu kita bicarakan."
"Baik, Ma." Usai menjawab, aku dan Yani kembali melangkah berjalan keluar dari ruang keluarga.
Aku memimpin jalan ke kamarku. Dan membukakan pintu untuk Yani, istriku.
"Kamu istirahat aja dulu. Nanti aku menyusul. Sepertinya Mama mau membahas tentang kerjaan." pesanku setelah gadisku ini masuk ke dalam kamar.
Dan Yani hanya mengangguk, menurut. Kemudian aku meninggalkan Yani sendiri di dalam kamarku karena aku harus menemui Mama di ruang kerjanya.
"Ada apa, Ma?" tanyaku ketika aku sudah berada di dalam ruangan kerja Mama. Tampak Mama duduk di kursi kebesarannya, di balik meja kerjanya yang besar.
"Bagaimana honeymoonmu?" tanya Mama.
aku tak langsung menjawab, alu malah berjalan perlahan di kursi sofa yang terdapat di ruangan ini. Baru kemudian aku memposisikan diriku menghadap Mama dan menjawab, "Baik. Semua berjalan normal seperti kebanyakan pasangan."
"Benarkah?" Mama bertanya meragukan jawabanku dan itu membuatku curiga.
"Dewa." kataku. "Apa Mama yang mengirimnya untuk menyusulku ke Maldives?"
Mama tak langsung menjawab, wanita tua tapi masih kuat dan bijaksana ini malah tersenyum seakan senang dengan pertanyaanku. "Ternyata kamu masih si cerdas putraku yang dulu. Bisa menebak dengan tepat."
"Tentulah. Siapa dulu dong. Ariel gitu." Sombongku.
"Lalu apa kamu tahu kenapa aku mengirim Dewa ke sana?"
Dan inilah yang aku pikirkan dari kemarin. Apa maksud Mama mengirim Dewa untuk menyusulku ke Maldives. "Apa untuk mengetes Yani dan aku?' tebakku ragu.
"Tentu saja tidak. Buat apa aku mengetes kalian hanya untuk itu. Kayak anak kecil aja." balas Mama cemberut. "Lagi pula, buat apa aku mengetes Yani. Gadis itu, tanpa aku tes pun sudah terbukti setia padamu. Seumpam aku ingin mengetes pu, tentu saja yang aku tes itu adalah dirimu sendiri. Kan kamu yang brengsek."
Kini ganti aku yang cemberut dengan kejujuran Mama. "Aku ini anak kandung Mama lho, anak Mama satu-satunya. Kok Mama tega ngatain aku b******k sih?" protesku.
"Memangnya kamu bukan?"
Siaalll ... kenapa Mama bertanya kayak gitu sih? Bikin orang nggak bisa jawab saja kalau itu memang benar.
"Walau pun kamu begitu, tapi Mama masih bersyukur karena dirimu sadar kalau kamu tuh b******k. Jadi ada harapan suatu saat nanti kamu akan bertobat dan memperbaiki dirimu. Tapi jika kamu sudah b******k dan tidak merasa begitu, itulah yang susah. Sudah nggak ada harapan untuk berubah."
Ya. Ucapan Mama memang benar. Walau pun aku blangsat, b******k, b******n sampai kayak gini, tapi anehnya aku selalu sadar jika aku salah dan harus merubah diri. Tapi kesenangan yang selama ini aku jalani membuatku malas meninggalkan kebrengsekan ini. Aku tetap menjalaninya walau nggak gitu menyukainya.
"Lalu buat apa Mama mengirim Dewa menyusulku?" tanyaku merubah topik.
Kamu tahu? Jika terlalu lama membicarakan tentang seberapa bajingannya diri sendiri itu, cuma bikin malu saja. Makanya aku mengajak Mama membahas pokok masalah terpenting di sini.
"Untuk mengakurkan kalian lagi lah." Jawab Mama. "Kalian kan dulu teman yang sangat akrab. Dan Dewa adalah teman yang sangat baik untukmu selama dalam pengawasanku. Lalu kenapa kalian harus berpisah hanya karena kesalah pahaman yang nggak berarti sama sekali."
Aku sedikit tersentak dengan alasan Mama yang mengirim Dewa. Sungguh, itu di luar nalarku jika Mama mempunyai pemikiran seperti itu. Tapi satu yang Mama nggak tahu. Alasan kenapa kami bisa berpisah dan tidak akur seperti dulu. Itu memang karena kesalahanku sendiri.
"Itu bukanlah kesalahpahaman, Ma. Memang benar aku lah yang menyebabkan kami bisa jadi seperti ini." Balasku menunduk.
"Benarkah?" Nada pertanyaan Mama yang sedikit memancing, membuatku menegakkan kepala lagi, menatap pahlawan wanitaku ini. "Tapi kenapa Dewa juga mengatakan hal yang sama padaku. Dewa bilang, kalau penyebab persahabatan kalian renggang itu adalah kesalahan Dewa sendiri. Dan kata Dewa, kamu hanyalah sosok yang ketika itu tidak dalam kondisi yang tepat di situasi yang tidak tepat pula. Dan yang membuat kamu dalam keadaan seperti itu adalah Dewa. Itu lah yang Dewa katakan pada Mama. Jadi mana yang benar?"
Aku tercengang. Dewa berkata seperti itu pada Mama. Dan katanya semua adalah salahnya sendiri. Dasar bocah bodoh!
Tapi ...
"Bagaimana Mama bisa tahu?'' Tanyaku heran tapi juga takjub secara bersamaan.
"Tentu saja aku bertanya pada Dewa sendiri. Ada apa dengan kalian. Kenapa usai mengemban tugas di pelosok negeri, Dewa nggak segera mendaftar menjadi dokter di rumah sakit kita, malah bekerja di klinik yang kecil. Itu adalah awal aku curiga dengan kalian, tentu saja setelah masalah Yani."
Ahhh ... Mama. Ternyata memang sekhawatir itu Mama dengan putra tunggalnya. Sampai-sampai beliau juga ikut andil dalam permasalahanku dan teman temanku.
"Makanya aku mengajak Dewa ketemuan dan menginterogasinya. Dan akhirnya aku tahu alaasan kalian berdua bisa sampai seperti ini. Karena kalian berdua tidak dapat mengekspresikan diri kalian dengan baik, lalu terjadilah kesalah pahaman ini." Mama berhenti sejenak, beliau tersenyum melihat ekspresi wajahku yang kaget tapi sekaligus lega. "Jadi bagaimana hasilnya dari usahaku? Apa kalian sudah akur?"
Aku membalas senyum Mama dengan penuh terima kasih. "Sudah, Ma. Kami sudah akur."
"Apa kamu nggak akan berterima kasih padaku b******n kecil?" cemberut Mama.
Dan aku tahu, Mama cemberut gitu hanya untuk membuat suasana nggak jadi canggung dan tetep santai. "Nggak. Buat apa aku bertrima kasih pada Mama. Aku kan nggak minta buat di akur kan."
"Dasar anak tak tahu diri. Kamu mau bikin Mamamu ini naik darah."
Aku pun tertawa. "Tenang aja, Ma. Anak Mama kan dokter hebat, kalau Mama sampai naik darah nanti akan aku turunin lagi."
"Dasar sombong kamu!"
Dan kami pun tertawa bersama.
Begitulah hubungan kami. Alih-alih seperti hubungan ibu dan anak, kami lebih seperti sahabat dengan umur yang terpaut sangat jauh.
Kami adalah ibu dan anak tapi serasa sahabat. Memang, Mamaku ini adalah wanita terhebat. Mamaku memang hebat.